Jakarta, Harian Umum - Ketua Umum Khitthah Ulama Nahdliyin, Gus Aam Wahib Wahab, mengimbau Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) agar mengembalikan NU pada khittahnya sebagai Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) Islam yang didirikan dengan tujuan yang sangat mulia.
"Imbaun kepada PBNU; kembalikan jam'iyah NU ke seruan Hadratusysyaikh (Maha Guru) KH Hasyim Asy'ari, yakni jam'iyah NU sesungguhnya adalah organisasi yang berdiri di atas landasan kebenaran & keadilan,
memperjuangkan kebaikan dan kesejahteraan bagi seluruh umat," kata Gus Aam seperti dikutip dari siaran tertulisnya, Selasa (6/8/2024).
Putera mantan Menteri Agama RI KHM Wahib Wahab yang juga cucu pendiri NU KH Abdul Wahab Hasbullah itu menjelaskan, dalam perspektif negara, NU adalah Ormas yang sifat, tujuan, fungsi dan ruang lingkup serta kerjanya dipertegas dan diatur oleh UU No 17 Tahun 2013 tentang Ormas, dan Perppu No 2 Tahun 2017 tentang perubahan atas UU No 17 Tahun 2013 tentang Ormas.
Dalam peraturan perundang undangan tersebut, jelas Gus Aam, telah jelas disebut mengenai sifat, tujuan, fungsi dan bidang garapan Ormas. Selain bersifat sosial dan mandiri, juga bertujuan untuk:
1. Meningkatkan partisipasi dan keberdayaan, serta memberikan pelayanan kepada masyarakat,
2. Menjaga, melestarikan & memelihara nilai agama, moral, etika dan budaya yang hidup di masyarakat.
3. Mengembangkan kesetiakawanan sosial, gotong royong dan toleransi dalam kehidupan bermasyarakat.
4. Menjaga, memelihara, memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa serta mewujudkan tujuan negara.
"Pendek kata, dari perspektif negara,NU sebagai Ormas Keagamaan harusnya Istiqomah, konsisten menjaga dan memelihara nilai-nilai agama, moral, etika dan budaya yang hidup di masyarakat, dan menjunjung tinggi kesetiakawanan sosial, serta memperkuat kesatuan dan persatuan bangsa guna mewujudkan tujuan negara dimaksud," jelas Gus Aam.
Selain itu, sambung dia, NU juga harus berperan aktif dalam melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.
"Begitulah antara lain sifat, tujuan, fungsi serta bidang garapan Ormas yang disebut dalam UU ke-Ormas-an," tegas Gus Aam.
Paralel dengan peraturan dan perundang undangan yang berlaku, kata Gus Aam, para muasis (ulama pendiri NU) juga telah menggariskan dengan tegas mengenai sosok atau jatidiri NU. Tentang hal ini bisa dibaca dalam dokumen historis berupa Muqoddimah Qonun Asasi (MQA) yang ditulis Hadratusysyaikh KH Hasyim Asy'ari di awal berdirinya NU yang hingga saat ini menjadi salah satu rujukan utama untuk mengukur kinerja NU.
Dalam MQA yang terdiri 38 ayat suci dan sejumlah hadits sahih tersebut, Mbah Hasyim Asy' ari juga menyinggung pentingnya membentuk suatu wadah perkumpulan guna memperjuangkan misi bersama.
Beliau mengatakan: "Bahwa sesungguhnya perkumpulan, perkenalan, persatuan, dan kerukunan adalah hal yang tidak perlu diragukan guna dan manfaatnya. Betapa tidak? Nabi Muhammad SAW bersabda: "Pertolongan Allah itu bersama-sama orang banyak. Maka, orang yang menyendiri (mengisolasi diri) akan disambar setan seperti halnya anjing hutan menyambar kambing (yang menyendiri)."
"Lantas Perkumpulan atau Jam'iyah seperti apa yang dijamin selamat dari sambaran setan?" tanya Gus Aam.
Ia menjelaskan berdasarkan keterangan KH Hasyim Asy'ari, yaitu perkumpulan yang senantiasa bertumpu di atas landasan keadilan dan kebenaran.
Sebab, jelas KH Hasyim Asy' ari terkait khitthah, ia menyitir sabda Nabi Muhammad SAW bahwa Allah SWT rela terhadap tiga hal dan benci terhadap tiga hal pula.
Allah SWT hanya rela apabila kalian :
1. Hanya menyembah (berbakti) kepada-NYA dan tidak sekali kali menyekutukan-NYA;
2. Berpegang teguh pada agama Allah dan tidak sekali kali bercerai berai; dan
3. Saling memberi nasehat kepada orang yang telah diangkat menjadi pemimpin.
Dan Allah SWT benci apabila kalian selalu :
1. Bertengkar atau bermusuhan;
2. Memperbanyak pertanyaan; dan
3. Menghambur-hamburkan harta benda secara tidak bermanfaat.
Selanjutnya KH Hasyim Asy'ari menyerukan seperti ini: "Marilah wahai para ulama sekalian beserta para pengikutnya, baik dari kalangan fakir dan kaya maupun lemah dan kuat, bersatupadulah ke dalam satu wadah berhimpun yang dinamakan Jam'iyah Nahdlatul Ulama. Masuklah kalian menjadi warga jam'iyah NU dengan penuh i'tikad baik, dan kasih sayang serta bersatu rukun baik lahir maupun batin. Sesungguhnya Jam'iyah NU adalah suatu organisasi yang berdiri di atas Landasan Keadilan dan Kebenaran, memperjuangkan kebaikan dan kesejahteraan bagi seluruh umat. Oleh karenanya, bagi orang orang yang beri'tikad baik tentu akan merasa senang dan puas bernaung dan masuk ke dalam organisasi ini, tetapi sebaliknya bagi orang orang yang beri'tikad jahat, tentu akan terhalang dengan Jam'iyah ini".
'Jadi, dari perspektif muasis, NU adalah organisasi atau jam' iyah yang berdiri tegak di atas landasan/pondasi KEBENARAN dan KEADILAN. Dalam bahasa pesantren disebut ASHABUL HAQ WAL 'ADL," jelas Gus Aam.
Atas dasar hal itu, Gus Aam mengatakan bahwa dari aspek berdirinya, NU tidak bsa disamakan dengan Ormas pada umum lnya, karena para Ulama mendirikan NU sebagai representasi perkumpulan manusia yang hanya takut kepada Allah SWT..
"Karena itu pilihan kata yang paling tepat untuk menggambarkan aktifitas dalam ber-NU adalah mengabdi (berkhidmah) kepada NU. Semua gerakan pikiran, sikap dan tindakan dalam rangka membesarkan NU haruslah diniatkan ibadah Li Ilaahi-i kalimatillah al-lati hiyal' ulya, bukan untuk kepentingan lainnya. Apalagi untuk kepentingan pragmatis, materi, kekuasaan jabatan dan lain lain yang bersifat duniawi," pungkas Gus Aam. (rhm)


