Washington, Harian Umum - Ketidakpuasan publik Amerika Serikat (AS) terhadap penanganan ekonomi oleh Presiden Donald Trump, meningkat seiring dengan semakin dalamnya kekhawatiran atas kenaikan harga dan stabilitas ekonomi yang bisa memicu resesi.
Menurut jajak pendapat yang dilakukan AP-NORC Center for Public Affairs Research, hanya 30% warga Amerika yang menyetujui penanganan ekonomi oleh Trump, itupun turun 8% dari Maret lalu yang mencapai 38%.
Pada saat yang sama, 73% responden menggambarkan ekonomi AS sebagai buruk, sementara 72% mengatakan negara tersebut menuju ke arah yang salah, mencerminkan pesimisme ekonomi yang meluas.
Persetujuan publik terhadap penanganan biaya hidup oleh Trump juga menurun tajam, dengan hanya 23% yang menyatakan persetujuan dan 76% yang tidak setuju.
Jajak pendapat ini dilakukan ketika harga bensin dan biaya hidup secara lebih luas terus meningkat di AS akibat perang yang dikobarkan AS bersama Israel terhadap Iran yang berkontribusi pada ketidakpastian ekonomi global.
Pasar energi global melonjak pada Senin, di mana harga minyak dan gas naik tajam di tengah tanda-tanda kegagalan negosiasi antara AS dan Iran.
Harga minyak mentah Brent naik 6,3%, diperdagangkan di atas $96 per barel pada pukul 22:15 GMT, mendekati ambang batas kritis $100. Lonjakan ini mencerminkan meningkatnya kekhawatiran pasar atas gangguan pasokan yang terkait dengan ketidakstabilan geopolitik di kawasan Teluk.
Kenaikan harga ini menyusul laporan bahwa Iran belum membuat keputusan apakah akan terlibat dalam putaran negosiasi baru dengan Amerika Serikat.
Kantor berita IRNA mengatakan bahwa "tidak ada prospek yang jelas untuk negosiasi yang membuahkan hasil".
Meskipun ada sedikit fluktuasi dalam peringkat persetujuan, sentimen keseluruhan terhadap ekonomi AS tetap sangat negatif.
Survei menunjukkan bahwa persepsi kinerja ekonomi telah memburuk sejak Februari, ketika 66% menggambarkan ekonomi sebagai buruk dibandingkan dengan 73% pada hasil survei sebelumnya.
Tingkat persetujuan atas keseluruhan kebijakan Trump juga sedikit menurun menjadi 33%, sementara pandangan publik terhadap Wakil Presiden JD Vance dan kedua partai politik utama sebagian besar tetap tidak berubah.
Temuan ini menyoroti kecemasan ekonomi yang terus-menerus di kalangan warga Amerika, dengan mayoritas menyatakan kekhawatiran tentang inflasi, arah negara, dan stabilitas keuangan jangka panjang. (man)






