Jakarta, Harian Umum - Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo mengatakan, pihaknya akan bekerja sama dengan Badan Intelijen Strategis (BAIS), badan intelijen di bawah TNI, dan BIN (Badan Intelijen Negara) untuk mengungkap dalang kerusuhan pada 28-31 Agustus lalu.
Seperti diketahui, kerusuhan yang diawali demonstrasi menuntut pembubaran DPR itu menjadi kerusuhan setelah pengemudi Ojol bernama Affan Kurniawan tewas dilindas Brimob dengan kendaraan taktis Barakuda di Jalan Pejompongan, Jakarta Pusat, pada tanggal 28 Agustus 2025 malam.
Kerusuhan itu bukan saja merusak dan membakar fasilitas umum, termasuk halte busway, tetapi juga membakar aset pemerintah seperti gedung DPRD di sejumlah daerah, termasuk gedung DPRD Surakarta dan DPRD Makassar, serta kantor polisi seperti kantor Polres Jakarta Timur.
"Kami bekerja sama nanti dengan teman-teman dari TNI, dari BAIS, dari BIN dan seluruh elemen yang bisa menjadi sumber informasi untuk kemudian kita bisa menuntaskan," katanya dikutip dari kompas.com, Senin (8/9/2025).
Ia mengaku, Polri mendukung seluruh masukan dan informasi yang dapat membuat penyelidikan kasus ini menjadi terang benderang.
Namun, ia juga menekankan pentingnya menjaga stabilitas bangsa pasca-kerusuhan, karena kondisi bangsa yang dapat terus terjaga dengan baik, akan membuat negara dapat melaksanakan pembangunan, dan menyejahterakan rakyatnya.
Sebelumnya, Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia, Usman Hamid, mendorong Polri membentuk tim gabungan pencari fakta (TGPF) yang bertugas menyelidiki dalang demonstrasi rusuh pada 25-31 Agustus 2025.
Menurut dia, Polri dapat menggandeng tokoh masyarakat, lembaga independen, dan pakar dalam mencari tahu penyebab kerusuhan yang berakibat rusaknya sejumlah fasilitas umum.
"Sehingga kita sama-sama bisa mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi. Saya kira ada yang memang organik, ada yang tidak," ujar Usman.
Ia pun menyorot sejumlah aksi penjarahan rumah pejabat negara yang diduganya tidak organik dilakukan masyarakat. Pasalnya terdapat kejanggalan, ketika massa dengan mudahnya merangsek masuk dan menjarah kediaman seseorang yang notabenenya merupakan pejabat publik.
"Ada juga yang mencurigakan, misalnya kenapa sampai rumah Sri Mulyani atau rumah anggota dewan bisa begitu mudah diserang di dini hari misalnya," ujar Usman. (man)







