Jakarta, Harian Umum - Prabowo Subianto, calon Presiden (Capres) kembali mengumumkan bahwa pasangan nomor urut 02 memenangkan Pemilu Presiden (Pilpres) 2019.
Pada deklarasi kemenangan keduanya tersebut, mantan Danjen Kopassus tersebut didampingi Sandiaga Salahuddin Uno, calon Wakil Presiden (Cawapres). Deklarasi kemenangan digelar di kediaman Prabowo di jalan Kertanegara, Jakarta.
Menananggapi deklarasi kemenangan Prabowo tersebut, Sosiolog Musni Umar mengatakan, pngumuman Prabowo Subianto sangat penting sebagai counter attack untuk menghentikan pembentukan opini yang dilakukan melalui hasil Quick Count lembaga survei yang ditayangkan televisi swasta yang memenangkan Petahana.
"Jika hal itu dibiarkan pembentukan opini oleh lembaga survei yang menggunakan media pemilik pemodal, maka bisa meruntuhkan moral pendukung Prabowo-Sandi yang bertugas di TPS untuk mengamankan suara hasil pencoblosan di TPS yang akan diakumulasikan dalam perhitungan manual di KPU," kata Musni melalui keterangan tertulisnya, Kamis (18/4/2019).
Dari kacamata sosiologis, Musni melamjutkan apapun hasil akhir perhitungan KPU tentang pemenang Pilpres tahun 2019, Prabowo-Sandi menurut persepsi publik adalah pemenangnya.
Musni menyebutkan setidaknya ada lima alasan yang mendasari bahwa Prabowo-Sandi adalah pemenang Pemilu.
Pertama, kampanye Prabowo-Sandi sejak 23 September 2018 sampai 13 April 2019 selalu dihadiri massa yang luar biasa besar yang saya sebut lautan manusia. Kondisi semacam itu, tidak didapatkan pesaingnya.
Kedua, kondisi ekonomi yang terpuruk yang dialami sebagian besar rakyat Indonesia, siapapun yang berkuasa sulit mendapat dukungan suara rakyat dalam Pemilu.
Ketiga, ketidak-adilan ekonomi dan hukum yang merajalela, tidak mudah yang berkuasa mendapatkan dukungan suara dari rakyat dalam Pemilu.
Keempat, pengangguran dan kemiskinan yang dialami banyak rakyat Indonesia, pasti mereka memberikan dukungan suara mereka kepada pihak oposisi.
Kelima, besarnya dukungan massa dalam kampanye terakhir Prabowo-Sandi di Gelora Bung Karno dan kampanye di berbagai daerah seluruh Indonesia tidak mungkin tidak berimplikasi secara signifikan dalam perolehan suara Prabowo-Sandi dalam Pemilu 17 April 2019.
"Satu-satunya jawaban publik kalau Prabowo-Sandi sampai kalah hasil perhitungan KPU karena dicurangi secara sistimatik. Semoga hal ini tidak terjadi," tandasnya. (Zat)







