SAMPAH dan kemarau dapat mempengaruhi kualitas hidup warga Jakarta, sehingga harus ditangani dengan tepat dan efektif.
---------------------------
Oleh: Tobaristani
Aktivis senior sekaligus mantan Ketua FKDM DKI Jakarta
Jakarta merupakan kota metropolitan yang sibuk, padat, dan menjadi barometer bagi provinsi lain. Sebagaimana halnya kota-kota besar dunia, Jakarta juga menghadapi permasalahan yang cendrung kompleks dan klasik akibat laju pertumbuhan penduduk, aktivitas keseharian masyarakatnya, dan kegiatan ekonomi serta bisnis.
Dua persoalan yang menurut penulis menjadi ancaman serius bagi kota dengan penduduk 11 juta jiwa lebih ini di antaranya adalah sampah dan kemarau, karena keduanya bukan hanya dapat mempengaruhi kualitas hidup warga Jakarta, tapi juga dapat mengancam keberlanjutan lingkungan dan ekonomi wilayah itu.
Sampah: Masalah yang Tak Kunjung Usai
Setiap hari penduduk Jakarta menghasilkan lebih dari 7.900 ton sampah, akan tetapi sistem pengelolaannya masih jauh dari ideal. Hal ini dapat dilihat dari masih adanya tempat pembuangan sampah yang tidak memadai, sehingga meski Jakarta merupakan kota global, kadang masih ditemukan sampah yang bertebaran di jalan, sampah yang memenuhi sungai, dan sampai yang mencemari laut.
Jakarta sebenarnya telah melakukan berbagai upaya untuk mengatasi permasalahan ini. Misalnya, setelah gagal membangun ITF (Intermediate Treatment Facility) di Cilncing, Jakarta Utara, dibangunlah RDF (Refuse-Derived Fuel) Plant di Rorotan, Jakarta Utara, akan tetapi sayangnya pembangunan pengolahan sampah modern ini justru memuai penolakan masyarakat karena menimbulkan polusi bau yang tak sedap.
Di sisi lain, Pemprov DKI Jakarta juga telah memperpanjang kontrak kerjasama pengelolaan TPST Bantar Gebang dengan Pemkot Bekasi hingga tahun 2031, akan tetapi 8.000 ton sampah Jakarta yang dibuang ke sana harus melalui tahapan-tahapan yang membuatnya tidak bisa langsung dibuang di TPST Bantar Gebang.
Merujuk pada essai Mahar Prastowo, sampah warga Kecamatan Makassar, Jakarta Timur, yang akan dibuang ke TPST Bantar Gebang misalnya, setelah truk mengangkat sampah dari Kecamatan Makassar, truk berhenti dulu di Kramat Jati, lalu Jatinegara, dan antre lagi di sana sebelum menuju Bantar Gebang.
"Seperti estafet, seperti antrean panjang yang tidak pernah benar-benar putus, dan setiap "titik berhenti", itu bukan sekedar "titik, melainkan menjadi tempat baru bagi masalah bau, lindi, keluhan warga, dan potensi konflik," kata Mahar.
Berdasarkan fakta itu, Mahar menyimpulkan bahwa masalah penanganan sampah di Jakarta bukan lagi masalah angkut, melainkan menunggu akibat proses estafet tersebut.
Kemarau: Ancaman bagi Sumber Air
Pemanasan global yang memicu perubahan iklim membuat wilayah-wilayah di Indonesia, termasuk Jakarta, mengalami kemarau basah atau musim kemarau di mana hujan tetap turun meski mungkin tidak seintens saat musim hujan.
Meski demikian, perubahan iklim yang juga memicu anomai cuaca, membuat cuaca di banyak wilayah di Indonesia, termasuk Jakarta, sangat ekstrem, sehingga panas yang dirasakan kala siang hari jauh lebih terik dibanding ketika belum terjadi perubahan iklim.
Pada 9-11 Maret 2026 misalnya, BMKG mencatat suhu di Jakarta berada pada level 31-33 derajat Celsius.
Kondisi ini tentu saja membuat Jakarta tetap diintai banjir selama kemarau basah berlangsung, dan berpotensi mengalami krisis air jika suhu ekstrem terjadi terus menerus, karena air tanah dapat menyusut, dan debit air sungai yang digunakan oleh PAM Jaya untuk diproses menjadi air bersih, berkurang.
Kondisi ini bisa membuat krisis air makin parah mengingat selama inipun tak sedikit kegiatan industri, baik pabrik maupun perhotelan, yang menggunakan air tanah secara berlebihan, sehingga terjadi intrusi air laut atau masuknya air laut ke daratan sebagaimana terjadi di Jakarta bagian utara dan barat, dan air tanah menjadi tak layak konsumsi.
Di sisi lain, panas ekstrem juga dapat meningkatkan kasus kebakaran, terutama di.pemukoman.padat penduduk.
Apa yang Bisa Kita Lakukan?
Tentu, tak ada masalah tanpa solusi. Masalah sampah dapat diantisipasi dengan keinginan kuat para stakeholder, khususnya Dinas Kesehatan, untuk dapat membangun pusat pengelolaan sampah modern yang clear and clean, sehingga dapat beroperasi tanpa masalah.
Pemprov DKI Jakarta melalui Dinas Kebersihan juga perlu memangkas "ritual" pengiriman sampah ke Bantar Gebang agar sampah cepat tiba di tempat pembuangan akhir itu, dan mendorong masyarakat untuk cerdas dalam mengelola limbah domestiknya dengan menerapkan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle) secara efektif.
Kita tidak bisa menghentikan dinamika alam yang memicu munculnya panas ekstrem, akan tetapi kita bisa melakukan Save The Water dengan menghemat air, dan menghentikan penggunaan air tanah secara tidak terkendali oleh industri.
Tentu, pada titik ini perlu kerjasama yang sinergis antara Pemprov DKI Jakarta dengan masyarakat dan pelaku industri. Pemprov DKI Jakarta jangan sungkan atau tebang pilih dalam menegakkan aturan ketika menemukan fakta bahwa ada pelaku industri yang menggunaan air tanah secara berlebihan, apalagi ilegal.
Pemprov DKI juga harus tegas ketika melihat warga yang membuang sampah secara sembarangan.
Mari Jaga Jakarta!
Sebagai warga Jakarta, kota ini adalah rumah bagi kita semua. Ketika rumah bersih, teduh, kebutuhan akan air pun terpenuhi dengan baik, tentu kita merasa nyaman tinggal di kota ini.
Kita semua punya peran yang sama pentingnya untuk.menciptakan kondisi itu, dan menjaganya agar tidak tergelincir menjadi kota yang bau dan kering kerontang.
Mari bergandengan tangan dan satukan tekad, karena kita telah sepakat bahwa Jakarta adalah Kota Global.
Kita harus membuat kota ini bebas dari permasalahan sampah, dan tidak pernah mengalami krisis air bersih.
Mari mulai, jangan tunggu lagi.(*)







