Jakarta, Harian Umum - Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah meminta Buruh Migran Indonesia (BMI) Hongkong untuk mewaspadai tindakan imigrasi Hongkong yang menolak kadatangan Ustad Abdul Somad.
"Dugaan saya, Ini sisa2 jaringan intelijen #WarOnTerror yang kerjaanya gitulah. Mereka Gak sadar kalau jamaah Ustadz yang ditolak masuk bisa jadi radikal. Atau mereka sengaja membuat orang Islam radikal supaya gampang ditumpas. Teman2 BMI Hongkong waspadalah!" kata Fahri sepeti dikutip dari akun Twitter pribadinya, @Fahrihamzah, Senin (25/12/2017).
Seperti diberitakan sebelumnya, Ustad Abdul Somad datang ke Hongkong atas undangan BMI untuk berdakwah, namun begitu mendarat di Bandara Internasional Hongkong, ia dipisahkan dari rombongan, digeledah dan diinterogasi selema beberapa jam.
Ujungnya, ia dipulangkan ke Indonesia karena dicurigai sebagai teroris.
Hal serupa pernah dialami Ustad Solmed di Singapura pada Januari 2017. Begitu mendarat di Bandara Changi, dia langsung digelendang pihak Imagrasi, kemudian diinterogasi, bahkan ditahan selama berjam-jam, sebelum akhirnya dipulangkan ke Indonesia.
Yang menarik, kejadian ini baru terjadi di era pemerintahan Jokowi-JK yang secara terang-terangan menstigma Islam sebagai agama radikal dan intoleran, sehingga tak heran kalau Fahri pun curiga apa yang dialami Ustad Abdul Somad terkait dengan "War on Terror" yang dikobarkan pemerintah AS sejak kasus serangan terhadap menara kembar WTC pada 11 September 2001 yang dikenal dengan sebutan 9/11.
Sebab, dengan stigma seperti itu, ulama-ulama dan ustad dari Indonesia menjadi rawan dicurigai sebagai teroris. Apalagi karena sejumlah ulama, antara lain Habib Rizieq Shihab, diduga didiskriminalisasi demi memberikan citra buruk pada kebangkitan Islam yang dimotori GNPF-MUI dimana Habib termasuk di dalamnya, yang dipicu oleh ketidakadilan aparat penegak hukum dalam menangani kasus-kasus yang dilaporkan.
Ketidakadilan itu tersirat jelas dari bagaimana aparat penegak hukum begitu lamban, bahkan cenderung senyap, dalam menangani laporan yang mengangkut orang-orang yang "berafiliasi" atau "terafiliasi" dengan pemerintah, namun lugas, cepat dan tegas dalam menangani kasus yang melibatkan orang-orang atau pihak-pihak ang beroposisi dengan pemerintah, khususnya umat Islam.
Dan bukan rahasia kalau peran AS dan Australia sangat besar dalam berdirinya Densus 88 Antiteror Mabes Polri, sehingga tak heran jika yang diburu Densus hanya umat Islam, dan tidak pernah memberi lebel "teroris" kepada pelaku yang non-Muslim. Contohnya peledakan bom di Mal Alam Sutra, Tangerang, pada Oktober 2015 yang dilakukan Leopard Wisnu Kumala.
Meski demikian, Fahri yakin apa yang dialami Ustad Abdul Somad di Hongkong merupakan ujian yang membuatnya akan menjadi ulama besar.
Ini kata Fahri: "#UstadzAbdulShomad akan jadi ulama besar. Semoga sabar menghadapi ujian. Ini fase yang harus dilalui. Pendengar dan murid beliau takkan berkurang tapi bertambah. Barokallah ya Ustadz, maju terus. Ini tanda2 baik bagi perkembangan Islam ke depan. Amin".
Kronologi
Sementara itu, terkait apa yang dialaminya di Hongkong, berikut penjelasan Ustad Abdul Somad tentang kronologi kejadian tersebut yang dikutip dari Fanpage Facebook-nya:
1. Saya sampai di Hongkong pukul 15.00 WIB (jam tangan belum saya rubah).
2. Keluar dari pintu pesawat, beberapa orang tidak berseragam langsung menghadang kami dan menarik kami secara terpisah; saya, Sdr. Dayat dan Sdr. Nawir.
3. Mereka meminta saya buka dompet. Membuka semua kartu-kartu yang ada. Diantara yang lama mereka tanya adalah kartu nama Rabithah Alawiyah (Ikatan Habaib). Saya jelaskan. Di sana saya menduga mereka tertelan isu terorisme. Karena ada logo bintang dan tulisan Arab.
4. Mereka tanya-tanya identitas, pekerjaan, pendidikan, keterkaitan dengan ormas dan politik. Saya jelaskan bahwa saya murni pendidik, intelektual muslim lengkap dengan latar belakang pendidikan saya.
5. Lebih kurang 30 menit berlalu. Mereka jelaskan bahwa negara mereka tidak dapat menerima saya. Itu saja. Tanpa alasan. Mereka langsung mengantar saya ke pesawat yang sama untuk keberangkatan pukul 16.00 WIB ke Jakarta.
6. Kita hanya bisa berusaha dan berdoa. Qaddarallah, ada hikmah di balik itu semua.
7. Kepada sahabat-sahabat panitia jangan pernah berhenti menebar kebaikan di jalan da’wah.
8. Mohon maaf tidak terhingga buat sahabat-sahabat pahlawan devisa negara di Hongkong.
9. Semoga tulisan singkat ini mampu menjadi klarifikasi.
(rhm)







