Jakarta, Harian Umum-Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan diminta berhati-hati dalam melaksanakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) total mulai hari ini, 14 September 2020. Pasalnya, PSBB total itu merupakan hasil kompromi Anies dengan pemerintah pusat yang mempertimbangkan kondisi ekonomi nasional.
"Pembantu-pembantu presiden ini kan sedang menyelamatkan diri. Apalagi, akan ada rencana reshuffle kabinet. Supaya mereka tidak terlihat salahnya, maka ditumpahkan ke orang lain. Makanya, Anies harus hati-hati, harus piawai dalam menerapkan PSBB total ini. Jangan jadi tumpahan kegagalan pembantu presiden," ujar Ketua Aliansi Masyarakat Jakarta (Amarta) Rico Sinaga, di Jakarta, Senin (14/9).
Mantan Ketua Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) DKI Jakarta ini mengatakan, reaksi Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (Menko Perekonomian) Airlagga Hartarto atas rencana Anies menerapkan PSBB total adalah buktinya. Menurutnya, kondisi perekonomian Indonesia terus anjlok selama diterpa wabah Covid-19.
"Ini kan sebenarnya, Airlangga dan lain-lain mau cari kambing hitam. Jadi ketika perekonomian anjlok, ada yang disalahkan, salah satunya Anies Baswedan. PSBB total sekarang ini sama seperti PSBB April lalu. Jangan sampai PSBB sekarang ini gagal karena tekanan dari pembantu-pembantu presiden," katanya.
Dia meyakini, kebijakan yang dikeluarkan Anies Baswedan selaras dengan perintah Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk menempatkan kesehatan menjadi prioritas utama. Namun, karena Anies dianggap bersebrangan politik dengan Jokowi, maka pembantu-pembantunya selalu membenturkan Anies dengan Jokowi.
"Hasil bincang-bincang dengan orang dekat Anies, penerapan PSBB total ini adalah lockdown. Tapi karena ada tekanan, maka PSBB total ini mirip-mirip PSBB pada awal April lalu. Tapi kan, nggak ada jaminan juga dengan dibukanya 25-50 persen perkantoran itu bisa membuat ekonomi lebih baik. Selama pelonggaran PSBB juga, apa ekonomi menjadi lebih bagus," tanya Rico. (hnk)







