Jakarta, Harian Umum- Wilayah Sulawesi Tengah (Sulteng) masih terus diguncang gempa, meski sebagian besar wilayah itu telah porak poranda, raya dengan tanah, akibat guncangan gempa berkekuatan 7,4 SR yang disusul terjangan tsunami setinggi hingga 6 meter.
Data bmkg.go.id, Selasa (2/10/2018), menyebutkan, sejak dini hari hingga menjelang pukul 12:00 WIB, wilayah Donggala dan Sigi diguncang gempa bermagnitudo 5,0 SR dan 5,3 SR.
Gempa pertama terjadi pukul 00:39:02 WIB dengan kekuatan 5,0 SR. Gempa berpusat di titik kordinat 0.55 LU - 119.87 BT pada kedalaman 11 kilometer. Titik ini berada 14 kilometer tenggara Donggala.
Gempa kedua terjadi pukul 06:46:41 WIB dengan kekuatan 5,3 SR. Gempa berpusat di kordinat 0.57 LU - 119.87 BT pada kedalaman 10 kilometer. Titik ini berada 16 kilometer tenggara Donggala.
Gempa ketiga terjadi pukul 11:59:26 WIB dengan magnitudo 5,3 SR. Gempa berpusat di 1.59 LS - 120.2 BT pada kedalaman 10 kilometer. Kordinat itu berada 41 kilometer tenggara Sigli.
Tidak berpotensi tsunami," kata laman resmi BMKG itu.
Guncangan ketiga gempa ini membuat warga di Donggala, Palu, Sigli dan sekitarnya, berlarian menjauhi rumah mereka yang masih dapat dihuni, dan lokasi-lokasi pengungsian. Tim SAR dan relawan pun sempat meninggalkan pekerjaan mereka demi menghindari hal-hal yang tak diinginkan.
Sementara itu di rumah sakit-rumah sakit, pasien menolak di pindahkan ke dalam ruangan karena takut bangunan rumah sakit roboh.
Data BNPB menyebutkan, jumlah korban tewas di Palu dan Donggala yang sudah dievakuasi mencapai 844 orang, dimana 153 di antaranya kemarin telah dimakamkan secara massal di TPU Paboya dan di TPU di sekitarnya.
"Hari ini dimakamkan jenazah lebih banyak. Sudah disiapkan 15 truk dan 1.000 kantong jenazah," katanya dalam jumpa pers di Jakarta.
Ia juga mengatakan, untuk mempercepat evakuasi, pihaknya bukan hanya mengupayakan penambahan bantuan alat berat, tapi bantuan tenaga medis.
"Penanganan medis, jenazah, obat-obatan terus berdatangan. Karena rumah sakit tidak memadai, didirikanlah rumah sakit di lapangan. Banyak pasien yang ingin dirawat di luar mengantisipasi gempa susulan," imbuhnya.
Masih banyaknya jenazah yang masih tertimbun reruntuhan sejak gempa 7,4 SR mengguncang pada Jumat (28/9/2018), membuat aroma udara di Palu dan Donggala mulai tak sebab, karena jenazah-jenazah itu mulai membusuk. (rhm)





