Jakarta, Harian Umum - Lembaga pemeringkat Moody’s Investors Service menurunkan outlook peringkat kredit Indonesia dari stabil menjadi negatif, akan tetapi sovereign credit rating Indonesia tetap dipertahankan di level Baa2.
Peringkat senior unsecured jangka panjang mata uang lokal dan asing juga tetap berada di Baa2, sementara program medium term note senior secured mata uang asing serta program shelf senior unsecured dipertahankan pada level yang sama.
Dengan level Baa2, Indonesia masih berada dalam kategori investment grade atau layak investasi karena level Baa2 menunjukkan kapasitas yang memadai dalam memenuhi kewajiban keuangan.
Outlook negatif mencerminkan peningkatan risiko terhadap profil kredit dalam 12 hingga 18 bulan ke depan. Namun, outlook negatif tidak serta-merta berarti penurunan peringkat (downgrade).
Dalam pernyataannya pada Kamis (5/2/2026), Moody’s menyebut penurunan outlook dipicu oleh menurunnya prediktabilitas dan koherensi perumusan kebijakan. Komunikasi kebijakan juga dinilai kurang efektif sepanjang setahun terakhir.
Moody’s menilai, kondisi tersebut berisiko melemahkan kredibilitas kebijakan di mata investor serta mencerminkan pelemahan tata kelola pemerintahan.
“Ini tercermin dalam peningkatan volatilitas pasar saham dan valuta asing,” tulis Moody’s.
Keputusan Moody'sy itu ikut menekan pasar keuangan domestik. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun signifikan dan rupiah melemah terhadap dollar AS setelah pengumuman penurunan outlook.
Dalam pernyataannya, Moody’s juga menyoroti pembentukan sovereign wealth fund (SWF) baru, yakni Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara). Lembaga tersebut dinilai berpotensi menimbulkan kewajiban kontinjensi serta memunculkan pertanyaan terkait prioritas investasi dan kerangka tata kelola jika tidak diimbangi koordinasi yang kuat.
Sejumlah analis memperingatkan, outlook negatif dapat meningkatkan risk premium aset Indonesia, terutama obligasi jangka panjang dan saham perusahaan milik negara besar.
Menanggapi hal itu, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, penurunan outlook itu tidak perlu dikhawatirkan, karena perekonomian Indonesia telah berbalik arah dan diproyeksikan tumbuh lebih cepat.
“Ya, biar aja seperti itu, yang menjelaskan ekonomi kita sudah berbalik arah, lebih cepat daripada sebelumnya. Ke depan akan membaik juga, lebih bagus lagi saya pikir, pertumbuhan akan lebih cepat,” jelasnya kepada awak media di Kementerian Keuangan dikutip dari kompas.com, Sabtu (7/2/2026).
Purbaya menjelaskan, lembaga pemeringkat pada dasarnya menilai dua aspek utama, yakni kemampuan dan kemauan pemerintah dalam membayar utang, dan menurutnya, kekhawatiran yang muncul lebih bersifat jangka pendek.
Selama fondasi ekonomi terus membaik, terutama tercermin dari kinerja ekonomi kuartal IV yang dinilai kuat, tidak ada alasan meragukan komitmen Indonesia dalam memenuhi kewajiban utangnya.
“Nanti saya pikir pelan-pelan Moody’s akan melihat apa yang terjadi di sini dengan lebih fair (adil),” ujarnya.
Dari sisi fundamental, Purbaya menilai kondisi ekonomi Indonesia relatif lebih baik dibandingkan banyak negara lain, dengan tingkat utang yang masih terkendali.
Ia bahkan membuka peluang peningkatan peringkat kredit apabila pertumbuhan ekonomi mampu mencapai 6 persen atau lebih.
Purbaya menyebut Moody’s juga menyoroti kurangnya penjelasan pemerintah terkait Danantara dan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ia memastikan seluruh program berjalan efektif, efisien, dan tepat sasaran.
"Ya, pasti kita akan memastikan ekonomi berjalan lebih cepat dari sebelumnya. Program MBG kita pastikan berjalan tepat sasaran, efektif dan efisien,” jelasnya.
Ia menambahkan, pemerintah akan mencermati penggunaan anggaran agar tidak terjadi pemborosan yang tidak terkontrol. DPR telah memberi ruang bagi Kementerian Keuangan untuk melihat anggaran kementerian dan lembaga secara menyeluruh.
Evaluasi dilakukan satu per satu, termasuk terhadap MBG, untuk memastikan belanja pemerintah tepat sasaran, tepat waktu, serta meminimalkan kebocoran hingga tingkat pemerintah daerah.
“Mereka takut defisit melebar, tapi mereka tahu saya bisa kendalikan dengan baik,” jelasnya.
Ia menegaskan pemerintah memiliki kemampuan mengendalikan defisit dan menyebut arah kebijakan fiskal berada di jalur yang tepat. (man)


