Jakarta, Harian Umum - Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS) Anthony Budiawan meminta Bank Indonesia (BI) untuk bekerja keras agar kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) tidak terus rontok.
Seperti halnya hari-hari kemarin, kurs rupiah terhadap dolar AS hari ini, Jumat (27/10/2023), juga terus tertekan dan mendekati 16.000/dolar AS.
"Kurs rupiah masih terus menghadapi tekanan berat. BI harus kerja keras menahan kurs rupiah agar tidak tergelincir tembus Rp16.000 per dolar AS," kata dia melalui akun X-nya.
Ia menilai, sejauh ini intervensi BI ke pasar keuangan tidak efektif membuat kurs rupiah menguat secara signifikan, karena cadangan devisa milik pemerintah sangat terbatas.
Akibatnya, pemerintah dalam dilema antara menaikkan harga atau menggelontorkan subsidi.
"Menteri Keuangan Sri Mulyani di persimpangan jalan, antara membiarkan harga BBM dan pangan naik, yang akan memicu inflasi dan daya beli masyarakat anjlok, atau menaikkan subsidi yang akan membuat belanja negara non-subsidi tertekan dan memicu kontraksi," katanya.
.jpeg)
Anthony menyebut, kondisi ini menunjukan bahwa fiskal dan moneter dalam tekanan serius. Dampaknya bukan hanya kurs rupiah yang anjlok, tapi juga meningkatnya defisit transaksi berjalan, berpotensi menaikkan suku bunga, dan investor menarik diri dari pasar, sehingga terjadi capital outflow yang membuat cadangan devisa turun.
Kondisi ini juga akan melonjakkan harta pangan, sementara daya beli masyarakat menurun, dan belanja pemerintah mengalami kontraksi yang berdampak pada tertekannya APBN.
Dengan kata lain, perekonomian Indonesia tertekan.
"Indonesia masuk vicious circle penurunan ekonomi: penurunan satu faktor ekonomi disusul dengan penurunan faktor-faktor ekonomi lainnya. Nampaknya, vicious circle masih berputar, bertambah keras. Sulit terhindarkan, beberapa pihak akan terjungkal," kata Anthony lagi.
Data Bloomberg menunjukkan, kurs rupiah terhadap dolar AS menguat 5 poin pada sesi pembukaan perdagangan hari ini dengan berada pada posisi 15.910 dari penutupan Kamis yang berada di 15.915.
Namun, setelah itu rupiah melemah dengan pergerakan di kisaran 15.918 - 15.950 dan ditutup pada posisi 15.938 atau terkoreksi 19 poin (0,12%).
Rupiah terus melemah sejak 4 Oktober 2023.
Menurut Bisnis, rupiah terpuruk akibat pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat yang melesat pada kuartal III/2023 dengan laju tercepat sejak kuartal IV/2021.
Berdasarkan data pemerintah AS yang dirilis Kamis, (26/10/2023), produk domestik bruto (PDB) AS meningkat 4,9% pada kuartal III/2023 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/yoy). Pertumbuhan PDB ini berada di atas proyeksi pasar yang memperkirakan PDB tumbuh 4,3% dan jauh lebih tinggi dari pertumbuhan PDB kuartal II/2023 sebesar 2,1%.
Melesatnya ekonomi AS mengindikasikan The Fed akan kembali mengerek suku bunga acuan.
Di sistem lain, Direktur Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi, juga mengatakan bahwa sentimen laporan mengenai militer AS menyerang sasaran-sasaran yang terkait dengan Iran di Suriah, telah memicu kembali aliran dana ke aset-aset safe haven.
Menurut Pentagon, serangan tersebut, yang dilakukan terhadap dua fasilitas di Suriah Timur, merupakan pembalasan atas serangan baru-baru ini terhadap pasukan AS di Irak dan Suriah. (rhm)







