Jakarta, Harian Umum - CEO Nusantara Centre, Yudhie Haryono, meyakini bahwa tidak ada upaya penggulingan terhadap Presiden Prabowo Subianto.
"Seandainya ada kelompok yang ingin dia jatuh, teorinya bukan dipaksa jatuh, melainkan mengundurkan diri," katanya di Depok, Jabar, kemarin.
Menurut analisa pria yang juga dikenal sebagai peneliti, penulis buku dan dosen di Universitas Indonesia (UI) ini, meski mantan Presiden Joko Widodo alias Jokowi dkk disebut-sebut sebagai pihak yang ingin menjatuhkan Prabowo, high call-nya juga bukan kudeta.
"Saya rasa, Pak Jokowi dan kawan-kawan (Geng Solo, red) high call-nya adalah merasa tua, capek dan mengundurkan diri untuk kemudian menyerahkan kekuasaan kepada mereka, bukan dikudeta. Mengapa? Karena kalau Prabowo diganti, leverage-nya tidak sebesar dia, dan itu berarti presiden yang mendapat kepercayaan publik saja berat, apalagi yang resistensinya tinggi (Gibran, red). Jadi, isu penggantian keras itu saya rasa hanya diomongkan orang yang tidak mendapatkan jabatan saja," kata dia.
Yudhie menduga, pintu masuk yang akan membuat Prabowo dipaksa mengundurkan diri adalah isu ekonomi dan kesehatan.
"Tapi sampai sekarang saya belum melihat adanya gerakan ke arah itu, karena tidak ada akarnya," kata dia.
Yudhie menyebut bahwa peristiwa 1965, 1975 dan 1998 dipicu oleh akar yang bersifat ideologis, karena kelompok liberal sekuler telah berhasil membuat kalangan middle class yang diwakili mahasiswa, tak lagi punya ideologis, sehingga sekalipun ada gerakan dari mahasiswa, gerakannya harian karena ada "nasi bungkus".
"Kalau tahun 1998 misalnya, mahasiswa bisa berdemo hingga berhari-hari karena punya ideologi. Kalau sekarang, biaya yang dikeluarkan bisa 100 kali lipat dari 1998," katanya.
Ketika disinggung soal oligarki yang dananya unlimited, Yudhie mengatakan bahwa oligarki pun akan berhitung untuk membiayai penjatuhan Prabowo
"Oligarki pasti akan berhitung, jika dana yang dikeluarkan harus 100 kali lipat dari 1998, tetapi tidak ada benefitnya, ya oligarki juga tidak mau," katanya.
Karena hal itu pula, menurut Yudhie, Jokowi saat ini lebih memilih untuk berkampanye untuk membesarkan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dengan akan berkeliling Indonesia. (rhm)






