Jakarta, Harian Umum - Aktivis '98 yang juga ketua umum Bro Anies (Bronies), Yusuf Blegur, menilai teriakan "Hidup Jokowi" yang dikumandangkan Presiden Prabowo Subianto di HUT Gerindra ke-17 pada tanggal 15 Februari 2025 telah menghancurkan reputasi Presiden RI ke-8 tersebut.
Apalagi karena sebelumnya, di Kongres XVIII Muslimat NU di Jatim Expo pada tanggal 10 Februari 2025, Prabowo menilai lucu jika ada yang ingin memisahkan dirinya dengan Jokowi.
"Prabowo sepertinya sedang tak sadarkan diri. Puja-puji terhadap Jokowi yang berlebihan, tak berdasar, dan tak sepantasnya yang terlontar dari mulut Prabowo telah membangun penilaian massal dan masif tentang dirinya di hadapan publik bahwa sejatinya Prabowo telah merendahkan dirinya sebagai presiden yang juga ketua umum partai politik, serta pemimpin rakyat, bangsa dan negara Indonesia," kata Blegur seperti dikutip dari siaran tertulisnya, Jumat (21/2/2025).
Menurut dia, kesan bahwa Prabowo tak Sudi dipisahkan Jokowi dan bahkan kemudian berteriak lantang "Hidup Jokowi!", seketika kepercayaan dan ekspektasi tinggi publik terhadap kepemimpinan Prabowo untuk melakukan dekonstruksi dan rekonstruksi Indonesia dari cengkeraman wabah korupsi dan kejahatan sistemik aparatur negara, telah hancur berkeping-keping.
"Etika, moral dan supremasi hukum yang diharapkan menjadi fundamental kebijakan dan sikap politik Prabowo sebagai presiden, hanya menyisakan reruntuhan," katanya.
Blegur yakin, seiring dengan berjalannya waktu, kekecewaan dan kemarahan rakyat terhadap Jokowi, kroni, dan oligarki akan mencapai klimaksnya.
"Menggandeng semua kekuatan progressif revolusioner, gerakan yang.muncul akan menabrak setiap kontra revolusioner di depannya, termasuk menggugat bahwa Prabowo sebenarnya berada dalam arus yang mana," imbuh dia.
Blegur melihat, Prabowo sepertinya semakin larut terseret dalam pusaran konspirasi dan distorsi Jokowi dan oligarki yang sedang menghadapi arus besar tuntutan pengadilan rakyat.
Ia bahkan menilai, sebagai presiden, Prabowo gagal menyadari dan menempatkan dirinya sebagai pemimpin yang dilahirkan sekaligus mengemban amanat penderitaan rakyat.
Prabowo, kata dia, lebih manut kepada Jokowi dan oligarki akibat kesulitan keluar dari politik sandera yang diterapkan Jokowi selama 10 tahun menjadi presiden (2014-2024) dengan oligarki sebagai tulang punggungnya.
"Jika tak mampu melakukan perlawanan dan pengorbanan untuk keluar dari politik sandera Jokowi beserta oligarki demi rakyat, bangsa dan negara Indonesia, maka Prabowo hanya tinggal menunggu waktu dan sejarah yang akan menulis tentang dirinya di mana dia akan ditulis sebagai penghianat sekaligus penjahat, atau pahlawan di Republik ini," Blegur mengingatkan.
Kini, tegas aktivis :98 ini pilihan ada pada Prabowo.
"Sebagai presiden, Prabowo mau apalagi?" tanya Blegur.
Seperti diketahui, pernyataan Prabowo di Kongres XVIII Muslimat NU di Jatim Expo pada tanggal 10 Februari 2025 memang memicu kontroversi, karena disampaikan di saat tuntutan agar Jokowi diadili makin mengkristal, bahkan dituliskan di tembok-tembok di berbagai daerah, termasuk di Solo.
Tuntutan itu makin menguat, salah satunya karena OCCRP memasukkan Jokowi sebagai salah satu pemimpin terkorup dunia untuk tahun 2024.
"Ada yang sekarang mau memisahkan saya dengan Pak Jokowi. Lucu juga, untuk bahan ketawa boleh, jangan, kita jangan ikut pecah belah-pecah belah itu kegiatan mereka-mereka yang tidak suka sama Indonesia," kata Pranowo.di Kongres XVIII Muslimat NU.
Masyarakat makin bereaksi setelah Prabowo meneriakkan "Hidup Jokowi!" di HUT Gerindra.
Reaksi itu bisa dilihat dari video-video parodi yang muncul di media sosial terkait teriakan Prabowo itu, terutama di YouTube, dan bahkan dipicu oleh kebijakan-kebijakan Prabowo yang dinilai tidak prorakyat, Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) terpancing untuk menggelar aksi bertajuk Indonesia Gelap di Patung Kuda pada 17 dan 20 Februari 2025.
Dalam aksinya, teriakan "Adili Jokowi" bergema, dan dari 13 tuntutan, salah satunya BEM SI meminta agar Polri direformasi karena kinerjanya telah melenceng jauh dari amanat undang-undang Polri, di mana Polri adalah pelindung dan pengayom masyarakat.
Polri bahkan sampai dijuluki Parcok alias Partai Coklat, karena selama Jokowi berkuasa sebagai Presiden, polisi terkesan menjadi alat gebuk bagi siapapun yang mengeritik dan menghina Jokowi.
Bahkan hingga kini Polri, juga KPK dan kejaksaan, tidak berani mengusut Jokowi meski telah dicap sebagai pemimpin terkorup dunia oleh OCCRP.
Lantas, setelah Prabowo berteriak "Hidup Jokowi!" akankah ada perubahan di Indonesia? Terutama pada aspek penegakan hukum? (rhm)







