TIDAK MASUK AKAL ada manusia yang tega sedemikian rupa menyodorkan secara sukarela negaranya yang merdeka, berdaulat, dijajah oleh bangsa dan negara lain.
-----------------------------
Oleh: Sri-Bintang Pamungkas
Presidium Hizbullah Indonesia
Dalam Buku Terjemahan Al Quran terbitan Departemen Agama di masa Orde Baru, lupa di surat berapa, ada kata-kata terjemahan "Penjahat Besar". Kata-kata itu mendapat sorotan beberapa ahli agama yang mengatakan, bahwa kata-kata terjemahan itu keliru. Seharusnya diterjemahkan sebagai "Pembesar Jahat". Tentang mana terjemahan yang benar dan mana yang keliru, saya serahkan kepada yang lebih ahli.
Bagi saya pribadi, saya anggap "sama saja" dengan pertimbangan, siapa saja "penjahat besar"-nya, yang kemudian naik menjadi penjabat negara. Maka, dia akan menjadi "pembesar jahat". Jadi, kejahatan itu sudah ada dari "sononya".
Orang-orang macam Jokowi, LBP, Nadiem, Ahok, Gorris, Mahfud MD, Jimly, SBY, Gibran, Megawati, Prabowo, para Capres 24 lainnya, dan lain-lain PKI Gaya Baru itu tidak secara mendadak menjadi jahat, tetapi dari "sono"-nya memang sudah ada sifat jahatnya. Di dalam hatinya ada penyakit: mengabaikan kepentingan rakyat, bangsa dan negara, dan lebih mementingkan dirinya, kelompoknya dan jabatannya, serta tergila-gila menumpuk harta.
Sekalipun jutaan rakyat harus hidup menderita, miskin, tersiksa dan mati kelaparan, lebih penting pula memberi kehidupan makmur kepada pihak asing dan para Cina pendatang. Astagfirullah aladzim naudzubillahi mindzalik! Allahu Akbar!
Saya kira dewasa ini banyak di antara kita, kalau tidak sebagian besar dari rakyat Indonesia, yang mengharapkan Perubahan Besar di Republik ini, tentu bukan "perubahan" sebagaimana dikampanyekan oleh para Capres 24, serta mengganti Rezim Jahat yang berkhianat terhadap cita-cita Proklamasi 45. Mereka memang harus dijatuhkan, dijungkirbalikkan, dicampakkan, dihukum berat agar tidak hidup dan berkuasa kembali, dan diganti! Bagaimana caranya?!
Begini, terlebih dulu analisisnya:
Kita, rakyat Indonesia, di mana Kedaulatan Negara ada di tangannya, pernah menjatuhkan Soeharto. Pada 10 tahun pertama, kita berterima kasih kepada Soeharto yang telah menyelamatkan kita dari bahaya akibat pemberontakan PKI, tetapi sesudah itu Soeharto menjadi jahat, ingin berkuasa terus dan mengabaikan kepentingan rakyat, lalu menjadi diktator.
Kebetulan, TNI pun menjadi tidak sepenuhnya mendukung Rezim Orde Baru, sehingga ketika terjadi Krisis Moneter dan terbunuhnya 4 (empat) orang mahasiswa Trisakti, lalu disusul oleh dibakarnya Jakarta dan Kota-kota lain, termasuk pertokoan milik Cina, serta banyak kejadian lainnya, kekuasaan Rezim Jahat Soeharto pun berhasil ditumbangkan. Tidak pula bisa dipungkiri adanya intervensi asing dalam rangka penumbangan tersebut, demi kepentingan asing sendiri.
Masa-masa jatuhnya Soeharto, berikut segala kejadian sebelum dan sesudahnya, bisa menjadi pelajaran berharga bagi kita sekarang. Tidak pula bisa kita mengabaikan kenyataan bahwa Rezim Jokowi ingin berkuasa lebih lama lagi mengendalikan NKRI untuk menyelesaikan misinya bersama Xi Jinping, agar RRC menguasai NKRI. Kali ini rezim Jokowi menggunakan Prabowo dan Gibran untuk menyelesaikan misinya itu.
Memang tidak masuk akal ada manusia Iblis yang tega sedemikian rupa menyodorkan secara sukarela negaranya yang merdeka, berdaulat, dijajah oleh bangsa dan negara lain. Masukkanlah mereka, ya Allah ke Neraka Jahanam! Tentulah rakyat harus melawan mereka pula, seperti kita pernah melawan Soeharto dulu.
