Jakarta, Harian Umum - Partai Rakyat Oposisi, partai yang didirikan aktivis pergerakan, tokoh agama, tokoh masyarakat dan rakyat biasa pada tanggal 23 Juli 2024 di Jakarta, meminta Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri agar melalui kader-kadernya di DPR/MPR, menolak pertanggungjawaban Presiden Joko Widodo yang akan disampaikan di Sidang Tahunan MPR pada tanggal 16 Agustus 2024.
Ada tiga agenda dalam sidang tahunan itu, yakni penyampaian laporan kinerja lembaga negara yang dibacakan oleh presiden yang akrab disapa Jokowi itu; sidang bersama DPR dan DPD RI untuk mendengarkan pidato kenegaraan Presiden; dan Sidang Paripurna DPR dengan agenda pembacaan nota keuangan pemerintah dan APBN 2023 oleh Jokowi.
"Partai Rakyat Oposisi lahir dari suara kesedihan dan penderitaan rakyat, serta karena rusaknya tatanan bernegara dalam 10 tahun kepemimpinan Presiden Jokowi. Karena itu kami meminta agar Ibu Megawati melakukan perbaikan secara menyeluruh terhadap bangsa dengan MENOLAK PERTANGGUNGJAWABAN PRESIDEN JOKOWI di DPR/MPR nanti," kata Ketua Umum Partai Rakyat Oposisi, Rustam Effendi, melalui surat terbuka yang ditujukan kepada Megawati dan salinannya diterima harianumum.com, Rabu (30/7/2024).
Ia mengatakan, apabila Megawati tidak berani menolak pertanggungjawaban Presiden Jokowi, maka pihaknya menduga ada kesepakatan jahat terhadap rakyat dan bangsa ini untuk kepentingan pribadi dan kelompok.
"Apabila itu terjadi, kami akan mengambil sikap untuk menyerukan kepada partisan Partai Rakyat Oposisi untuk tidak memilih partai yang menerima pertanggungjawaban Presiden Jokowi," imbuhnya.
Rustam mengaku, ia sangat yakin Megawati akan berani bersikap tegas dengan menolak pertanggungjawaban Presiden Jokowi, karena selain sebagai perjuangan Megawati terhadap wong cilik, juga sebagai permohonan maaf kepada seluruh rakyat atas kesalahan PDIP mengusung Presiden Jokowi untuk menjadi presiden 2 periode.
Apalagi karena sebelumnya Megawati telah menolak wacana perpanjangan masa jabatan presiden menjadi 3 periode guna menjalankan amanat konstitusi.
Rustam juga mengakui kalau sesungguhnya pihaknya lebih mencintai Megawati sebagai trah Soekarno yang dulu berjuang bersama di masa Reformasi, daripada seorang Jokowi yang tidak pernah berjuang untuk Reformasi.
'Semoga Allah memberikan petunjuk dan keberanian kepada Ibu Megawati untuk menjaga NKRI," pungkas Rustam. (rhm)


