Jakarta, Harian Umum - Siapa bilang hobi tidak dapat dijadikan profesi dengan penghasilan yang menggiurkan? Salah satunya adalah hobi sebagai pencinta alam, termasuk mendaki gunung.
"Betul, kegiatan pencinta alam itu sangat positif sebagai bekal di masa depan, karena sekarang ini industri wisata, termasuk wisata petualang, sedang mengalami kemajuan yang pesat, sehingga membuka peluang untuk dijadikan profesi," ujar Ketua Umum (Ketum) Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia (APGI), Rahman Mukhlis, Jumat (28/7/2023) malam di sela-sela Jambore Sispala Jakarta 2023 di Ekowisata Mangrove PIK, Pluit, Jakarta Utara.
Ia menyebut, selain mendaki gunung, arung jeram, panjat tebing dan susur gua termasuk juga yang bisa dijadikan profesi.
"Penghasilannya besar. Malah kalau mau melamar calon istri, calon mertua senang," selorohnya.
Khusus untuk mendaki gunung sebagaimana yang ditekuninya, Rahman menjelaskan bahwa profesi yang dapat digeluti dari kegiatan ini adalah menjadi pemandu wisata gunung sebagaimana yang juga ia lakoni.
Saat ini ia bahkan juga mengelola Biro Perjalanan Wisata dan Event Organizer (EO) Main Outdoor.
"Untuk menjadi pemandu wisata gunung, harus punya kompetensi yang semuanya dapat dipelajari selama menjadi pendaki gunung, seperti manajemen administrasi; menyiapkan logistik berupa peralatan, perlengkapan dan konsumsi; menyambut wisatawan, memberikan briefing dan mendampingi saat perjalanan; serta pertolongan pertama," katanya.
Karenanya, Rahman menyarankan kepada para pendaki gunung agar tak hanya menjadikan kegiatan ini sebagai hoby semata, tetapi juga mulai diorientasikan sebagai profesi di masa depan.
Konsekuensinya, lanjut dia, maka selama menjadi pendaki gunung benar-benar harus memahami semua hal yang terkait dengan hal ini.
"Karena untuk menjadi pemandu wisata gunung, kompetensi saja tidak cukup, tetapi juga harus punya sertifikat kompetensi yang dikeluarkan lembaga berwenang. Untuk mendapatkan sertifikat itu, calon pemandu wisata gunung harus menjalani Uji Kompetensi yang terdiri dari 20 unit Kompetensi, tapi semuanya dapat dipelajari selama menjadi pendaki dan pemandu gunung, juga ilmu-ilmu dasar dari organisasi pecinta alam," katanya.
Rahman mengakui, menjadi pecinta alam, termasuk menjadi pendaki gunung, memang banyak manfaatnya, karena selain dapat dijadikan profesi, kegiatan ini juga dapat membangun karakter individu menjadi pribadi-pribadi yang unggul, karena menjadi pecinta alam membuat orang belajar tentang nilai-nilai kehidupan yang tidak dipelajari di bangku sekolah; membangun individu menjadi pribadi-pribadi yang mandiri, bertanggung jawab, dan bersosialisasi dengan orang lain.
"Dulu, awalnya saya juga gak terpikir untuk menekuni profesi sebagai pemandu wisata gunung, karena saya menjadi pendaki gunung karena hobi yang kemudian menjadi passion. Bahkan dulu saya juga kerap bertanya pada diri sendiri; apa bisa hidup dari mendaki gunung? Tapi ternyata bisa. Bahkan profesi sebagai pemandu wisata gunung membuat kehidupan saya dan keluarga cukup," katanya
Rahman mulai menjadi pecinta alam sejak SMP, dan mulai mendaki gunung saat sekolah di SMA 38, Jakarta, dan bergabung dengan Sispala TALAM 38.
Saat ini telah banyak sekali gunung di dalam dan.luar negeri yang telah ia daki, di antaranya Gunung Salak, Gunung Gede Pangrango, Gunung Kinibalu, Kilimanjaro dan Cartenz.
Rahmat juga tercatat sebagai salah satu anggota Seven Summit Indonesia, sebuah ekspedisi yang telah mendaki tujuh puncak gunung tertinggi di Indonesia.
"Saya menyukai gunung karena gunung membuat kita damai, menyatu dengan alam dengan mahluk hidup yang lain, bertemu dengan berbagai manusia dari berbagai belahan dunia, dan mengetahui karakteristik budaya di berbagai negara, Indonesia khususnya,' pungkasnya. (man)





