Jakarta, Harian Umum - Publik geger karena pada Jumat (8/9/2023) petang sosok Bacapres yang diusung PDIP, Ganjar Pranowo, nongol di tayangan azan magrib RCTI.
Dalam tayangan itu Ganjar terlihat akan memasuki sebuah masjid dengan arsitektur bangunan tradisional, dan bersalaman dengan dua jamaah yang menyusul kedatangannya.
Setelah itu, mantan Gubernur Jawa Tengah itu ditampilkan sedang berwudhu, menjadi makmum, lalu bersujud dan melakukan tahiyat akhir bersama imam dan makmum yang lain.
"Cieee...yang udah nongol aja di RCTI pas Adzan Maghrib. Katanya ngak mau Politik Identitas
@YaqutCQoumas mana suaranya," sindir @0Gagal.

"BNPT gmn nihhh? Kata'y tempat ibadah harus d kontrol? Ini udh masuk tv lho?!" teriak makhluk_62.
"Untungnya Gus @YaqutCQoumas sudah mengingatkan agar tidak memilih capres yang menggunakan agama sebagai alat politik, so.. jangan pilih ganjar yg menggunakan agama untuk pencintraan diri menarik penilih dari kalangan muslim," sindir @ChoiMasMh
"Seperti ini kah yang di maksud politik identitas itu @YaqutCQoumas , kalau ini yang di maksud politik identitas harus di tenggelam bukan..???" kata @JhonRiz57726790.
Seperti diketahui, politik identitas merupakan cara berpolitik yang seperti diharamkan.oleh para pendukung pemerintahan Jokowi, sehingga pelakunya selalu dicela, dihina dan dikritik habis-habisan.
Tokoh yang dituding sebagai pelaku politik identitas di Indonesia adalah Anies Baswedan, sehingga dia bahkan pernah dicap sebagai Bapak Politik Identitas, dan selama berbulan-bulan, bahkan hingga kini, serangan terhadap dirinya seperti tidak habis-habis.
Pada 3 September 2023 lalu, saat menghadiri Tablig Akbar Idul Khotmi Nasional Thoriqoh Tijaniyah ke-231 di Pondok Pesantren Az-Zawiyah, Tanjung Anom, Garut, Jawa Barat, Menteri Agama Yaqut Qolil Qoumas bahkan mengimbau masyarakat agar tidak memilih pemimpin yang memecah belah umat dan menggunakan agama sebagai alat politik.
"Harus dicek betul, pernah nggak calon pemimpin kita, calon presiden kita ini, memecah belah umat. Kalau pernah, jangan dipilih. Juga jangan memilih calon pemimpin yang menggunakan agama sebagai alat politik untuk memperoleh kekuasaan, karena Agama seharusnya dapat melindungi kepentingan seluruh umat, masyarakat. Umat Islam diajarkan agar menebarkan Islam sebagai rahmat, rahmatan lil 'alamin, rahmat untuk semesta alam. Bukan rahmatan lil Islami, tok," katanya..
Menurut Ketua Umum PP GP Ansor ini, pemimpin yang ideal harus mampu menjadi rahmat bagi semua golongan.
"Kita lihat calon pemimpin kita ini pernah menggunakan agama sebagai alat untuk memenangkan kepentingannya atau tidak. Kalau pernah, jangan dipilih," tegasnya. (rhm)






