Jakarta, Harian Umum- Ekonom Rizal Ramli mengingatkan pihak-pihak yang mencoba untuk bermain curang saat Pilpres 2019 digelar pada 17 April mendatang.
"Kalau kurangnya sedikit, masih bisa dimaklumilah, tapi yang coba-coba supercurang akan menantang (terjadinya) people power," katanya dalam diskusi bertajuk 'Refleksi Malari, Ganti Nahkoda Negara?' di Seknas Prabowo-Sandi, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (15/1/2019).
Ia memberitahu bahwa berdasarkan survei internal, elektabilitas Capres nomor urut 01, Jokowi, mangkrak, sementara elektabilitas Capres nomor urut 2, Prabowo Subianto, terus naik.
"Selisih elektabikitas Jokowi dengan Prabowo saat ini tinggal 20%," katanya.
Mantan Menko Maritim ini mengingatkan masyarakat agar jangan percaya hasil survei lembaga-lembaga survei, karena lembaga-lembaga itu telah menjadi alat propaganda untuk kepentingan Capres tertentu.
Ia mencontohkan hasil survei yang menurutnya hanya merupakan propaganda, yakni hasil survei LSI Denny JA yang menyebut bahwa elektabilitas Jokowi saat ini 56%.
"Bagaimana mungkin elektabilitas Jokowi bisa setinggi itu, karena ketika dia memenangi Pilpres 2014, dia cuma menang dengan memperoleh 52% suara!" tegasnya.
Ia pun mengingatkan Prabowo bahwa jika ketua umum Partai Gerindra itu ingin memenangkan Pilpres 2019, maka perolehan suaranya harus double digits atau di atas 10%.
"Kalau hanya unggul 2-3%, kemenangannya akan ditilep, tapi kalau unggul double digits, kecurangan yang bagaimana pun takkan ada gunanya," tegas dia.
Untuk memperoleh keunggulan suara di atas 10%, Rizal menyarankan agar pafa relawan dan pendukung prabowo harus militan, militan, dan militan.
"Kalian harus mau kerja beyond money, dan bekerja beyond the call of duty. Bahkan jika perlu kalian tidur di TPS, dan kawal penghitungan suara hingga tingkat kecamatan dan provinsi!" katanya. (rhm)







