Jakarta, Harian Umum- Ketua Masyarakat Pemantau Kebijakan Eksekutif dan Legislatif (Majelis) Sugiyanto menilai, poros ketiga kemungkinan besar akan terbentuk akibat sikap Gerindra dan ketua umumnya, Prabowo Subianto, yang mencla mencle dan tak jelas dalam menentukan Cawapres.
"Keyakinan saya terjadinya poros ketiga bisa 90%," katanya kepada harianumum.com melalui telepon, Rabu (8/8/2018).
Ia menjelaskan, hingga hari ini yang merupakan -2 penutupan pendaftaran Capres-Cawapres, Prabowo masih belum juga memutuskan siapa Cawapres-nya, meski PAN dan PKS yang sejak awal telah menyatakan berkoalisi dengan Gerindra, sepakat untuk mengusung Prabowo di Pilpres 2019.
Tak hanya itu, PAN dan PKS juga telah mengusulkan nama-nama yang dapat dipilih Prabowo sebagai Cawapres-nya.
"Namun Prabowo tak juga memilih, malah larak lirik ke sana ke mari, dan menerima lobi-lobi partai lain, khususnya Demokrat," katanya.
Ketidakjelasan Prabowo berlanjut meski hasil ijtima GNPF-Ulama merekomendasikan Salim Segaf Al Jufri dan Ustad Abdul Somad, sementara di kubu Presiden Jokowi meski masih belum diumumkan, setidaknya tiga nama telah muncul yang digadang-gadang sebagai Cawapres mantan Walikota Solo itu, yakni Moeldoko, Mahfud MD dan Tuan Guru Bajang (TGB).
Terakhir, bahkan terhembus kabar kalau Prabowo akan menjadikan putra sulung SBY, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), sebagai Cawapres-nya.
"Kondisi ini membuat PAN dan PKS kecewa, sehingga jika duet Prabowo-AHY terjadi, PAN dan PKS akan meninggalkan Gerindra dan membentuk poros ketiga," imbuh Sugiyanto.
Meski demikian aktivis yang akrab disapa SGY mengakui, karena koalisi PAN dan PKS tidak cukup untuk memenuhi persyaratan presidential threshold 20%, maka keduanya akan menarik PKB dari kubu Presiden Jokowi, karena sang Presiden sudah dapat dipastikan tidak memilih Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar sebagai Cawapres-nya.
"Agar PKB mau bergabung, PAN dan PKS bisa menjanjikan posisi Cawapres untuk Cak Imin (panggilan Muhaimin Iskandar, red), sementara untuk posisi Capres bisa dari PAN maupun PKS," imbuhnya.
Jika posisi Capres diberikan kepada PKS, jelasnya, maka PAN akan menjadi dirigen yang mengatur posisi kabinet dan lain-laun. Begitu pun sebaliknya; jika posisi Capres diambil PAN, maka PKS yang akan menjadi dirigen.
"Keberadaan poros ketiga ini memang dapat menguntungkan Jokowi, karena suara umat Islam yang seharusnya bulat ke Prabowo, akan terbelah untuk poros ketiga, tapi begitulah pokitik, karena politik adalah seni; the art of possible," pungkasnya. (rhm)







