Jakarta, Harian Umum - Biro Pendidikan Mental dan Spiritual (Dikmental) DKI Jakarta akan mengirimkan surat imbauan kepada seluruh masjid agar melaksanakan shalat gerhana pada 31 Januari 2018.
"Surat itu akan dikirim dengan bantuan DMI (Dewan Masjid Indonesia)," jelas Kabiro Dikmental DKI Hendra Hidayat kepada harianumum.com di Balaikota DKI, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Kamis (25/1/2018).
Ia menyebut ada sekitar 3.000 masjid di Jakarta, namun karena pelaksanaan shalat gerhana hanya bersifat imbauan, maka tak masalah jika tidak dilaksanakan.
Meski demikian Hendra berharap, bagi umat Islam yang memiliki kesempatan untuk mengikuti shalat sunah tersebut, sebaiknya mendatangi masjid yang menyelenggarakannya, karena menurut dia, banyak manfaatnya mengikuti shalat yang dicontohkan Rasulullah ini.
"Dengan shalat gerhana, keimanan kita akan bertambah, karena dengan melaksanakan shalat ini, kita mengingat kebesaran Allah SWT yang telah menciptakan alam semesta ini beserta isinya, berikut fenomena-fenomenanya," kata dia.
Seperti diberitakan sebelumnya, pada Selasa (23/1/2018), Gubernur Anies Baswedan mengirimkan surat kepada tiga satuan kerja perangkat daerah (SKPD), yakni Dinas Pendidikan (Disdik), Dinas Pariwisata dan Budaya (Disparbud) dan Biro Dikmental untuk melakukan sejumlah hal terkait GBT pada 31 Januari yang disertai fenomena Supermoon dan Blue Moon.
Kepada Kepala Disdik, Anies mengimbau sekolah-sekolah mengeluarkan surat edaran yang berisi informasi tentang fenomena GBT, mengimbau para guru agar menjadikan fenomena ini sebagai media pembelajaran, dan mendorong minat siswa untuk mempelajari sains serta mensyukuri anugerah dan mengagumi kebesaran Tuhan.
Kepada kepala Disparbud, Anies mengimbau agar menyiapkan fasilitas dan dukungan di tempat-tempat wisata yang dikelola Pemprov DKI yang dapat dijadikan sebagai tempat pengamatan GBT.
Terakhir, kepada Biro Dikmental, Anies meminta agar menyebarkan edaran kepada para pengurus masjid yang berisi informasi tentang GBT disertai ajakan dan panduan untuk melakukan shalat gerhana.
Terkait kebijakan ini, Hendra mengaku mendukung penuh karena GBT tak hanya merupakan fenomena yang menunjukkan kebesaran dan kekuasaan Allah SWT, namun juga fenomena yang layak untuk diamati dan dipelajari, karena di dalamnya terkandung sains.
"GBT itu terjadi karena matahari, bulan dan bumi berada dalam garis yang sejajar. Ini fenomena yang luar biasa," katanya.
Selain hal tersebut, Hendra juga mengatakan bahwa kebijakan Gubernur Anies Baswedan itu sejalan dengan prioritas kerja Biro Dikmental yang salah satunya adalah fokus pada peningkatan kualitas moral dan spiritual masyarakat Jakarta.
"Dengan adanya imbauan untuk shalat gerhana, kita dorong umat untuk meningkatkan lagi keimanannya, karena bukan rahasia kalau hingga kini tak sedikit umat Islam yang abai untuk melakukan shalat sunah saat gerhana terjadi. Bahkan bagaimana cara melakukan shalat gerhana, tidak tahu," imbuhnya.
Ia yakin, dengan peningkatan kualitas moral dan spiritual, ke depan kondisi Jakarta akan semakin baik dan baik.
"Karena kita ingin masyarakat Jakarta bersatu lagi dan tidak terkotak-kotak," pungkasnya.
Seperti diketahui, saat ini masyarakat Jakarta masih terbelah akibat Pilkada DKI 2017 yang mempertarungkan Anies-Sandi kontra Ahok-Djarot di putaran dua.
Pertarungan itu dimenangkan Anies-Sandi dengan perolehan 58,06%, dan para pendukung Ahok-Djarot yang akrab disebut Ahokers, tak terima.
Hingga kini pendukung Anies-Sandi masih berhadap-hadapan dengan Ahokers, khususnya di media sosial, karena Ahokers belum juga dapat move on. (rhm)







