Jakarta, Harian Umum - Pengamat Intelijen dan Geopolitik Amir Hamzah mengingatkan Presiden Prabowo Subianto agar mewaspadai pengangkatan Joko Widodo alias Jokowi sebagai Dewan Penasihat Global Bloomberg.
"Karena bisa saja kelompok yang saya sebut sebagai kelompok Kosmopolitan, akan menggunakan jokowi untuk mengganggu stabilitas pemerintahan Prabowo," kata Amir di Jakarta, Rabu (24/9/2025).
Menurut Wikipedia dan buku berjudul "Tipuan Bloomberg" yang ditulis Zulvan Kurniawan pada tahun 2012, diketahui bahwa Bloomberg L.P. adalah perusahaan keuangan, perangkat lunak, data, dan media swasta (bloomberg.com) yang berkantor pusat di Midtown Manhattan, New York City, dan didirikan oleh Michael Bloomberg pada tahun 1981, dengan bantuan Thomas Secunda, Duncan MacMillan, Charles Zegar, dan investasi kepemilikan 12% oleh Merrill Lynch.
Michael Bloomberg adalah pria keturunan Yahudi yang pernah tiga periode menjadi Walikota New York. Ia termasuk sosok yang kontroversial. Di antara sikapnya yang memicu perdebatan adalah ketika ia secara terbuka menyatakan mendukung pernikahan sesama jenis dan memilih pro-choice dalam menyikapi aborsi.
Dalam artikel berjudul "Gerakan LGBT Didasari Pemahaman Gerakan Freemasonry" yang dipublikasikan persis.or.id pada 31 Agustus 2016, reporter Taty Setiaty menulis bahwa dilihat dari perspektif pemikiran, gerakan LGBT didasari pemahaman gerakan Freemasonry, yakni sebagai gerakan kebencian terhadap religiusitas dan agama, namun dibungkus dengan pseudo-ilmiah.
"LGBT adalah fitnah sistemik yang dirancang sangat apik oleh mereka yang ingin membuat 'tatanan dunia baru'," katanya.
Menarik untuk dikaji lebih jauh hubungan antara Bloomberg dengan Freemasonry dan jejaringnya dalam dunia media dan bisnis.
Jika kita ingat, ketika Sri Mulyani terjerat kasus bailout Bank Century, dia "diselamatkan" Bank Dunia dengan mengangkatnya menjadi managing director bank itu pada Mei 2010. Hingga kini, hukum seolah tak dapat menyentuh mantan Menteri Keuangan RI itu, sehingga tak pernah diadili.
Bank Dunia atau World Bank disebut-sebut merupakan lembaga yang punya kaitan erat dengan Freemason dan gerakan menciptakan Tatanan Dunia Baru (The New World Order). Begitupun International Moneter Fund (IMF).
Saat ini, pasca lengser tanggal 20 Oktober 2024, Jokowi makin gencar "diserang" aktivis, jurnalis seperti Bambang Tri Mulyono, dan akademisi/peneliti seperti Rismon Sianipar, Roy Suryo dan Tifauzia Tyassauma karena ijazah SD hingga S1-nya yang diterbitkan UGM, diduga palsu. Tindakan Polda Metro Jaya yang menjadikan 12 orang sebagai terlapor kasus ijazah Jokowi, termasuk Rismon, Roy dan Tifauzia, tidak meredakan serangan tersebut. Trio Rismon, Roy dan Tifa (RRT) bahkan pada 18 Agustus 2025 lalu merilis buku berjudul "Jokowi:s White Paper".
Merujuk pada kasus Sri Mulyani, Amir Hamzah juga curiga jangan-jangan Jokowi sedang "diselamatkan" karena kasus ijazahnya itu.
"Saya kira yang harus dipahami adalah kalau Jokowi saja tidak ada masalah, tapi yang tidak banyak dipikirkan oleh masyarakat, oleh tokoh-tokoh kita, bahwa masalah kita bukan pada Jokowi-nya, tapi pada kelompok tersembunyi yang punya agenda tersembunyi, yang punya kekuatan luar biasa, punya dana tidak terbatas, punya jaringan kemana-mana, yang menjadikan Jokowi sebagai bonekanya, dan itu sudah berlangsung sejak dia direkayasa menjadi walikota Solo," kata Amir.
Karena itu, lanjut dia, tidak mengherankan kalau Jokowi diangkat oleh Bloomberg menjadi Dewan Penasehat Global-nya.
"Karena kalau kita bicara tentang kapasitas Jokowi, mana mungkin dia bisa masuk dalam Dewan Penasehat yang luar biasa itu? Bahasa Inggris-nya buruk, dia gagal mewujudkan janji pertumbuhan ekonomi Indonesia 7%, bahkan selama dia menjadi presiden, ekonomi Indonesia runtuh, terindikasi dari terjadinya defisit APBN, utang luar negeri yang mencapai Rp8.000 triliun lebih, kurs rupiah terhadap dolar yang terus anjlok hingga di atas Rp16.000/dolar AS, daya beli masyarakat turun, BUMN banyak yang merugi bahkan kolaps, dan sebagainya dan sebagainya. Apa kapasitasnya?" tanya Amir.
