SEBELUM Musim Semi Makar meletus, ada informasi bahwa kalangan elite kategori Forbes telah dibisiki akan ada penggantian presiden, bahkan sekitar dua minggu sebelumnya.
----------------------------
Oleh: Adian Radiatus
Aktivis Tionghoa Pemerhati Sosial Politik
Musim semi adalah musim di mana bunga-bunga mulai tumbuh dan bermekaran, menciptakan pemandangan indah laksana di surga. Kedatangan musim jenis ini selalu disambut dengan suka cita oleh rakyat di negeri yang memilikinya. Selalu.
Namun, berbeda di negeri kita, Indonesia, di mana negeri kita hanya punya dua musim, yakni musim kemarau dan musim hujan, akan tetapi siklus kedatangan musim-musim inipun telah terganggu oleh pemanasan global yang membut musim kemarau "dikudeta", sehingga ketika bulan-bulan di mana Matahari seharusnya bersinar cerah hingga sangat terik, dan membuat tanah persawahan retak-retak, hujan tetap turun yang membuatnya disebut sebagai kemarau basah.
Belum lama ini, tepatnya pada tanggal 28-31 Agustus 2025, muncul "musim semi" yang konon telah dipersiapkan oleh pihak-pihak tertentu sejak setahun lalu. Musim semi itu tidak memunculkan bunga-bunga yang bermekaran di antara dedaunan hijau, akan tetapi memunculkan gerombolan "bunga" yang meneriakkan tuntutan-tuntutan yang disertai aksi anarkis, dan dibalas aparat dengan tembakan watercanon, gs air mata, pukulan, tendangn, dan penangkapan.
"Musim semi" itu memang hanya sebentar, hanya empat hari, yang kemudian oleh Presiden Prabowo Subianto diteriakan sebagi aksi yang bertujuan untuk makar terhadap pemerintahannya.
Tragis, musim semi itu telah layu sebelum mencapai puncak musim, dan Prabowo mengatakan telah tahu siapa otak di baliknya.
"Saya akan hadapi mafia-mafia yang sekuat apapun. Saya hadapi atas nama rakyat. Saya bertekad memberantas korupsi, sekuat apapun mereka. Demi Allah, saya tidak akan mundur setapak pun. Saya yakin rakyat bersama saya," kata Prabowo pada 1 September 2025.
"Mafia" dan "korupsi" adalah kata-kata kunci mengarah pada otak pelaku makar. Pengamat Intelijen Sri Radjasa Chandra di podcast Madilog menyebut nama mafia minyak Riza Chalid sebagai penyandang dana "Musim Semi Makar" itu, dan juga keterlibatan Geng Solo di mana Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo disebut-sebut sebagai bagian dari geng yang diduga kuat dipimpin mantan Presiden Joko Widodo itu.
Menarik, ketika Presiden melakukan reshuffle kabinet pada 8 September 2025, Kapolri, juga Menteri ESDM Bahlil Lahadahla dan Menteri BUMN Erick Thohir yang juga disebut-sebut sebagai bagian dari Geng Solo, tidak ikut digusur bersama Menteri Koperasi Budi Arie Setiadi, serta Menteri Pemuda dan Olahraga Dito Ariotejo yang juga disebut-sebut masuk grup Geng Solo.
Ada sekitar 17 menteri dari pemerintahan Joko Widodo yang dilantik lagi oleh Prabowo pada tanggal 21 Oktober 2024 untuk menjadi menteri di kabinetnya, dan ada puluhan pendukung Joko Widodo yang dilantik menjadi wakil menteri (Wamen), staf khusus, utusan khusus dan lain-lain. Salah satu pendukung Joko Widodo yang dilantik menjadi Wamen di Kementerian Ketenagakerjaan, yakni Immanuel Ebenezer, telah ditangkap KPK karena terlibat pemerasan dalam pengurusan sertifikat K3 di Kementerian Ketenagakerjaan.
Mengapa hanya lima menteri yang direshuffle Presiden, sementara nama Geng Solo disebut-sebut dalam peristiwa "Musim Semi Makar"? Bahkan dari lima menteri yang diganti, hanya Budi Arie dan Dito yang diketahui sebagai bagian dari Geng Solo, sementara Menteri Keuangan Sri mulyani lebih kuat disebut sebagai agen IMF; Menko Polkam Budi Gunawan adalah orangnya Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri; dan Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia Abdul Kadir Karding adalah orangnya Muhaimin Iskandar karena dia politisi PKB.
Analisa saya, Presiden tengah berupaya menjaga kondusifitas negara di tengah rongrongan untuk menggulingkan dirinya dari kursi RI 1. Ia harus meredam gejolak masyarakat yang secara kebatinan memang telah diguncang oleh kebijakan pemerintahan Joko Widodo yang selama 10 tahun (2014-2024) membuat hidup mereka susah dan penuh tekanan, serta oleh perilaku DPR yang justru tidak bertindak dan berbuat sebagaimana layaknya wakil rakyat, karena alih-alih mengedepankan kepentingan rakyat pemilihnya, sehingga mereka duduk di gedung Parlemen, mereka justru menjadi kolaborator pemerintahan yang lalu, sehingga terbit berbagai aturan perundang-undangan yang menyakiti rakyat sebagaimana tercermin dari disahkannya Perppu Cipta Kerja "buatan" Jokowi Widodo, menjadi Omnibus Law UU Cipta Kerja.
Namun, di tengah kinerja yang tidak mencerminkan sebagai wakil rakyat, DPR yang punya hak budgeter menaikkan gaji dan tunjangannya, sehingga amarah rakyat meledak.
