Teheran, Harian Umum - Gencatan senjata dua pekan yang disepakati Iran dan Amerika Serikat (AS) dengan perantara Pakistan, terancam batal.
Pasalnya, Parlemen Iran menilai AS dan Israel yang dicap sebagai negara agresor, telah melanggar gencatan senjata tersebut.
"Sejak awal, kami telah mengikuti proses ini dengan rasa tidak percaya, dan seperti yang telah kami duga, Amerika Serikat sekali lagi melanggar komitmennya, bahkan sebelum negosiasi dimulai,” kata Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf dalam unggahan di akun X-nya dikutip dari Tasnim News Agency, Kamis (9/4/2026).
Ia mempersoalkan tindakan Israel yang tetap membombardir Lebanon, meski kesepakatan gencatan senjata dengan AS mencakup Lebanon.
Israel bahkan melanggar gencatan senjata itu hanya beberapa jam setelah diumumkan, dan belum resmi ditandatangani.
“Seperti yang telah dinyatakan dengan jelas oleh Presiden Amerika Serikat, rencana sepuluh poin Republik Islam Iran adalah dasar dan kerangka kerja untuk pembicaraan ini. Namun, tiga poin dari proposal ini telah dilanggar sejauh ini," kata Qalibaf.
Ia memerinci ketiga poin yang telah dilanggar;
1. Kegagalan untuk mematuhi poin pertama dari rencana sepuluh poin mengenai gencatan senjata di Lebanon — sebuah komitmen yang juga secara eksplisit dirujuk oleh Perdana Menteri (Pakistan) Shahbaz Sharif, yang menyatakan bahwa itu adalah ‘gencatan senjata segera di mana pun, termasuk Lebanon dan wilayah lain, berlaku segera’;
2. Masuknya drone yang melanggar wilayah udara Iran, yang dihancurkan di kota Lar di Provinsi Fars, yang jelas melanggar klausul yang melarang pelanggaran lebih lanjut terhadap wilayah udara Iran
3. Penolakan untuk menerima hak Iran untuk memperkaya uranium, yang merupakan poin keenam dari kerangka kerja ini.
"Sekarang, bahkan sebelum pembicaraan dimulai, tiga klausul kunci dari 'Kerangka Kerja Dasar untuk Negosiasi' telah dilanggar secara terang-terangan dan mencolok. Dalam keadaan seperti itu, baik gencatan senjata bilateral maupun negosiasi tidak masuk akal," tegas Qalibaf. (man)







