Jakarta, Harian Umum- Ketua DPP Partai Gerindra Habiburrokhman mengatakan, peluang partainya untuk berkoalisi dengan Partai Demokrat sangat besar.
"Peluangnya besar sekali, mudah-mudahan koalisi bisa terwujud, sehingga lebih mudah bagi kita untuk mengalahkan Jokowi (di Pilpres 2019)," katanya dalam launching Indonesia Pasca Jokowi (IPJ) di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Senin (28/5/2018).
Ketika ditanya apakah Gerindra tidak khawatir akan dikhianati Ketua Umum Partai Demokrat Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) seperti pada Pilpres 2014? Politisi yang juga Ketua Dewan Penasehat Advokat Cinta Tanah Air (ACTA) itu mengatakan, Gerindra tak ingin bicara ke belakang.
"Kita ingin bicara ke depan demi bangsa ini karena saat ini kita harus memperjelas batas demarkasi, apakah kita mau mempertahankan situasi ini dimana menurut kami, ekomoni buruk, semua buruk, atau mau perubahan?" katanya.
Ia menegaskan, saat ini bahkan ada gejala kalau pemerintahan Jokowi tengah melakukan depolitisasi terhadap rakyatnya sendiri, sehingga kritik apapun yang ditujukan kepada pemerintah, dianggap politis. Apa-apa yang politis dianggap dosa, dianggap sebagai sesuatu yang jelek dan kriminal.
"Jadi, apa salahnya kalau kita berniat mengganti pemerintahan ini melalui jalur konstitusi?" katanya.
Ketika ditanya apakah respon pendukung Gerindra terhadap kemungkinan berkoalisi dengan Demokrat cukup baik? Habiburrokhman mengatakan "bagus sekali".
Untuk di tingkat elit partai, katanya, SBY dan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto berkawan sejak remaja, dan AHY (Agus Harimurti Yudhoyono), putra sulung SBY, sudah kenal Prabowo sejak kecil, dan AHY juga rekan beberapa elit Gerindra saat di SMA dan akademi militer.
"Jadi, komunikasi sama sekali nggak ada hambatan," tegasnya.
Untuk diketahui, dalam beberapa bulan terakhir sejumlah akun media sosial, baik yang anonim maupun tidak, getol sekali membongkar perilaku SBY pada Pilpres 2014 dimana dia masih menjadi presiden.
Akun-akun seperti @ireneviena yang telah disuspend Twitter, @Guru_Plato, @Ronin1948, @ProklamatorRI dan @AdvokatBS berkicau kalau meski besan SBY, Hatta Rajasa, menjadi cawapres Prabowo di Pilpres 2014, SBY justru diam-diam membantu kemenangan pasangan Jokowi-JK dengan berbagai cara, seperti mendiamkan saja meski timses Jokowi-JK melakukan kecurangan yang masif dan terstruktur, dan bahkan membantunya dengan menggelembungkan Daftar Pemilih Tetap (DPT).
Apa yang mereka cuitkan bahkan telah di-chirpstory-kan dengan berbagai judul. Di antaranya "Motif-Modus Presiden @SBYudhoyono Mengkhianati Paslon Partai Demokrat Foke-Nara dan Membantu Jokowi-Ahok pada Pilkada DKI 2012 dan Pilpres 2014"; dan "Pilpres 2019 Mustahil Berlangsung Jujur Adil Jika Pencurangan Pilpres 2014 oleh @SBYudhoyono Tidak Diusut Tuntas: 72 Juta Blanko EKTP Hilang di Era SBY. Kapan @KPK_RI Periksa SBY?"
Pemilik akun-akun ini bahkan blak-blakan tak ingin Gerindra berkoalisi dengan Demokrat di Pilpres 2019.
"Silaturahim ok, koalisi? Enak aja. SBY sudah curangi Pilpres dan khianati Prabowo-Hatta, rakyat Indonesia," kata @ProklamatorRI.
Belakangan ini SBY rajin sekali menjalin komunikasi dengan sejumlah partai politik, setelah ada kabar kalau ketua umum Partai Demokrat itu berniat menduetkan Jokowi-AHY di Pilpres 2019, meski kader-kader partainya berulang kali mengatakan bahwa Demokrat belum memutuskan akan mengusung siapa, apakah Jokowi atau Prabowo Subianto.
SBY sempat bertemu Prabowo dan para petinggi PKS, dan partainya pun terkesan berniat membangun poros ketiga, sehingga dicurigai kalau loby-loby itu dilakukan untuk memecah soliditas Gerindra--PKS yang telah menyatakan berkoalisi di Pilpres 2019.
Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bapilu) Partai Demokrat Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) mengakui, sampai saat ini SBY masih intens melakukan penjajakan dengan tokoh-tokoh dan partai lain untuk melihat peluang terbaik bagi Demokrat.
"Pak SBY selalu membuka komunikasi. Pak SBY tidak pernah membatasi diri dengan tokoh siapapun, termasuk kepada presiden. Mungkin tidak terekspos di media. Tapi saya yakin beliau berkomunikasi dengan seluruh tokoh baik yang di ketum parpol, termasuk dengan presiden dan wapres," katanya di Kompleks Widya Chandra, Jakarta Selatan, Senin (28/5/2015).
Ibas bahkan mempngakui kalau partainya masih belum ada kecondongan sikap ke kubu manapun termasuk ke poros Jokowi atau Prabowo Subianto, dan menyebut Demokrat akan mengambil sikap terkait Pemilu melalui mekanisme rapat yang melibatkan ketua umum, Majelis Tinggi Partai dan Komisi Pengawas Partai berdasarkan masukan-masukan dari berbagai pihak termasuk dari pengurus Demokrat di daerah.
Di samping terus membangun komunikasi dengan parpol lain, Ibas mengatakan partainya juga sedang fokus untuk mempersiapkan kader-kader yang akan diusung di Pemilu Legislatif 2019.
Demokrat, kata dia, ingin meraup suara signifikan di ajang Pileg karena hasilnya akan menentukan peluang Demokrat di Pemilu periode berikutnya. Demokrat juga ingin menempatkan banyak kader di DPR agar punya pengaruh lebih untuk memberikan suara di Parlemen.
"Kami juga masih menyiapkan secara intenal untuk calon-calon legislatif yang nantinya akan berjuang di Pileg 2019. Insya allah kita menemukan hasil terbaik dari kerja sama koalisi antara A, B atau poros ketiga," pungkasnya. (rhm)





