Jakarta, Harian Umum - Pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut 01, Joko Widodo-Ma'ruf Amin unggul 55,6 persen berbanding 26,1 persen dari pasangan nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Demikian hasil survey yang dirilis Jaringan Suara Indonesia (JSI).
Direktur Eksekutif Jaringan Suara Indonesia (JSI), Fajar S Tamin, mengatakan dari survey tersebut, masih sulit bagi Prabowo-Sandi untuk memenangkan Pilpres 2019. "Dari hasil survey JSI keunggulan pasangan Jokowi-Ma'ruf sangat jauh dari Prabowo-Sandi. Keunggulan tersebut terjadi peningkatan dibanding pada Oktober 2018 sebesar 54,8 persen. Sementara Prabowo-Sandi mengalami penurunan. Dimana Oktober lalu elektabilitas pasangan nomor 02 itu mencapai 30,8 persen," ujar Fajar di Jakarta Pusat, Senin (25/3/2019).
Meski begitu menurut Fajar, hasil survey tersebut bukan berarti Prabowo-Sandi tidak berpeluang lagi. "Karena masalah menang kalah bukan tergantung dari elektabilitas namun bagaimana memobilisasi masa pendukung untuk datang ke TPS untuk memberikan hak suaranya. Itu bagian yang penting," ujarnya.
Selain itu Fajar melanjutkan, untuk memenangkan Pilpres 2019, strategi dan isu yang dimainkan juga memiliki peran penting. "Strateginya apa dan isu yang dikembangkannya apa. Kalau kita tahu masa pemilihnya seharusnya bisa memobilisasi masa untuk datang ke TPS menyalurkan hak pilihnya," imbuhnya.
Fajar menuturkan karena itu kubu Prabowo-Sandi harus memainkan isu-isu yang baru sebab isu yang dimainkan adalah isu yang terlalu lama. "Isu yang dimainkan kubu Prabowo-Sandi sudah terlalu lama. Jadi butuh isu-isu kreatif yang harus dimunculkan. Dengan isu-isu pembaruan supaya dinamika bisa berjalan lebih dinamis," ucapnya.
Fajar menambahkan isu yang harus dimunculkan yang bisa meningkatkan elektabilitas kubu Prabowo-Sandi adalah isu terkait ekonomi, isu bahan pokok, isu kemiskian dan isu penggangguran.
"Jelas isu yang harus dimainkan isu ekonomi. Namun isu tersebut harus dikemas secara lebih kreatif agar isu tersebut efektif. Karena kalau dilihat dari permasalahan yang ada berdasarkan hasil survey disitu ada isu kebutuhan bahan pokok yang tidak stabil dan isu kemiskinan dan pengangguran. Isu yang lainnya tidak begitu signifikan untuk dimainkan," terangnya.
Data itu sendiri diperoleh dari survei pada 3-8 Maret 2019 dengan 1.220 responden secara nasional yang diwawancarai tatap muka. Adapun metode yang digunakan adalah multistage random sampling, dengan margin of error kurang lebih 2,9 persen. (Zat)







