JAKARTA, HARIAN UMUM - Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan kembali menjelaskan lebih jauh soal instalasi bambu Getih Getah soal instalasi bambu Getah Getih di Bundaran HI, Jakarta Pusat, yang kini telah dibongkar.
Hal itu disampaikan Anies menanggapi banyaknya komentar negatif akan keberadaan karya seni tersebut. Anies menyampaikannya lewat akun Facebooknya, Sabtu (20/7/2019).
Menurut Anies instalasi tersebut dipasang menjadi bagian acara Asian Games. Hal itu hanya bersifat sementara bukan permanen.
"Pertama, instalasi itu memang bagian dari penyambutan acara Asian Games Agustus tahun lalu. Sebagaimana berbagai atribut dan banner yang dipasang di sekitar Senayan dan berbagai wilayah Jakarta, itu semua bukan bersifat permanen. Seselesainya Asian Games maka semua atribut/banner dilepas kembali," tulisnya.
"Begitu juga dengan instalasi Bambu ini, dia tidak permanen. Saat itu diproyeksikan bisa bertahan 6 bulan. Ternyata malah bisa tahan lebih lama. Dan, kini memang sudah umurnya untuk diturunkan. Tidak ada yang aneh. Normal-normal saja. Selesai acara ya memang diturunkan," lanjutnya.
Anies juga menjelaskan soal anggaran pembuatan instalasi bambu getah getih. Dana yang dipakai tidak menggunakan APBD melainkan dari perusahaan swasta atau CSR.
"Kedua, ada yang bertanya soal biaya. Perlu disadari bahwa pengeluaran pemerintah itu beda dengan pengeluaran perusahaan atau pribadi. Pengeluaran pemerintah juga bertujuan menggerakkan perekonomian, meratakan manfaat anggaran untuk orang banyak. Apalagi, jika penerima manfaat itu adalah kelompok-kelompok masyarakat yang jarang menerimanya. Itu prinsip elementer dalam ekonomi makro," kata Anies.
Anies memaparkan dipilihnya metarial bambu agar dana pembuatan bisa menjangkau para petani bambu. Sebab dampaknya dapat menggerakan ekonomi kecil.
"Oleh karena itu, kita secara sengaja memilih instalasi dari bahan bambu agar dana itu menjangkau petani bambu, seniman bambu, dan tenaga kerja trampil di bidang bambu. Jasa angkutan, para tukang yang memasang hingga tukang yang membongkar. Itu semua adalah implikasi dari pilihan material bambu ; Ia menggerakkan ekonomi lokal, kecil dan rakyat kebanyakan," ujarnya.
"Bambunya pasti bukan impor, petaninya tentu lokal. Dana itu diterima bukan oleh pelaku ekonomi raksasa, tapi justru oleh pelaku ekonomi mikro dan kecil," tambahnya.
Ke depan Anies justru memandang perlu ada anggaran yang lebih besar untuk para seniman. "Jadi memang di masa yang akan datang Jakarta justru perlu lebih banyak memberikan anggaran untuk para seniman, apalagi jika saat berkarya mereka menggunakan material lokal dan menggerakan ekonomi rakyat kebanyakan," kata Anies.
Berbicara karya seni sendiri, kata Anies memiliki nilai tersendiri dan bisa dinikmati masyarakat. "Ketiga, soal karya seni itu sendiri. Alhamdulillah, syukur tak terhingga banyaknya warga yang sudah menyaksikan, menikmati dan bahkan berswafoto di depan karya seni bambu Getih Getah itu," tulisnya lagi
Bahkan Anies menambahkan, karya seni dari bambu tersebut juga digunakan di mancanegara. Karya seniman berkelas yang merupakan hasil karya putra bangsa Joko Avianto itu layak mendapat apresiasi.
"Karya bambu yang serupa sudah dipampang di Esplanade Singapura (foto 7), Yokohama, Jepang (foto 8 ) dan di Frankfurt, Jerman (foto 9). Kita senang ada putra bangsa, seorang seniman berkelas, Joko Avianto yang seni bambunya ikut mewarnai salah satu pusat kota Jakarta selama hampir setahun," terangnya.
Karya seni tersebut tidak hanya dinikmati di negara lain namun juga dipampang di negri sendiri. "Seni bambu karya Joko Avianto itu bukan hanya jadi tamu mempesona di negeri orang, tapi juga tuan rumah di negeri sendiri!"
Seperti diketahui bambu Getah Getih di Bundaran HI sudah dibongkar sejak Rabu (17/7) malam. Pemasangan bambu tersebut sudah dilakukan sejak Agustus 2018 menjelang Asian Games.Biaya yang dikucurkan untuk bambu Getah Getih pun tidak murah. Biaya pembangunan instalasi tersebut mencapai Rp 550 juta dengan bantuan 10 BUMD DKI. (Zat)






