Jakarta, Harian Umum - Belum terakomodirnya kebudayaan yang baik di masyarakat membuat para aktifis Jakarta membentuk Yayasan Kharisma Budaya Nusantara (KBN), di Hotel Grand Cempaka, Jakarta Pusat, Rabu (25/9/2019).
Ketua Lembaga Pemantau Penyimpangan Aparatur Daerah (LP2AD) Victor Irianto Napitupulu mengatakan KBN di bentuk untuk menyalurkan aspirasi masyarat yang belum terakomodir oleh pemerintah.
"KBN didirikan karena kita ingin menyalurkan aspirasi warga," kata Victor di sela-sela acara.
Victor mengatakan sebelum KBN didirikan untuk wilayah hanya diatur di Kecamatan Kemayoran, Jakarta Pusat, namun karena melihat jumlah elemen-elemen dan penggiat budaya yang tidak terakomodir oleh Pemprov DKI Jakarta serta oleh unit-unit kerja di lingkungan Pemprov DKI, maka mulailah yayasan KBN sebagai wadah untuk menyalurkan aspirasi di bidang budaya, dan menumbuh kembangkan bakat di bidang ini.
"Semua budaya kita akomodir sesuai porsinya, baik budaya Betawi, Jawa, dan lain sebagainya. Kita berharap kegiatan ini didukung Pemprov DKI," imbuhnya.
Dalam grand opening ini, Yayasan KBN mengadakan diskusi bertajuk 'Diskusi Ketahanan Budaya' dengan narasumber budayawan Betawi Ridwan Saidi, Amir Hamzah, dan dimoderatori Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik DKI Taufan Bakri.
Dalam penjelasannya, Ridwan mengatakan jika meminta ada dua yang dapat disetujui mengenai pertanggungan jawab budaya, yaitu agama dan sejarah.
"Karena itu agama jangan diganggu dan sejarah jangan 'didongeng-dongengin'," katanya.
Ia menghargai jika sejarah Indonesia yang dibahas di sekolah-sekolah mengandung banyak ketidakbenaran, termasuk soal sejarah Raden Fatah atau Fatahillah.
Menurut dia, Raden Fatah atau Fatahillah yang juga dikenal dengan nama Falatehan, bukan pahlawan.
"Dia orang Yahudi," tegasnya.







