Jakarta, Harian Umum- Mengejutkan! Meski berdiri sejak 1966 berdasarkan SK Gubernur DKI Jakarta Nomor 1b.3/2/17/1966, ternyata hingga kini PD Dharma Jaya baru menguasai 5% pangsa pasar daging di Ibukota.
Hal tersebut diungkap Johan Romadhon, Dirut PD Dharma Jaya yang baru dilantik pada 23 Mei lalu oleh Gubernur Anies Baswedan, untuk menggantikan Dirut sebelumnya, Marina Ratna Dwi Kusumajati yang mundur gara-gara Dharma Jaya tak lagi mendapatkan kucuran Pnyertaan Modal Daerah (PMD), dan public service obligation (PSO) senilai Rp41 miliar yang dijanjikan Wagub Sandiaga Uno untuk pembelian daging subsidi yang didistribusikan kepada para pemegang Kartu Jakarta Pintar (KJP), lamban dapat dicairkan.
Dana untuk tagihan April baru cair pada awal Juni, sementara untuk tagihan bulan Mei, pencairan oleh Pemprov DKI dijadwalkan pada alhir Juni atau awal Juli.
"Iya, pangsa pasar baru 5%," katanya kepada harianumum.com usai konferensi pers tentang inflasi harga pangan selama Ramadhan di Balaikota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Selasa (19/6/2018).
Ia menjelaskan, hal itu terjadi karena di era kepemimpinan-kepemimpinan sebelumnya, manajemen Dharma Jaya fokus pada pembenahan ke dalam.
"Karena itu di era saya sekarang, kita akan mulai fokus ke luar, pada sisi komersilnya," kata dia.
Untuk itu, pada akhir Juni 2018 ini Dharma Jaya akan membuka 10 outlet, dan pada bulan-bulan berikutnya akan dibangun antara 20-30 outlet. Semuanya berada di dekat lingkungan penduduk, sehingga pada akhir 2018 diharapkan harga daging sapi sudah dapat distabilkan.
Ketika ditanya di pemukiman di wilayah mana saja outlet-oulet itu akan dibangun? Johan mengatakan bahwa penentuan lokasi dikomunikasikan dengan beberapa komunitas, namun operasionalnya akan menggunakan aplikasi Etanee.
Ia juga memastikan bahwa daging yang dipasarkan merupakan daging frozen atau daging beku, dengan kisaran harga Rp85.000/kg untuk daging sapi, jauh lebih murah dari harga pasaran komoditi ini yang berada di kisaran Rp120.000/kg, bahkan sempat mencapai Rp163.787/kg pada Mei 2018 atau saat Ramdhan.
"Selama ini memang ada anggapan bahwa daging beku tidak bagus, tapi itu asumsi yang keliru karena daging beku tak jauh beda dengan daging yang baru dipotong; sama-sama layak konsumsi," katanya.
Johan berharap pangsa pasar Dharma Jaya akan segera meluas, mengingat BUMD ini didirikan sebagai pengelola usaha di bidang pemotongan dan pengadaan ternak maupun daging.
Aplikasi Etanee diyakini mampu menjamin keamanan pasokan bahan pangan kepada konsumen, karena menurut penemu aplikasi ini, Cecep M Wahyudin saat aplikasi dilaunching pada 22 Juni 2018, akan berkolaborasi dengan rumah potong hewan (RPH) dan rumah potong hewan unggas (RPHU) yang sudah memiliki sertifikasi halal, memiliki nomor kontrol veteriner (NKV) dan menerapkan proses produksi yang baik atau good manufacturing veteriner (GMP).
Di rantai pasok makanan, Etanee mengelola manajemen logistik dari petani di daerah hingga pengelolaan pasca-panen dan distribusinya, sehingga dengan aplikasi ini, warga diklaim dapat membeli bahan pangan dengan harga lebih murah karena dipesan secara online dan hemat biaya distribusi. (rhm)