Presiden harus menstabilkan negara sembari membenahi kerusakan yang dibuat pemerintahan sebelumnya, karena jika tidak, amarah rakyat yang ditunggangi kepentingan untuk melakukan makar, yang hingga kini masih tercium aromanya, akan berbalik menyerang Presiden, karena dia bisa dianggap sebagai pemimpin yang tidak becus, terlebih karena selama ini tak sedikit rakyat yang menjulukinya sebagai Presiden Omon-omon.
Namun, bagaimanapun upaya menciptakan Musim Semi Makar merupakan perbuatan yang sangat jahat, karena jika benar ada keterlibatan Geng Solo di dalamnya, maka ini menunjukkan bahwa ambisi Joko Widodo dkk untuk terus berkuasa di Indonesia masih sangat kuat, dan mereka akan melakukan apa saja untuk mencapai ambisinya. Bahkan, bisa jadi akan muncul Musim Semi Makar II.
Beruntung, tak semua rakyat dapat terseret gelombang yang diciptakan para aktor di balik Musim Semi Makar itu. Terbukti, mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM-SI) sempat menunda demo karena amuk massa masih berlangsung, dan mengubah strategi perjuangan dengan menyampaikan aspirasi secara langsung lewat perwakilannya kelada DPR yang dikenal dengan tuntutan 17+8.
Saya setuju dengan pernyataan Presiden Prabowo yang menegaskan bahwa dirinya akan terus maju untuk memimpin bangsa ini, karena rakyat ada bersamanya, ada di belakangnya, dan hal itu memang tercermin dari naiknya popularitas Presiden setelah Musim Semi Makar yang tidak mencapai puncaknya itu, berakhir. Rakyat kini menaruh harapan kepada Presiden untuk membawa bangsa ini ke arah yang lebih baik.
Namun, menurut hemat saya, Presiden perlu mengambil langkah-langkah strategis dan komprehensif meski dari 17+8 tuntutan rakyat, cenderung lebih banyak ditujukan kepada DPR. Melalui menteri-menteri terkait, Presiden harus dapat mendorong DPR untuk mempercepat pengesahan RUU Perampasan Aset misalnya, dan menjalin komunikasi yang baik dengan rakyat, akademisi, aktivis dan elemen-elemen masyarakat yang lainnya.
Presiden harus dapat meyakinkan publik bahwa pemerintahannya berbeda dengan pemerintahan Joko Widodo, dan bukan pemerintahan omon-omon.
Segala sesuatu, apalagi jika menyangkut perbaikan sistem dan aspek struktural pemerintahan, memang memerlukan waktu, akan tetapi jika bercermin pada bagaimana dalam kurun waktu 10 bulan saja sebuah komplotan petualang politik telah berkonspirasi dengan tujuan utama pergantian pemerintahan, terlepas apakah komplotan itu memang Geng Solo atau bukan, sangatlah jelas dan tidak lagi dapat disembunyikan bahwa bangsa dan negara Indonesia saat ini tengah menghadapi pergumulan antara kebaikan dan kejahatan.
Adalah mudah untuk melakukan riset dan analisis terhadap gangguan yang sangat serius itu, untuk membuktikan apakah Geng Solo terlibat atau tidak, yakni dengan melakukan penelusuran secara terbalik, yaitu siapakah yang akan mengambil keuntungan bila konspirasi itu menang? Siapa yang akan memimpin jika Musim Semi Makar itu berhasil? Siapa sajakah anggota kabinet yang akan tetap saat pemerintahan hasil makar itu terbentuk? Dan bagaimana sistem pemerintahannya?
Komplotan yang mendesain Musim Semi Makar itu, menurut saya pasti ada dalam lajur formal dan non formal, di mana yang non formal biasanya menjadi arsitek perancang gerakan hingga cara pengambil alihan kekuasaannya, sementara yang dalam lajur formal merupakan fasilitator dari setiap tahapan gerakan, mencakup pengendalian di lembaga legislatif, yudikatif dan eksekutif hingga tahapan eksekusi perubahannya.
Saya meyakini, dalam lajur formal ini kemungkinan ada dari kalangan elite yang memang sejak lama antipati terhadap Presiden Prabowo..
Saya membaca, Musim Semi Makar itu diawali dari sebuah narasi yang dibangun, yang berbunyi: "Baru sepuluh bulan saja rakyat sudah tidak suka, sudah dibuat susah, rakyat sudah antipati", dan sejenisnya, tetapi yang kita saksikan justru sebaliknya.
Mereka kini mungkin bukan panik, tetapi tengah sibuk mencari cara licik untuk membantah dan berpura-pura bersahabat, padahal ada informasi bahwa kalangan elite kategori Forbes telah dibisiki akan ada penggantian presiden, bahkan sekitar dua minggu sebelumnya. Bila benar, maka memang sungguh berbahaya komplotan petualang politik ini.
Tidak ada jalan selain membersihkan, menertibkan dan disesuaikan selagi Musim Semi Makar ini berakhir dan berada di musim gugurnya, di mana kini mereka tiarap hingga musim dingin, sebelum musim panas tiba dan kemudian akan berusaha menggeliat lagi untuk menciptakan Musim Semi Makar II. Jangan sampai terjadi, karena saya percaya di musim II pemerintahan Prabowo belum tentu bisa menghadapinya, karen tentu sisat dan strategi mereka akan lebih hebat dan canggih, begitupun dengan fasilitas-fasilits pendukungnya.
Saat itu Indonesia sudah banyak sekali kemajuan selama dipimpin Prabowo Subianto. Maka, ketegasannya selalu dinanti-nantikan sebagai sebuah keniscayaan. (*)