Ia kemudian teringat ketika menjelang Pilpres 2014, Majalah Times memuat cover dengan gambar wajah Jokowi dan judul: "Jokowi New Hope". Cover itu "menyihir" jutaan masyarakat Indonesia, dan Jokowi kemudian mengalahkan Prabowo Subianto pada Pilpres itu meski diduga dengan curang, dan dilantik menjadi presiden periode 2014-2019.
Amir juga curiga pola yang sama sedang berulang.
"Artinya, kelompok Kosmopolitan itu sepertinya sedang menggerakkan lagi roda-rodanya, menggerakkan lagi jejaringnya, diduga bukan hanya untuk menyelamatkan Jokowi, akan tetapi juga mencegah agar kepentingannya di Indonesia tidak terganggu. Apalagi saat ini tekanan agar anaknya Jokowi yang menjadi Wapres,, yakni Gibran Rakabuming Raka, segera dimakzulkan DPR, kian hari kian keras. Gibran dan KPU bahkan saat ini sedang digugat di pengadilan agar jabatan Wapres yang disandang Gibran dinyatakan tidak sah oleh pengadilan," kata Amir.
Di sisi lain, lanjut pengamat senior ini, sikap para pemimpin dunia terhadap Presiden ke-8 RI Prabowo Subianto juga terlihat mulai berubah, terindikasi dari diundangannya Prabowo oleh PBB dan diberi kesemaatan untuk berpidato di sana; diperlakukan dengan hormat oleh Xi Jinping saat Prabowo berkunjung ke China; pernyataan Prabowo yang mendapat perhatian serius dari Presiden Rusia Vladimir Putin; dan lain sebagainnya.
Kelompok Kosmopolitan, menurut Amir, melihat Prabowo sebagai ancaman, karena semakin terlihat bahwa kebijakan-kebijakannya berbeda dengan Jokowi.
"Kita ingat Jokowi begitu ngotot membangun IKN untuk dijadikan ibukota yang baru bagi Indonesia, dan di sana, sebagaimana pernah kita bahas, ada simbol-simbol Freemason, seperti simbol mata satu (All Eye Sering), bintang David, dan Obelisk. Namun, melalui Peraturan Presiden Nomor 79 Tahun 2025, Prabowo ternyata hanya menjadikan IKN sebagai ibukota politik Indonesia, bukan ibukota negara Indonesia," kata Amir.
Atas hal itu, Amir meminta Prabowo mewaspadai pengangkatan Jokowi menjadi Dewan Penasehat Global Bloomberg, karena tidak menutup kemungkinan kalau pengangkatan itu sebetulnya sebuah kamuflase untuk menutupi tujuan yang sebenarnya. Apalagi karena Menteri Keuangan yang baru, yakni Purbaya Yudhi Sadewa, mengatakan bahwa ia tidak percaya kepada IMF.
"Kita tidak menuduh, akan tetapi pengangkatan Jokowi itu memang aneh, seaneh ketika Times menyebut Jokowi sebagai The New Hope, dan apa faktanya sekarang? Setelah lengser, Jokowi dikejar-kejar untuk dipenjarakan karena ijazahnya diduga palsu, karena ketika menjadi presiden kebijakan-kebijakannya banyak yang merugikan rakyat, dan di tahun 2024 dia juga masuk nominasi pemimpin paling korup di dunia versi OCCRP," tegas Amir.
Seperti diberitakan sebelumnya, Bloomberg mengangkat Jokowi menjadi salah satu dari 22 anggota Dewan Penasehat Global Bloomberg. Di antara ke 22 orang yang dipilih tersebut ada nama Michael R. bloomberg, sang pendiri Bloomberg LP & Bloomberg Philanthropies wekaligus Walikota New York tiga periode; ada Mario Draghi, mantan Perdana Menteri Italia dan mantan Presiden Bank Sentral Eropa; dan Gan Kim Yong, Wakil Perdana Menteri serta Menteri Perdagangan dan Industri Singapura.
"Kami membentuk Dewan Penasihat Global baru pada April 2025 untuk membantu kami mengatasi tantangan kompleks yang dihadapi dunia. Kelompok penasihat ini memiliki pengalaman di tingkat tertinggi bisnis, pemerintahan, dan organisasi multilateral, dan masukan mereka akan sangat penting dalam memandu upaya kami," kata Bloomberg dikutip harianumum.com, Selasa (23/9/2025).
Amir mengatakan, berdasarkan informsii yang ia dapat, Bloomberg piawai dalam merekayasa moneter, merekayasa ekonomi global dan merekayasa keuangan global.
"Bila ia memang berkolaborasi dengan kelompok Kosmopolitan, maka Prabowo harus betul-betul waspada, khususnya pada sektor ekonomi, baik pada skala fiskal maupun skala moneter," pungkasnya. (rhm)






