Teheran, Harian Umum - Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, mengejek Amerika Serikat karena Menteri Energi negara adi daya itu, Chris Wright, memposting informasi bahwa Angkatan Laut AS telah mengawal sebuah kapal tanker minyak melalui Selat Hormuz.
Namun, sebagaimana dilansir Tasnim News Agency, Gedung Putih segera membantah pernyataan tersebut dengan menyebutnya sebagai informasi yang tidak akurat, sehingga postingan itu langsung dihapus.
"Para pejabat Iran mengecam Washington karena menyebarkan informasi yang salah untuk memanipulasi pasar minyak global," kata Tasnim, Rabu (11/3/2026).
Kontroversi dimulai ketika Wright memposting di media sosial pada pukul 13.02 Waktu Bagian Timur AS (17.00 GMT) bahwa Angkatan Laut AS telah berhasil mengawal sebuah kapal tanker minyak melalui Selat Hormuz yang sejak 28 Februari 2026 ditutup Iran karena hari itu AS dan Israel menyerang Iran, sehingga Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei tewas..
Dalam postingan itu, Wright memuji pemerintahan Presiden AS Donald Trump karena "menjaga stabilitas energi global selama operasi militer melawan Iran.
Namun, 30 menit kemudian postingan tersebut dihapus dengan tanpa penjelasan.
Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, mengklarifikasi bahwa tidak ada pengawalan seperti itu yang disampaikan Wright..
"Saya dapat memastikan bahwa Angkatan Laut AS belum mengawal kapal tanker atau kapal apa pun saat ini," katanya kepada wartawan.
Ia menambahkan bahwa meskipun pengawalan militer tetap menjadi pilihan, belum ada operasi yang dilakukan hingga hari Selasa.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengeritik unggahan Wright yang telah dihapus sebagai disinformasi yang disengaja.
“Para pejabat AS menyebarkan berita palsu untuk memanipulasi pasar,” tulisnya di media sosial.
“Itu tidak akan melindungi mereka dari tsunami inflasi yang telah mereka timpakan kepada rakyat Amerika," imbuhnya.
Araqchi lebih lanjut memperingatkan bahwa pasar minyak global menghadapi “kekurangan terbesar dalam sejarah", melampaui dampak gabungan dari Embargo Minyak Arab, Revolusi Islam Iran, dan invasi Kuwait.
Pemerintahan Trump telah berulang kali berjanji untuk memastikan arus energi bebas melalui selat tersebut.
Pada 3 Maret, Trump mengklaim di Truth Social bahwa US Development Finance Corporation akan menawarkan “asuransi dan jaminan risiko politik” untuk kapal yang melintasi Hormuz dengan “harga yang sangat wajar.”
Ia juga mengisyaratkan potensi dukungan militer, dengan menyatakan, “Jika perlu, Angkatan Laut Amerika Serikat akan mulai mengawal kapal tanker melalui Selat Hormuz sesegera mungkin".
Namun, janji itu tidak terwujud.
Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang memasok seperlima atau 20% kebutuhan minyak global. Penutupan Selat ini oleh Iran telah membuat pasokan terhambat dan harga minyak mentah dunia hingga tembus $ 100 dolar per barel pada Senin (9/3/2026). American Automobile Association melaporkan, lonjakan harga minyak dunia membuat harga bensin di AS naik sebesar 43 sen selama seminggu terakhir, sehingga harga bensin di Negeri Paman Sam saat ini rata-rata berada di kisaran $3,54 per galon atau 94 sen per liter.
Penentangan publik terhadap perang dengan Iran tetap tinggi di AS.
Sebuah jajak pendapat Universitas Quinnipiac yang dirilis Senin menemukan bahwa 53% pemilih AS sangat menentang tindakan militer negaranya terhadap Iran.
Survei Reuters-Ipsos terpisah minggu lalu menunjukkan ketidaksetujuan yang lebih kuat, dengan 60% responden menentang perang tersebut. (man)







