Jakarta, Harian Umum - Wilayah utara Arab Saudi mulai memasuki salah satu fase musim dingin paling ekstrem seiring berakhirnya Desember 2025 dan datangnya Tahun Baru 2026.
Fenomena yang dikenal dengan sebutan “Al-Azeerq” atau blue cold ini menandai periode terdingin dalam musim dingin, bertepatan dengan puncak titik balik matahari musim dingin (winter solstice).
Pada fase ini, durasi malam mencapai titik terpanjang sepanjang tahun, sementara siang hari berlangsung sangat singkat.
Kondisi tersebut menyebabkan paparan sinar matahari menjadi minim, sehingga permukaan bumi sulit memperoleh kehangatan alami.
Anggota Afaq Society for Astronomy, Burgis Al-Fulaij, menjelaskan bahwa ekstremnya dingin Al-Azeerq dipicu oleh kombinasi faktor astronomi dan cuaca.
Selain pendeknya waktu siang dan panjangnya malam, angin utara turut berperan besar dengan membawa udara kering, mengurangi kelembapan, serta membuat langit lebih cerah—kondisi yang justru mempercepat pelepasan panas dari permukaan bumi.
“Al-Azeerq bukan sekadar penurunan suhu biasa, tetapi merupakan kondisi cuaca menyeluruh yang mencerminkan fase paling menantang dari musim dingin,” ujar Al-Fulaij dilansir dari Saudi Gazette.
Ia menekankan pentingnya peningkatan kewaspadaan dan langkah-langkah pencegahan, terutama bagi pekerja luar ruang, lansia, dan anak-anak.
Kesadaran terhadap risiko cuaca ekstrem dinilai krusial untuk menjaga keselamatan dan kesehatan selama periode dingin yang intens ini. Fenomena Al-Azeerq secara tradisional dikenal masyarakat sebagai penanda puncak musim dingin, sekaligus pengingat bahwa perlindungan diri dari cuaca ekstrem menjadi kebutuhan utama di penghujung tahun. (sumber: kompas.com)




