Jakarta, harian Umum - Pembangunan depo MRT fase kedua dengan rute Bundaran HI-Ancol Timur tersebut mengalami kendala kekurangan lahan. Hal tersebut di katakan Sekda Pemprov DKI Jakarta Saefullah. Hanya ada empat dari enam hektare lahan yang dibutuhkan. Saefullah mengaku kondisi itu baru diketahui dalam rapat internal pemerintah Jakarta, Rabu lalu, setelah pemerintah mengumumkan lahan di Kampung Bandan juga tak bisa digunakan.
“Luasnya masih kurang,” kata dia kemarin.
Saefullah mengungkapkan dua opsi lain untuk mengatasi masalah tersebut. Pertama, MRT Jakarta mengoptimalkan luas lahan yang tersedia dan mengubah desain depo menjadi bertingkat. Opsi lainnya adalah memperpanjang lagi rute MRT sejauh satu kilometer menyeberang ke Pulau K, pulau reklamasi milik Pembangunan Jaya Ancol. Ia meminta MRT Jakarta menghitung nilai anggaran dari kedua opsi dan melaporkannya pekan ini.
Sementara itu Direktur Utama PT MRT Jakarta, William P. Sabandar, menyatakan menunggu penjelasan Pembangunan Jaya Ancol.
Mengenai opsi perpanjangan hingga ke Pulau K, William lebih memilih penggunaan lahan di Ancol Timur. Sebab, perpanjangan rute ke Pulau K berarti menambah dana proyek. Lagi pula perusahaannya masih harus menggelar studi kelayakan mendalam dan penelitian teknis kondisi tanah dan laut di pulau reklamasi.
“Kami ingin mendapatkan gambaran yang akurat,” Katanya.“Rencana perpanjangan ke pulau belum pernah dibicarakan,” dia menambahkan.
Di informasikan bahwa tanah di kawasan pulau reklamasi pulau K, milik Pembangunan Jaya Ancol yang sedang dibangun dikalah oleh gugatan para nelayan di pesisir Jakarta Utara oleh Pengadilan.






