Jakarta, Harian Umum - Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia mengklaim 341 dari sekitar 900 kepala keluarga (KK) di Pulau Rempang, Kota Batam, Kepulauan Riau, telah bersedia pindah dengan sukarela.
Bahlil mengaku, data itu ia dapat saat melakukan kunjungan kerja ke Batam pada Jumat (6/10/2023) kemarin.
Selama di sana, dia bertemu dengan masyarakat di sebuah masjid di Tanjung Banun, tempat di mana warga Rempang akan digeser dari desa asalnya, dan meninjau hunian sementara yang telah dihuni oleh beberapa warga Rempang.
"Dan sekarang kita lihat, ini ada dari 900 Kepala Keluarga (KK) kurang lebih, sudah 341 KK yang sudah secara sukarela mau melakukan pergeseran. Dan 17 KK sudah kita tempatkan di tempat ini," kata Bahlil dalam keterangannya, Sabtu (7/10/2023).
Untuk diketahui, ada lima.kampung di Rempang yang warganya akan digeser ke Tanjung Banun, yakni Kampung Pasir Panjang, Blongkeng, Sembulang Hulu, Sembulang Tanjung dan Pasir Merah. Kelima kampung ini dihuni 961 KK.
Bahlil mengaku, 70% warga Pasir Panjang telah setuju untuk digeser.
"Di Tanjung Banun tadi saya ketemu dengan masyarakat perwakilan dari beberapa kampung, termasuk dari Kampung Pasir Panjang. Tadi ada dua kelompok masyarakat. Satu masyarakat yang saya salat bareng dan mereka datang, yang itu memang mereka sudah bersedia untuk melakukan pergeseran. Bahkan data dari Kampung Pasir Panjang itu sudah 70 persen mereka ingin melakukan pergeseran," katanya.
Meski demikian, Bahlil tidak menutup mata terhadap fakta masih adanya sebagian warga yang menolak untuk melakukan pergeseran. Justru menurutnya di situlah peran pemerintah untuk terus melakukan komunikasi yang baik kepada masyarakat.
"Setelah saya dari masjid, ada juga sekelompok ibu-ibu yang menyampaikan aspirasi untuk belum mau digeser. Mereka masih ingin tetap di sana. Itulah negara kita negara demokrasi. Jadi justru di situ semakin meyakinkan kepada saya bahwa penting kami pemerintah terus melakukan komunikasi yang baik, sosialisasi yang baik," ujarnya.
Bahlil yakin dengan komunikasi yang baik, masyarakat akan mengerti bahwa pengembangan investasi semata-mata untuk keuntungan masyarakat sekitar dan ekonomi nasional.
"Tugas kita adalah meyakinkan kepada mereka. Tugas kita adalah bicara baik-baik sama mereka. Yang namanya kita geser orang. Kita pindahin dari rumah A ke rumah B itu pasti butuh proses waktu. Dan saya yakin BP Batam, Pak Kapolda, Pak Gubernur dan kami semua akan selalu berupaya terus untuk bagaimana cara meyakinkan. Insyaallah kok," katanya.
Seperti diketahui masyarakat Rempang digusur pemerintah, yang kemudian diberi istilah "pergeseran atau digeser", karena di pulau itu akan dibangun proyek Eco City yang dikerjakan PT Makmur Elok Graha (MEG), anak perusahaan milik taipan Tommy Winata.
Di proyek itu kabarnya akan dibangun pabrik kaca oleh perusahaan asal China Xinyi Glass Holdings Ltd yang digemar-gemborkan Bahlil sebagai perusahaan kaca terbesar di dunia, tapi belakangan terungkap kalau Xinyi bukan perusahaan seperti yang gembar gemborkan Bahlil. Perusahaan itu bahkan pernah diusir dari Kanada. (rhm)







