Jakarta, Harian Umum - kurs rupiah terhadap dollar AS melemah signifikan pada penutupan Kamis (19/12/2024).
Data Bloomberg menunjukkan, rupiah ditutup melemah 1,34% atau 215 poin ke posisi Rp16.313/dolar AS.
Melemahnya nilai tukar rupiah dipicu menguatnya dolar AS. Data Investing mrnunjukkan, hari ini, greenback bergerak menguat di kisaran 107,7 - 107,86.
Kompas.com melansir, indeks dollar AS menguat setelah bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), mengumumkan hasil pertemuannya pada Rabu waktu setempat. Dalam pertemuan FOMC Desember 2024, The Fed memang kembali mengumumkan pemangkasan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin.
Pengamat pasar keuangan Ariston Tjendra mengatakan, keputusan The Fed untuk kembali melonggarkan kebijakan moneternya sudah sesuai dengan ekspektasi pasar. Namun, pelonggaran ini diyakini tidak akan terjadi dengan tempo yang lebih cepat pada tahun depan.
"Sesuai perkiraan juga, The Fed mengeluarkan pernyataan yang ditangkap pelaku pasar bahwa The Fed bakal menahan suku bunganya dalam waktu lama setelah tahun ini," kata dia dalam keterangannya, Kamis.
Sejumlah data teranyar ekonomi AS disertai tanda-tanda inflasi yang sulit turun, mendorong The Fed memberikan sinyal penundaan pemangkasan. The Fed menunjukkan bahwa mereka mungkin hanya akan menurunkan suku bunga acuannya sebanyak 2 kali pada 2025.
"Dan dollar AS pun bergerak menguat," ujar Ariston.
Sebelumnya, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan, pelemahan nilai tukar rupiah dipengaruhi oleh makin tingginya ketidakpastian global, terutama terkait dengan arah kebijakan Amerika Serikat.
Rencana kebijakan perdagangan Amerika Serikat yang lebih protektif, melalui kenaikan tarif impor komoditas dan cakupan negara yang lebih luas, bakal meningkatkan fragmentasi perdagangan dunia serta mengganggu rantai pasok global.
Risiko gangguan rantai pasok global berpotensi berimbas terhadap tingkat inflasi dunia yang kembali meningkat, dan pada akhirnya berimbas terhadap arah kebijakan The Fed.
BI memprediksi, laju penurunan tingkat suku bunga acuan The Fed, atau Fed Fund Rate, akan lebih lambat, akibat tingkat inflasi Negeri Paman Sam yang meningkat.
Pada saat bersamaan, imbal hasil atau yield obligasi pemerintah AS tetap tinggi, seiring dengan tingginya kebutuhan belanja dan pembiayaan utang AS.
"Mengakibatkan berlanjutnya preferensi investor global untuk memindahkan alokasi portofolionya kembali ke AS," ujar Perry dalam konferensi pers di Kantor BI, Jakarta, Rabu (18/12/2024). (man)







