Jakarta, Harian Umum- Ketua Koalisi Rakyat Pemerhati Jakarta Baru (Katar), Sugiyanto, berterima kasih kepada para pendukung Jokowi dan Ahok karena telah berkali-kali memperlakukan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dengan tidak pantas dan tidak etis.
Sebab, perlakuan itu justru dinilai secara tidak langsung membuka jalan bagi Anies untuk sampai pada posisi yang lebih tinggi, yakni sebagai RI 1.
"Saya mencatat, sampai saat ini sudah tiga kali Anies diperlakukan tidak pantas dan tidak etis oleh para pendukung Jokowi dan Ahok. Pertama, ketika menghadiri resepsi pernikahan anak perempuan Presiden Jokowi, dimana di situ Anies diteriaki "Huuu ...";kedua saat final Piala Presiden dimana Anies dilarang ikut menyerahkan piala kepada Persija sebagai pemenang kompetisi itu; dan ketiga saat Presiden Open House di Istana Bogor pada Hari Pertama Lebaran kemarin, dimana di situ Anies lagi-lagi diteriaki "Huuu ...!" oleh pendukung Pak Jokowi," kata Sugiyanto kepada harianumum.com via telepon, Sabtu (16/6/2018).
Mantan Presidium Relawan Anies-Sandi (PRASS) saat Pilkada DKI Jakarta 2017 ini menilai, dalam hitung-hitungan politik, perlakuan tak etis dan tak pantas para pendukung Jokowi dan Ahok itu terhadap Anies, dan yang dilakukan secara berulang-ulang, bahkan mungkin masih akan terjadi lagi pada kesempatan yang lain, merupakan tindakan bodoh.
Pasalnya, budaya yang berlaku di masyarakat Indonesia adalah jika perlakukan buruk terhadap seseorang dipertonton secara terbuka, apalagi secara berulang-ulang, maka masyarakat akan bersimpati kepada orang yang diperlakukan dengan buruk tersebut, karena menganggap orang itu dizalimi. Maka, ketika dia maju di Pilkada atau bahkan Pilpres, masyarakat pasti mendukungnya.
Contoh nyata akan adanya budaya ini adalah saat Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) masih menjabat sebagai Menko Polkam di era pemerintahan Megawati Soekarnoputri.
Karena berniat maju di Pilpres 2004, SBY tidak disukai Megawati yang juga ingin maju lagi sebagai incumbent. Akibatnya, SBY berkali-kali tidak dilibatkan dalam pengambilan kebijakan di bidang yang ditanganinya, dan mengeluh kepada wartawan.
Keluhan itu ditanggapi Taufik Kiemas, ketua MPR saat itu yang juga merupakan suami Megawati, dengan menyebut SBY sebagai jenderal kekanak-kanakkan karena masalah internal pemerintahan diadukan ke wartawan.
"Tapi belakangan sejarah menunjukkan, SBY mengalahkan Megawati di Pilpres 2004, dan menjadi presiden," imbuh Sugiyanto.
Aktivis yang akrab disapa SGY ini mengaku salut pada reaksi Anies saat diteriaki "Huuuu ...." oleh pendukung Jokowi di Istana Bogor, karena Anies sama sekali tidak marah, bahkan sebaliknya; ia tersenyum dan menghampiri orang-orang yang meneriakinya, serta 0mengajaknya bersalaman.
"Ini juga poin positif buat Anies, karena reaksinya itu secara tidak langsung menunjukkan kepada publik bahwa dia memang pemipin yang baik, sabar, dan tidak suka membalas keburukan dengan keburukan. Ini akan membuat orang semakin bersimpati kepadanya, sehingga jika dia maju sebagai Capres tahun depan, masyarakat pasti mendukungnya," imbuh SGY.
Seperti diberitakan sebelumnya, pada Hari Lebaran pertama kemarin, Presiden Jokowi menggelar Open House di Istana Bogor. Anies dan Wagub Sandiaga Uno beserta istri, datang untuk bersilaturahmi dan berlebaran, namun ketika mereka akan menaiki beranda Istana dimana para undangan dan ratusan relawan Jokowi sedang mengantre untuk dapat masuk, mereka diteriaki para relawan itu dengan kata; "Huuu ....!"
Anies tidak marah, bahkan tersenyum. Ia lalu menghampiri orang-orang yang meneriakinya itu, dan bersalaman dengan mereka.
SGY menambahkan, dari apa yang terjadi kemarin, alam sepertinya telah memperlihatkan tanda-tanda yang semakin jelas bahwa terbuka jalan bagi Anies untuk menjadi presiden melalui Pilpres 2019.
"Karena itu saya sangat berterima kasih kepada para pendukung Pak Jokowi atas kebodohan mereka itu," pungkas SGY. (rhm)





