Jakarta, Harian Umum - Presiden Prabowo Subianto mengaku terbuka terhadap kritik karena kritik yang konstruktif dianggap penting untuk membantu pemerintahannya mengevaluasi kebijakan yang telah dibuat.
"Kalau dikritik, malah kita harus bersyukur. Kalau saya dikoreksi, saya dibantu, saya diamankan," katanya saat memberikan sambutan dalam Perayaan Natal Nasional 2025, di Jakarta, dikutip dari akun YouTube Setpres, Selasa (6/1/2026).
Perayaan Natal Nasional tersebut diselenggarakan Senin /(5/1/2026).
Menurut Prabowo, hal yang wajar jika seseorang merasa tidak nyaman saat menerima kritik atau koreksi, akan tetapi dia mengingatkan bahwa kritik merupakan pengingat, sekaligus perlindungan baginya dalam menjalankan tugas sebagai Kepala Negara.
Presiden RI ke-8 itu mencontohkan ketika ada pihak yang mengkritik bahwa ia akan menghidupkan militerisme selama memerintah, maka ia menyikapinya dengan memanggil ahli hukum untuk mengkaji batas kepemimpinan yang otoriter..
"Kritik, koreksi adalah menyelamatkan. Jadi, saya terima kasih kalau ada yang teriak-teriak ‘Prabowo mau hidupkan lagi militerisme’. Saya koreksi lagi, apa benar? Saya panggil ahli hukum untuk mengkaji mana batas kepemimpinan yang terlalu otoriter," katanya.
Kendati demikian, Prabowo mengingatkan agar kritik tidak kelewatan menjadi fitnah. Sebab, kebohongan yang menimbulkan kecurigaan, perpecahan, dan kebencian hanya akan merusak persatuan.
Ia mengakui, ada kritik bernada sinis yang niatnya untuk menjatuhkan pemerintahan yang ia pimpin.
Untuk kritik semacam ini, Prabowo mengatakan, ia memilih menjawabnya dengan kerja dan bukti nyata.
"Kita akan bekerja dengan bukti, bukan dengan janji saja," katanya. (man)


