Jakarta, Harian Umum- Satu lagi tokoh nasional akan berurusan dengan kepolisian akibat kasus dugaan penistaan agama yang diatur dalam pasal 156a KUHPidana.
Tokoh ini adalah cagub petahana di Pilkada Jawa Tengah 2018 yang juga merupakan kader PDIP; Ganjar Pranowo.
"Kami dari Forum Umat Islam Bersatu (FUIB) bermaksud melaporkan Ganjar Pranowo secara resmi di Bareskrim Mabes Polri pada Selasa (10/4/2018) pukul 13:00 WIB," ujar Ketua Umum FUIB Rahmat Himran melalui keterangan tertulis seperti dikutip harianumum.com, Senin (9/4/2018).
Ia menyebut, laporan ini terkait pusi berjudul "Kau Ini Bagaimana atau Aku Harus Bagaimana" yang dibacakan Ganjar saat Program Rosi dengan tema "Kandidat Jawa Tengah" yang tayang di Kompas TV.
"Puisi tersebut sangat menyinggung Umat Islam dimana terdapat kalimat yang mengandung unsur SARA Dan Penistaan Agama," jelas Rahmat.
Kalimat dimaksud adalah:
"Kau ini bagaimana?
Kau bilang Tuhan sangat dekat
Kau Sendiri yang memanggil manggilnya dengan pengeras suara setiap saat"
Informasi yang dihimpun menyebutkan, puisi yang dibacakan Ganjar itu merupakan karya Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) yang dibuat pada 1987.
Puisi ini pada zaman Orde Baru kerap menjadi inspirasi pergerakan dan demonstrasi terhadap pemerintahan era Soeharto. Lirik dalam setiap bait puisi tersebut bertebaran dalam pamflet penggerak aksi demonstrasi.
Penulis Abu Asma Anshari melalui buku Ngetan-Ngulon mengategorikan puisi ini sebagai salah satu karya Gus Mus yang paling fenomenal.
"Menjelang reformasi, puisi itu banyak memberi inspirasi di kota-kota besar, yang tertuang dalam tulisan pamlfet-pamflet dan spanduk-spanduk rentang yang diusung mereka saat berdemonstrasi," tulis Anshari.
Lewat puisi itu Gus Mus mengkritik banyak hal dilematis bagi masyarakat menghadapi penguasa represif. Kala itu juga terjadi carut marut kehidupan sosial di masyarakat yang mulai serakah dan individualistis.
"Bukan hanya penguasa, bahkan rakyat memiliki sifat serupa. Sifat tersebut adalah feodalistik, suka memerintah dan suka menekan," ujar CNN Indonesia mengutip Anshari.
Ganjar sendiri membantah dirinya melecehkan Islam.
"Puisi bagus gitu, masak saya melecehkan? Pasangan saya saja Gus, putra Kiai. Itu orang yang bilang saya dungu, sudah minta maaf," kata Ganjar di Demak, Minggu (8/4/2018).
Berikut puisi karya Gus Mus yang tengah menjadi polemik itu:
Kau Ini Bagaimana Atau Aku Harus Bagaimana
Kau ini bagaimana
Kau bilang aku merdeka
Tapi kau memilihkan untukku segalanya
Kau ini bagaimana
Kau suruh aku berfkir
Aku berfikir kau tuduh aku kafir
Aku harus bagaimana
Kau suruh aku bergerak
Aku bergerak kau waspadai
Kau bilang jangan banyak tingkah
Aku diam saja kau tuduh aku apatis
Kau ini bagaimana
Kau suruh aku memegang prinsip
Aku memegang prinsip
Kau tuduh aku kaku
Kau ini bagaimana
Kau suruh aku toleran
Aku toleran kau tuduh aku plin-plan
Aku harus bagaimana
Kau suruh aku bekerja
Aku bekerja kau ganggu aku
Kau ini bagaimana
Kau suruh aku taqwa
Tapi khotbah keagamaanmu membuatku sakit jiwa
Kau suruh aku mengikutimu
Langkahmu tak jelas arahnya
Aku harus bagaimana
Aku kau suruh menghormati hukum
Kebijaksanaanmu menyepelekannya
Aku kau suruh berdisiplin
Kau mencontohkan yang lain
Kau bilang Tuhan sangat dekat
Kau sendiri memanggil-manggilnya dengan pengeras suara setiap saat
Kau bilang kau suka damai
Kau ajak aku setiap hari bertikai
Aku harus bagaimana
Aku kau suruh membangun
Aku membangun kau merusakkannya
Aku kau suruh menabung
Aku menabung kau menghabiskannya
Kau suruh aku menggarap sawah
Sawahku kau tanami rumah-rumah
Kau bilang aku harus punya rumah
Aku punya rumah kau meratakannya dengan tanah
Aku harus bagaimana
Aku kau larang berjudi
permainan spekulasimu menjadi-jadi
Aku kau suruh bertanggungjawab
kau sendiri terus berucap Wallahu Alam Bis Showab
Kau ini bagaimana..
Aku kau suruh jujur
Aku jujur kau tipu aku
Kau suruh aku sabar
Aku sabar kau injak tengkukku
Aku kau suruh memilihmu sebagai wakilku
Sudah ku pilih kau bertindak sendiri semaumu
Kau bilang kau selalu memikirkanku
Aku sapa saja kau merasa terganggu
Kau ini bagaimana..
Kau bilang bicaralah
Aku bicara kau bilang aku ceriwis
Kau bilang kritiklah
Aku kritik kau marah
Kau bilang carikan alternatifnya
Aku kasih alternative kau bilang jangan mendikte saja
Kau ini bagaimana
Aku bilang terserah kau
Kau tak mau
Aku bilang terserah kita
Kau tak suka
Aku bilang terserah aku
Kau memakiku
Kau ini bagaimana
Atau aku harus bagaimana
(rhm)







