Yogyakarta, Harian Umum-Sebanyak 143 Lurah, 1 Panjabat Lurah se-Kabupaten Gunungkidul dilantik Gubernur DIY secara virtual, pada Kamis (11/06) siang di Ruang Media Center, Gedhong Pracimosono, Komplek Kepatihan, Yogyakarta. Mengenakan baju adat, para lurah itu diminta menjaga tanah desa dan tanah keraton
"Tetapi selain pesan simbolik itu, ada pesan nyata yang ingin saya titipkan untuk dijalankan. Yaitu, agar para Lurah menjaga keberadaan tanah desa dan tanah keraton lainnya yang ada di desanya masing-masing. Seperti halnya yang saya pesankan secara simbolik: Jagalah Klampis Ireng dari tangan-tangan "Sêmar-Sêmar Samar" yang tidak kita inginkan kehadirannya," ujar Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X seperti dilansir laman jogjaprov.go.id, Kamis (11/6).
Dalam kesempatan ini, hanya ada 5 perwakilan lurah yang dilantik di Gedhong Pracimosono, sementara lainnya tetap berada di wilayah masing-masing dan terbagi menjadi 16 lokasi yakni Bangsal Wiyotoprojo (Wonosari) serta di 15 pendopo di Kapanewonan Gunungkidul.
Lebih lanjut, Sultan mengutarakan bahwa sebagai abdi, Semar tidak hanya setia, tetapi juga kritis. Berkat dia dan anak-anaknya, dalam wayang ada polarisasi. "Wayang tidak hanya merupakan pentas penguasa, tetapi juga suara kritis kaum abdi. Semar bukan hanya mengimbau atau mengajari nilai-nilai yang tidak hanya sebagai pengetahuan saja, tetapi harus mewujud dalam tindakan nyata seperti halnya perumpamaan ngelmu iku kalakone kanthi laku," kata Sultan.
Sultan menambahkan bahwa Semar sejatinya adalah penjelmaan dari wong cilik, tetapi di sisi yang lain, Semar juga anak dewa. Maka dari itu, dalam diri Semar, wong cilik itu tidak hanya merupakan sesuatu lapisan sosial, tetapi juga golongan masyarakat yang punya keleluhuran, harkat dan martabat yang tidak boleh dihina.(hnk)







