Jakarta, Harian Umum- Polri kembali menuai kritik akibat statemen Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Argo Yuwono yang terkesan menganggap sepele perilaku S (16), pemuda keturunan yang mengancam akan membunuh Presiden Jokowi dan membakar rumahnya.
Ancaman itu diketahui berdasarkan video pelaku yang menjadi viral di media sosial.
"Ini bukan rasis .... yang menghina Jokowi itu anak konglomerat Cina. Bikin lucu-lucuan dan ngetes polisi. Coba kalau pribumi pasti dibilang teroris. ... langsung ditangkap, melawan didor densus 8delapan," kata akun @fifa_fifi88, Kamis (24/5/2018).
"Kalau aparat penegak hukum tidak melakukan tindakan hukum kepada pelaku dengan alasan masih anak-anak dan karena sekedar lucu-lucuann, maka hancur sudah hukum di negeri ini. Keberpihakan untuk satu golongan," ujar @Ronin1948
Video remaja keturunan itu viral dalam tiga hari terakhir. Dengan bertelanjang dada, remaja berkacamata itu menenteng-nenteng foto Presiden Jokowi dan memaki serta menghinanya.
Dia antara lain mengatakan begini: "Jokowi gila ....! Gue tembak lu! Gue bakar rumah lu! Gue tunggu lu dalam 24 jam! Kalau lu gak datengin gue, gue yang datengin lu!"
Pemuda berinisial S itu ditangkap polisi pada Rabu (23/5/2016) malam.
Kepada pers, Kamis (24/5/2018), Agro mengatakan kalau saat diperiksa penyidik, remaja itu mengaku membuat video itu karena ditantang temannya saat sedang berkumpul.
"Jadi, pada intinya yang bersangkutan adalah anak di bawah umur, 16 tahunan, dan ini merupakan kenakalan remaja. Kenapa? Ya, karena pada saat dia berkumpul dengan temannya, dia mengatakan bahwa 'kamu berani enggak kamu? Nanti kalau berani kamu bisa enggak ditangkep polisi'," katanya.
Agro menilai, dengan apa yang dilakukan itu, S dan temannya ingin membuktikan apakah aparat kepolisian bisa menemukannya.
Kepada polisi, S mengaku tak tahu kalau apa yang ia perbuat akan berujung seperti ini.
"Jadi, mengetes ini berdua, mengetes polisi. Kira-kira polisi mampu tidak menangkap dia. Jadi, anak-anak ini bercanda lucu-lucuan, tapi dia tidak tahu efeknya di sana dan kemudian akhirnya polisi juga bisa mengetahui siapa dia," katanya.
Argo juga mengatakan kalau pelaku menyesali perbuatannya.
"S berkata sama sekali tak punya maksud melakukan itu. Dia tidak bermaksud untuk menghujat bapak presiden dan dia juga tidak membenci presiden. Jadi, intinya dia hanya lucu-lucuan dengan teman-temannya untuk berlomba itu. Artinya bahwa dia ingin mengetes apSebeluakah polisi mampu menangkap," kata Argo.
Argo mengaku, dari pengakuan S diketahui kalau video dibuat tiga bulan lalu, dan tidak pernah diberikan kepada orang lain.
"Video itu baru sekali ter- upload di media sosial, yakni di akun instagram @jojo_ismayname," katanya.
Agro mengaku, polisi akan memeriksa perekam video itu.
Sebelumnya, keterangan Agro terkait sebuah kasus kerap memicu polemik. Ia pernah mengatakan kalau penyerangan terhadap ulama di Jawa Barat adalah orang gila, dan terakhir mengatakan kalau dua bocah warga Pademangan, Jakarta Utara, yang meninggal di Monas bukan korban pembagian sembako oleh Forum Untukmu Indonesia.
Hal ini membuat berbagai kalangan, termasuk Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid meminta agar polisi jangan memberi kesimpulan terlalu cepat sebelum suatu kasus diselidiki secara mendalam. (rhm)






