Jakarta, Harian Umum - Ketua Himpunan Masyarakat Nusantara (Hasrat) Sugiyanto menilai, Penjabat Gubernur DKI Jakarta Heru Budi Hartono harus ditarik oleh Istana dan digantikan oleh sosok yang lebih mumpuni untuk mengelola Jakarta.
Ia mengusulkan sosok pengganti Heru adalah Marullah Mataali, tokoh Betawi yang saat ini menduduki jabatan Deputi Gubernur Bidang Budaya dan Pariwisata Pemprov DKI Jakarta.
"Heru Budi diyakini akan gagal melaksanakan 3 pesan Presiden Jokowi, yakni mengatasi banjir, mengatasi kemacetan, dan penataan tata ruang, karena upaya yang telah dilakukan Heru Budi tampaknya belum membuahkan hasil sebagaimana yang diharapkan masyarakat dan pemerintah pusat," kata Sugiyanto melalui telepon Senin (29/7/2024).
Aktivis yang akrab disapa SGY itu menyebut, Heru dilantik menjadi Pj gubernur DKI Jakarta pada 17 Oktober 2022, tetapi saat ini, setelah hampir dua tahun Heru menjabat, kemacetan di Jakarta masih parah. Begitu juga banjir.
Di sisi lain, tata ruang di Jakarta tak banyak yang berubah.
Ia menduga, kegagalan Heru itu diakibatkan oleh fakta bahwa sejak dilantik hingga hari ini Heru masih menjabat sebagai kepala Sekretariat Presiden (Kasetpres), sehingga sangat nyata Heru rangkap jabatan.
"Karena rangkap jabatan, Heru harus membagi perhatiannya antara mengurus Jakarta dan memenuhi kebutuhan Presiden Jokowi," imbuh SGY.
Aktivis yang tinggal di Jakarta Utara ini mencontohkan; bBlerdasarkan informasi yang ia peroleh, diketahui kalau pada Minggu (28/7/3024), Presiden Jokowi meresmikan tol dan meninjau IKN. Heru bersama Menteri PUPR dan Sekretariat Presiden sibuk mempersiapkan segala kebutuhan Presiden untuk berkantor di IKN.
Akibatnya, perhatian penuh Heru terfokus pada agenda tersebut dan tidak bisa sepenuhnya berkonsentrasi pada permasalahan di Jakarta.
"Rangkap jabatan yang diemban Heru menunjukkan bahwa mengatasi persoalan kompleks di Jakarta membutuhkan dedikasi penuh dan perhatian yang tidak terbagi. Dengan beban tugas yang terpecah, sulit bagi Heru untuk mencapai target yang telah ditetapkan oleh Jokowi, sehingga persoalan-persoalan besar di Jakarta tetap belum terselesaikan," tegasnya.
SGY berharap setelah masa jabatan Heru selesai pada Oktober 2024, Presiden Jokowi tidak lagi memperpanjang jabatan Heru sebagai Pj gubernur Jakarta, dan menggantinya dengan sosok lain yang lebih mumpuni.
"Di lingkungan Pemprov DKI Jakarta banyak orang-orang hebat yang sangat paham dengan lika-liku Jakarta serta dinamisasinya. Sebaiknya pilih di antara mereka," katanya.
Ketika ditanya sosok yang mana yang dimaksud, SGY mengatakan banyak.
"Salah satunya Marullah Mataali. Dia pernah menjadi Sekda, dia birokrat dan sekarang menduduki jabatan Deputi Gubernur Bidang Budaya dan Pariwisata," katanya.
Ia meyakini, sebagai tokoh Betawi, Marullah paham bagaimana Jakarta dan dinamikanya, dan sebagai seorang birokrasi, Marullah pasti tahu bagaimana mengatasi problem Jakarta," katanya.
Menurut SGY, jika Jokowi jabatan jabatan Heru sebagai Pj Gubernur DKI Jakarta, maka fix Jokowi hanya memikirkan kepentingan dirinya saja, dan tidak sungguh-sungguh menginginkan yang terbaik bagi Jakarta.
"Nama Jokowi yang telah tercoreng oleh beragam isu, akan makin tercoreng," pungkasnya. (rhm)







