Jakarta, Harian Umum - Arkeolog Universitas Indonesia Candrian Attahiyat mengatakan tergusurnya perkampungan Betawi di Ibu Kota sebagai imbas dari pembangunan. Candrian menyampaikan pendapatnya itu saat menjadi pembicara dalam diskusi Orang Betawi dan Situs Sejarah Betawi di Komunitas Bambu Jalan Taufiqurahman, Beji Timur, Depok, Ahad, 19 Maret 2017.
Penggusuran itu telah berlangsung sejak era Muhammad Husni Thamrin, saat dia aktif di pemerintahan antara 1919-1940. Langkah ini dilakukan Husni untuk menata ulang bentuk perkampungan yang saat itu tidak beraturan.
Ciri perkampungan Betawi pada masa kolonial adalah pembangunan rumah secara sporadis sehingga tidak beraturan dan jalan berkelok-kelok. Agar bentuknya terlihat rapih dan menjadi kota yang lebih baik. Di sinilah dia mulai menggusur perkampungan Betawi.
"Yang awalnya jalanan tidak beraturan dibuat lurus-lurus sehingga menjadi ciri perkotaan," ucapnya. "Sejak 1905 ciri rumah betawi yang tidak punya pagar, mulai tergantikan dengan bangunan yang mampunyai paga rumah. Perubahan kultur mulai terjadi saat itu."
Pada era Gubernur Ali Sadikin, pembangunan kawasan Mangga Dua dibagi menjadi dua, yakni di sisi utara dan selatan. Ali Sadikin mencaplok kawasan Marunda dan Kamal untuk membangun perkotaan. Rumah berpagar mulai tumbuh seiring diberlakukannya Undang-undang Agraria pada 1960. Sejak saat itu, sudah jarang ditemui pagar rumah orang Betawi yang dibatasi pohon melinjo, sawo, dan sawo kecik. Padahal, pagar pohon menjadi ciri khas rumah orang Betawi.
Selain itu, pergeseran kampung Betawi di Jakarta seperti keberadaan supermarket, yang masuk ke kampung. Setiap pembangunan, dipastikan berdampak pada perubahan kultur. Namun, budaya tidak bisa dipasung, karena sifatnya yang dinamis.
Meski keberadaan kampung Betawi sudah tidak ada lagi di Jakarta, tapi budayannya masih bisa disesuaikan. "Secara kultur orang Betawi mengalah. Mereka pindah dan bergeser. Bahkan, mereka akan kehilangan itu, jika tidak mau lagi meramaikan kultur Betawi," ucapnya.
Menurut Candrian, saat ini perlu ada upaya untuk melestarikan budaya Betawi. Jangan sampai budaya Betawi tersisihkan, seperti masyarakatnya.
"Masyarakatnya memang sudah terpinggirkan. Tapi, budayanya harus bisa dikembalikan ke tengah Jakarta," ujarnya.
tempo.co







