Teheran, Harian Umum - Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi mengkonfirmasi bahwa nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) antara Iran dan Amerika Serikat telah diselesaikan dan akan ditandatangani secara resmi pada Jumat (19/6/2026) di Swiss.
“Kami telah memasukkan semua posisi penting kami ke dalam draf MoU,” kata Kazem Gharibabadi dalam wawancara televisi pada hari Senin (15/6/2026), dikutip dari Tasnim.
Ia menjelaskan, MoU tersebut bukan sebagai bukti bahwa Iran mempercayai AS, karena MoU ini ditulis dengan rasa tidak percaya yang aktif.
'Kami akan memantau pelaksanaan komitmen AS," imbuhnya.
Gharibabadi menambahkan, seiring ditekennya MoU itu, maka pada Senin malam blokade angkatan laut AS terhadap Iran yang dilakukan sejak 12 April lalu, akan diakhiri, bersamaan dengan “pengakhiran segera dan permanen perang dan operasi militer di berbagai front, termasuk Lebanon".
Kesepakatan ini dihasilkan setelah negosiasi yang intensif selama berminggu-minggu dengan Pakistan sebagai mediator dan didukung Qatar, Arab Saudi, serta Turki.
Sebelumnya, pada Minggu (14/6/2026), Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif mengumumkan bahwa “kesepakatan damai” telah tercapai, dan Presiden AS Donald Trump menyambut pengumuman tersebut di Truth Social.
Menurut Tasnim, setelah MoU diteken, teks lengkapnya akan dipublikasikan. Namun, sebelum publikasi itu para pejabat Iran akan menjelaskan berbagai dimensi dan pencapaiannya kepada publik melalui media.
Gharibabadi menjelaskan, kekuatan militer Iran secara langsung memengaruhi teks akhir, seperti yang dilaporkan Press TV.
“Ancaman malam ini oleh Iran efektif dalam memajukan isu-isu tertentu dalam teks negosiasi,” kata Gharibabadi, merujuk pada peringatan oleh angkatan bersenjata Iran kepada AS tentang konsekuensi serangan rezim Israel pada hari Minggu di pinggiran selatan Beirut.
“Kami tidak menyetujui MoU sampai kami memasukkan setiap poin dan tuntutan terakhir ke dalam teks. Negosiasi berlanjut hingga satu jam sebelum pengumuman," imbuhnya.
Ia juga menyebutkan bahwa respons tegas Hizbullah terhadap terorisme Israel turut memfasilitasi penyelesaian kesepakatan tersebut.
"Angkatan bersenjata kita siap memberikan respons yang tegas. Trump juga mengambil posisi dan mengkritik rezim Zionis. Hizbullah memberikan jawaban yang tegas dan menentukan terhadap aksi teror rezim Zionis,” katanya.
Gharibabadi juga menekankan bahwa MoU tersebut bukan hanya produk diplomasi, tetapi juga prestasi militer Iran.
“Ini berkat darah suci para martir kita, keteguhan hati rakyat, kehadiran mereka sepanjang waktu di jalanan yang mendukung sistem dan angkatan bersenjata, darah suci Pemimpin yang gugur, bimbingan Pemimpin, dan upaya para pejabat," katanya.
Perang AS-Israel versus Iran pecah setelah aliansi Paman Sam dan Zionis menyerang Iranm pada tanggal 28 Februari 2026 dengan tujuan menggulingkan Pemerintahan Revolusi Iran yang sedang berkuasa, dan menggantinya dengan rezim boneka yang dipimpin Reza Pahlevi.
Namun, target AS dan Israel menaklukkan Iran hanya dalam beberapa hari, gagal, karena Negari Para Mullah mampu memberi perlawanan yang membuat kota-kota di Israel luluh lantak, begitupun pangkalan militer AS di sejumlah negara di kawasan Teluk.
Sejumlah pengamat menilai, Presiden AS Donald Trump dan PM Israel Benjamin Netanyahu telah salah memperhitungkan Iran, karena embargo yang diberikan AS kepada negara itu selama sekitar 47 tahun ternyata justru membuat negara itu menjadi sangat kuat, bukan sebaliknya.
AS kemudian mengajak Iran berunding, akan tetapi Iran berkali-kali menolak melakukan kesepaktan apapun karena selama perundingan, AS memaksa Iran menghancurkan program nuklirnya, menyerahkan uranium yang telah diperkaya, dan bahkan memaksa Iran membuka kembali Selat Hormuz dan melepaskan kewenangannya di selat yang menjadi jalur pasokan 20% minyak dunia itu.
Namun, Iran yang merasa telah memenangkan perang, bukan hanya menolak tuntutan-tuntutan AS, tetapi juga menuntut agar asetnya yang dibekukan senilai $24 miliar, dicairkan.
Kegagalan perundingan itu membuat AS kembali menyerang Iran, dan dibalas. Trump sempat mengancam akan menyerang lebih keras dan membuat Iran tak tersisa, akan tetapi perlawanan Iran membuat ancaman Trump tidak terealisasi karena dibatalkan.
Terakhir, Iran menutup total Selat Hormuz karena AS masih saja menyerang negaranya, sehingga minyak dunia yang semula telah turun dari $100 per barel, kembali meroket ke atas $100 per barel. (man)