Kita tahu, bahwa pada hakekatnya Soeharto, Habibie, Gus Dur, Mega, SBY dan Jokowi adalah Boneka-boneka Asing, dan sekarang kita tahu Prabowo adalah Boneka Jokowi. Sebab, tanpa Jokowi maka Prabowo tidak akan menang Pilpres. Oleh sebab itu, Bowo sudah pasti menghamba dan bahkan rela sujud kepada Jokowi. Apa pun yang disampaikan Jokowi pasti akan dilaksanakan dengan sepenuh hati. Karena itu, tidak mungkin akan terjadi perubahan dalam masa kepemimpinan Bowo.
Bahkan, selama periode Bowo-Joko itu NKRI akan sepenuhnya berada di bawah penjajahan RRC dan AS berikut Aliansi Barat-nya. Oleh sebab itu, sudah seharusnya kita menolak Rezim Jokowi dan menolak Prabowo-Gibran sebagai pasangan terpilih 2024. Jangan sampai pasangan Bowo-Gibran telanjur dilantik 20 Oktober nanti. Kita masih punya waktu cukup untuk merancang penolakan itu. Bukankah Soeharto terpilih Maret, lalu Mei bisa jatuh?!
Karena itu yang perlu diketahui adalah syarat-syarat penjatuhan itu.
Pertama, tentulah ada sebagian takyat Indonesia yang menolak Joko dan Bowo dan menginginkan ada Perubahan Rezim. Kekuatan besar, People's Power, ini sudah ada, yaitu yang menuntut kembali berlakunya UUD1945 dan penjatuhan Jokowi, sekalipun masih belum solid betul.
Kedua, ada kelompok TNI, baik yang purnawirawan maupun yang masih aktif, yang menolak Rezim Jokowi dan menolak Wowok. Ini diibaratkan seperti Petisi 50 di bawah Jenderal Nasution dan Ali Sadikin waktu itu... Sekarang ini pun sudah ada situasi pembangkangan seperti itu, sebagaimana disampailan sendiri oleh Jenderal Try Sutrisno, Soeharto, Soenarko, Soedarto, Nurmantyo dll.
Ketiga, ada kondisi perekonomian yang memburuk, mirip dengan Krisis Moneter 97/98. Situasi menuju kondisi perekonomian yang memburuk sudah mulai terlihat dengan naiknya harga dollar mencapai Rp. 16.200 sekarang, dan masih ada waktu beberapa bulan untuk naik ke angka Rp. 20.000, serta memicu hiperinflasi.
Keempat, adanya tuntutan para akademisi dan guru besar-guru besar datang menemui Jokowi untuk memintanya mundur. Perihal seperti ini dilakukan oleh beberapa guru besar Universitas Indonesia di bawah pimpinan rektornya seminggu sebelum akhirnya Soeharto mundur.
Kelima, perlunya beberapa menteri dan calon menteri yang mundur dari Kabinet Jokowi, dan menolak bergabung dengan Kabinet Prabowo. Mundurnya 14 menteri ini terjadi beberapa hari sebelum Soeharto mengumumkan Kabinet Reformasi pada Mei 1998.
Keenam perlunya peristiwa yang berakibat tertembak matinya mahasiswa, seperti dialami 4 orang mahasiswa Universitas Trisakti pada 12 Mei 1998. Bahkan peristiwa itu diikuti dengan dibakarnya Jakarta dan beberapa kota lain. Mudah-mudahan tidak ada korban kebakaran yang jumlahnya mencapai ratusan seperti pada waktu itu.
Ketujuh, adanya desakan kuat dari beberapa negara besar, khususnya negara-negara tetangga, agar Jokowi dan Prabowo sebaiknya mundur saja dari percaturan politik untuk menghindari ketidakdamaian di kawasan Asia Tenggara dan menghindari Perang Saudara di dalam negeri, yaitu akibat dari kemarahan dan pembangkangan rakyat.
Kedelapan, sudah perlu kiranya dibentuk Komando Pertahanan Sipil Tolak TKA Cina. Cina-Cina asal daratan RRC yang mengaku pekerja tersebut harus dideportasi karena dicurigai mereka adalah Tentara Cina Komunis yang mau menguasai wilayah Indonesia.
Terakhir, kesembilan, umat Islam Indonesia, terbesar di dunia, harus bangkit. Para intelektualnya harus memimpin perubahan. Tanpa kemauan mengubah diri, maka Allah pun tidak akan membantu untuk perubahan.
Wahai Umat Islam Indonesia, mana semangat Jihadmu...?!
@SBP






