Jakarta, Harian Umum- Tokoh militer dan politik Indonesia, Letjen (Purn) TNI Syarwan Hamid menilai, Jokowi mengancam kedaulatan negara dan berpotensi menjadi pengkhianat negara bila memberi peluang kepada komunis untuk menguasai NKRI.
"Selama 15-20 tahun saya menjadi saksi jatuh bangunnya PKI. Saya menjadi saksi ketika PKI memberontak pada 1948 dan 1965. Selama 17 tahun berkarir di intelijen, 7 tahun di Korem, 2 tahun di Badan Intelijen Kodam, juga ketika menjadi Kasospol ABRI, saya terus mengamati fenomena gerakan yang berkembang di masyarakat," katanya saat menjadi pembicara dalam diskusi bertajuk 'Refleksi Malari, Ganti Nahkoda Negara?' di Seknas Prabowo-Sandi, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (16/1/2018).
Ia menegaskan, jika komunis telah berani menunjukkan keberadaannya secara terang-terangan, berarti penganut ideologi yang tidak mengenal Tuhan ini telah cukup memiliki kekuatan, baik di dalam maupun di luar negeri.
Itu sebabnya, kata dia, ada yang berani secara terang-terangan mengaku bangga menjadi anak PKI, menyebarkan gambar palu arit, dan belajar dengan Partai Komunis China (PKC) di Tiongkok.
Syarwan mengingatkan tentang banjirnya tenaga kerja asing (TKA) asal China ke Indonesia, karena menurutnya, mereka yang masuk ke Indonesia itu bukan buruh biasa.
"Mereka inteligent expert dan gerilyawan expert," katanya.
Syarwan bahkan mempersoalkan kebijakan pemerintahan Jokowi yang terlalu condong ke Tiongjok, dan mengingatkan bahwa banyak negara yang berutang kepada negara tirai bambu itu untuk membangun infrastruktur, berujung menjadi negara yang dikuasainya.
"Tibet dan Nepal berutang kepada China, akhirnya diakuisisi dan menjadi negara komunis, Tokoh Tibet, Dalai Lama, kemudian diusir. Zambia, Angola, dan lain-lain bernasib serupa," katanya.
Pensiunan tentara berusia 75 tahun ini mengingatkan Presiden Jokowi, jika dia membiarkan hal ini terus terjadi, maka mantan walikota Solo itu tak hanya dapat mengancam kedaulatan negara, namun juga berpotensi menjadi pengkhianat negara.
"Indonesia ini bak ratna mutu manikam, negara yang indah dan kaya akan sumber daya alam. Banyak negara memginginkannya, termasuk China," tegasnya.
Syarwan menegaskan, jika komunis benar-benar bangkit di Indonesia, dan negara ini pun terancam jatuh ke tangan China, ia takkan membiarkan hal itu terjadi.
"Teman-teman saya oun tak akan diam, Kami akan melakukan perlawanan," tegasnya.
Syarwan memberi isyarat bahwa komunis memang telah menggeliat di Indonesia. Indikasinya, kata dia, saat anggota TNI merazia sebuah toko di Kediri yang menjual buku-buku yang mengandung ajaran komunis, ada yang berpidato di Bali dan mengingatkan agar jangan terlalu bersemangat melakukan razia.
"Padahal paham komunis dilarang oleh TAP MPRS Nomor 25 Tahun 1966, sementara Ustad Alfian yabg secara tulus dan ikhlas berusaha mengingatkan bangkitnya paham ini, malah ditangkap dan dipenjara," tegasnya. (rhm)







