Jakarta, Harian Umum - Sempat menguat di awal pekan, nilai rupiah terhadap dolar kembali reli di zona merah hingga hari ini, Kamis (18/6/2026).
Kurs rupiah dibuka melemah tajam 93 poin atau 0,52% menurut Bloomberg, sehingga berada di Rp17.855/dolar AS setelah pada penutupan Rabu, rupiah ditutup melemah 28 poin atau 0,16% dan tergelincir ke Rp17.753/dolar AS.
Rupiah tidak melemah sendirian, karena sebagian besar mata uang utama di Asia juga mengalami hal serupa.
Ringgit Malaysia terkoreksi 0,02 poin atau 0,57% ke 4,0872/dolar AS; Peso Filipina terkoreksi 0,16 poin atau 0,27% ke posisi 60,5550/dolar AS; Won Korsel terdepresiasi 8,30 poin atau 0,55% ke 1.523,3/dolar AS; dan Yuan China relatif stabil karena hanya terkoreksi sangat tipis 0,02% ke 6,7625/dolar AS.
Dikutip dari Bisnis, Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi memproyeksikan mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif, tetapi berisiko ditutup melemah pada rentang Rp17.760 hingga Rp17.800/dolar AS pada perdagangan hari ini
Ibrahim memaparkan bahwa dari sentimen internal, perhatian pelaku pasar tertuju pada pengumuman hasil RDG Bank Indonesia pada 17–18 Juni 2026.
Di sisi lain, kekhawatiran pasar domestik terkait ketahanan energi di tengah konflik geopolitik global mulai mereda.
Indonesia dilaporkan tidak lagi bergantung pada impor minyak mentah dari kawasan Timur Tengah yang pengirimannya melalui Selat Hormuz.
Sementara itu, dari faktor eksternal, indeks dolar AS mendapatkan dukungan dari rincian nota kesepahaman (MoU) perdamaian sementara antara AS dan Iran yang mulai muncul ke publik. Kesepakatan tersebut mencakup perpanjangan gencatan senjata selama 60 hari dan pelonggaran blokade pelabuhan, yang memungkinkan Iran kembali mengekspor minyak melalui Selat Hormuz.
Di sisi lain, fokus pasar global tertuju pada pengumuman kebijakan moneter perdana The Fed di bawah kepemimpinan Ketua Kevin Warsh.
"Bank sentral secara luas diperkirakan mempertahankan suku bunga tidak berubah, tetapi investor akan mencermati proyeksi ekonomi terbaru dan dot plot untuk petunjuk jalur kebijakan di masa depan," kata Ibrahim. (man)







