Jakarta, Harian Umum-Sakit adalah dzikrullah. Orang yang sedang sakit akan lebih sering menyebut asma Allah. Ia akan banyak berdzikir mengingat Allah dibandingkan ketika sehatnya.
Selain itu, sakit juga membawa muhasabah yang artinya merenungkan hal-hal baik maupun buruk. Dengan kata lain sakit menjadi saat yang tepat untuk introspeksi diri. Orang yang sakit akan punya lebih banyak waktu untuk merenungi diri apa yang sudah ia perbuat.
Orang yang sakit akan melakukan ikhtiar untuk kesembuhannya. Dan usahah yang ia lakukan menyembuhkan sakitnya termasuk Jihad Fi Sabilillah.
Kemudian juga, sakit adalah ladang ilmu. Orang yang sakit akan mendapatkan ilmu tentang sakit yang dideritanya berikut cara mengobatinya.
Berikut ini 12 adab ketika seorang muslim diuji sakit, yaitu :
1. Menerima dengan ridho atas taqdir sakit yang telah ditetapkan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Sesungguhnya besarnya pahala sesuai dengan besarnya ujian dan cobaan. Dan sungguh, jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menimpakan ujian untuk mereka. Barangsiapa yang ridho, maka ia yang akan meraih ridho Allah. Barangsiapa siapa yang tidak suka, maka Allah pun akan murka.”
(HR. Ibnu Majah) .
2. Jalani dengan sabar. Sabar tidak sabar, sakit sudah menimpa tapi bedanya yang memilih sabar dapat pahala yang besar disisi Allah Swt, :
“Sesungguhnya orang-orang yang bersabar itu diberi ganjaran yang tak terhingga”
(QS. Az - Zumar:10).
3. Yakini sebagian ujian pengangkat derajat dan sebagai kifarat atas segala dosa. Dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, :
“Setiap muslim yang terkena musibah penyakit atau yang lainnya, pasti akan hapuskan kesalahannya, sebagaimana pohon menggugurkan daun-daunnya.”
(HR. Bukhari) .
4. Berobat sebagai ikhtiar. Setiap penyakit ada obatnya. Sejatinya semua penyakit ada obatnya. Maka apabila sesuai antara penyakit dan obatnya, maka akan sembuh dengan izin Allah” (HR. Imam Muslim) .
Dan kita diperintahkan untuk berobat sebagaimana baginda Nabi Muhammad bersabda,
"Sesungguhnya Allah menurunkan penyakit dan obatnya dan menjadikan bagi setiap penyakit ada obatnya. Maka berobatlah kalian, dan jangan kalian berobat dengan yang haram"
(HR. Abu Daud) .
5. Tawakkal sesudah ikhtiar.
“Dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang dikehendakiNya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu“
(QS. Ath-Thalaq: 3) .
Maka dengan tawakkal sesudah ikhtiar kita akan diberi rizki oleh Allah Swt, salahsatunya tentu rizki kesembuhan, Perhatikan ibarat hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai “tawakalnya burung”. “Seandainya kalian sungguh-sungguh bertawakal kepada Allah, sungguh Allah akan memberi kalian rezeki sebagaimana Allah memberi rezeki kepada seekor burung yang pergi dalam keadaan lapar dan kembali dalam keadaan kenyang “
(HR.Tirmidzi, hasan shahih) .
6. Tidak putus asa dari rahmat Allah SWT. Kita diperintahkan untuk selalu optimis untuk sembuh, panjang umur dan bisa beramal lagi dan kita dilarang keras untuk berputus asa dari rahmat Allah SWt
“Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Zumar: 53) .
7. Jangan meminta kematian.
Sekeras dan sekronis apapun sakit Kita, Kita dilarang mengharapkan kematian. Diriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, :
“Janganlah salah seorang di antara kalian berangan - angan untuk mati karena musibah yang menimpanya. Kalau memang harus berangan-angan, hendaknya dia mengatakan,:
“Ya Allah, hidupkanlah aku jika kehidupan itu baik untukku.
