TANGSEL, HARIAN UMUM - Warga Puri Intan, Pisangan, Ciputat, Kota Tangerang Selatan (Tangsel) terus melawan rencana eksekusi yang akan dilakukan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. Perlawanan warga dilakukan atas dasar tebang pilih dalam melakukan penggusuran.
Salah seorang warga berinisial JL menyatakan bahwa, UIN Jakarta tidak berkeadilan dalam menggusur, terbukti dari beberapa warga yang tidak ikut dieksekusi.
"Ada Rumah Mantan Rektor Bu Amani Baharuddin Lubis, Rumah Artis Faruk Afero, ada juga rumah orang tuanya Bu Amani, Bapak Baharuddin Lubis, itu semua punya sertipikat dan tidak diblokir oleh UIN. Rumah-rumah orang itu ngga kena gusur. , "kata JL saat ditemui wartawan, Sabtu (14/12/2019).
JL menuturkan, selain tidak berkeadilan, pun UIN pun dituding tidak berperikemanusian. Eksekusi yang dilakukan kali pertama, UIN menggunakan tangan organisasi masyarakat (ormas) yang masuk, dan menghancurkan beberapa bangunan.
"Waktu itu ada ormas, dibatalkan masuk, listrik diputus, telepon dicabut, pagar rumah digoyang-goyang biar rusak. Terasa dulu intimidasinya dari UIN. Kami anggap itu tidak berperikemanusiaan," tambah JL.
Sementara itu, Sekretaris Partai Solidaritas Indonesia (PSI) DPRD Kota Tangsel Aji Bromokusumo menyatakan bahwa UIN harus lebih mengedepankan sisi kemanusian dalam melakukan eksekusi. Warga yang ada, kata Aji, perlu diajak duduk bersama dalam mediasi.
"Kita harus melihat sisi kemanusiaannya. Sebenernya mereka ngga ada masalah kalo mau digusur, makanya kemarin kami (Fraksi PSI) meminta perpanjangan waktu untuk mereka mengemas barang-barang mereka," kata Aji.
"Kami tidak mencampuri urusan warga dan UIN, kami juga tidak mengintervensi karena tidak ada hak kami. Tapi, kami berbicara manusia, manusia yang harus berbicara, tidak untuk diintimidasi, dan diusir begitu saja. Mereka (warga Puri Intan) yang datang ke kami, memang menyatakan adanya tebang pilih, oleh sebab itu kami memohon kepada UIN, lebih adil dan lebih mengedepankan sisi pertolongan, "tandasnya.