Dan matikanlah aku jika kematian itu baik bagiku.”
(HR. Bukhari) .
8. Banyak taubat dan istighfar.
Walaupun harus optimis tapi waspada tetap ada, karena sakit adalah salah satu bunga-bunga kematian, maka ketika sakit keras menimpa kita, jangan lupa taubat dan banyak istigfar.
Allah subhanahu wa ta’ala berfirman: Hai orang-orang yang beriman,: bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa yaitu taubat yang semurni- murninya. (QS. At-Tahrim:8).
Nabi shalallahu alaihi wasalam, sabdanya: “Sesungguhnya Allah ‘Azza wa jalla itu menerima taubatnya seorang hamba selama ruhnya belum sampai di kerongkongannya- yakni ketika akan meninggal dunia.”
(HR. Tirmidzi) .
9. Meminta maaf kepada orang - orang yang pernah terdzolimi.
Terdapat sebuah hadits nabi Muhammad Saw tentang bersegera meminta maaf atas perbuatan dzolim yang pernah dilakukan pada orang lain,
Rasulullah SAW bersabda: Barangsiapa ada padanya perbuatan dzolim kepada saudaranya menyangkut kehormatan atau apapun, maka hendaklah ia segera meminta kehalalan atas perbuatan zalim yang dia lakukan hari itu juga sebelum tidak ada dinar dan tidak ada dirham yaitu pada hari kiamat dimana harta benda tidak ada gunanya.
Jika ada baginya amal saleh maka diambil lah pahalanya sesuai dengan kadar kedzolimannya. Jika sudah tidak ada amal-amal kebaikan, maka diambil lah dari dosa-dosanya orang-orang yang dizalimi. Lalu dosa itu dibebankan kepadanya. (HR Bukhari dan Tirmidzi) .
10. Memprioritaskan membayar hutang-hutang. Ketika sakit kita harus ingat hutang-hutang kita dan berusaha membayarnya. Supaya jangan sampai hutang-hutang kita ke bawa mati
Dari Ibnu ‘Umar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, : “Barangsiapa yang mati dalam keadaan masih memiliki hutang satu dinar atau satu dirham, maka hutang tersebut akan dilunasi dengan kebaikannya di hari kiamat nanti karena di akhirat tidak ada lagi dinar dan dirham.”
(HR. Ibnu Majah) .
11. Berwasiat atas hal-hal yang harus diwasiatkan. Kita tidak tahu di sakit yang mana yang jadi asbab kematian kita, maka ketika sakit berwasiatlah atas hal-hal yang kalau tidak di wasiatkan akan jadi masalah kita nanti di akhirat, seperti wasiat hutang piutang, wasiat ke anak yang masih belum menutup aurat, atau masih melalaikan sholat dsb,:
“Diwajibkan atas kamu, apabila maut hendak menjemput seseorang di antara kamu, jika dia meninggalkan harta, berwasiat untuk kedua orang tua dan karib kerabat dengan cara yang baik, sebagai kewajiban bagi orang-orang yang bertaqwa.”
(QS. Al-Baqarah: 180) .
12. Banyak berdoa minta husnul khotimah. Keadaan seseorang saat tutup umur adalah sesuatu yang sangat menentukan, karena balasan baik dan buruk yang akan diterimanya tergantung pada kondisinya saat tutup usia.
Sebagaimana dalam hadits yang shahih: “Sesungguhnya amalan itu tergantung dengan penutupnya”.
(HR Bukhari) . Maka saat sakit itu mintalah dan munajatlah supaya diberi anugrah husnul khotimah,
Rasulullah Saw mengajarkan umatnya untuk membaca:
"Ya Allah, jadikanlah sebaik-baik umurku pada ujungnya, dan jadikan sebaik-baik amalku pada akhir hayatku, dan jadikan sebaik-baik hariku pada saat aku bertemu dengan-Mu di hari kiamat".
(HR Ibnu As-Sunni).(RR)







