Jakarta, Harian Umum - Mantan Sekretaris BUMN Muhammad Said Didu mengatakan, Prabowo Subianto dapat memimpin bangsa ini dengan benar, jika dia dapat memperlihatkan empat tanda-tanda dalam kepemimpinannya.
"Kalau tanda-tanda ini terlihat, saya yakin semua prajurit dan mantan prajurit yang hadir di sini, yang tentunya memegang teguh Sapta Marga dan menggenggam erat sumpah prajurit, juga saya secara pribadi, akan berdiri di belakang Prabowo untuk mendukung pemerintahannya," kata Didu dalam acara Silaturahmi Purnawirawan TNI dengan Tokoh Masyarakat yang diselenggarakan Forum Purnawirawan Prajurit TNI (FPP TNI) di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara, Kamis (17/4/2025).
Said Didu membeberkan keempat tanda yang dia maksud, yakni:
1. Setop selingkuh dengan Solo dan oligarki.
"Karena kalau perselingkuhan ini berlanjut, negara bisa masuk jurang," katanya.
2. Memberantas korupsi dengan tindakan yang nyata, bukan omon-omon.
"Faktanya sekarang ini di lapangan janji memberantas korupsi tidak dikerjakan. Kasus Pertamina tenggelam. Saya tahu siapa yang menenggelamkan. Bahkan kasus PIK-2 tidak bisa diselesaikan. Penanganan pagar laut tidak tuntas, karena tidak menyentuh siapa otaknya," kata dia
3. Penegakan hukum yang seadil-adilnya, karena penyidik, penuntut dan hakim terlibat korupsi, sehingga patut diduga aparat penegak hukum telah menjadi sarang korupsi.
"Kalau Pak Prabowo tidak bisa mengatasi ini saya menduga Pak Prabowo takut terhadap oligarki dan Solo," kata Didu.
4. Kembalikan sumber daya alam (SDA) yang diambil asing, aseng dan oligarki di berbagai daerah di Indonesia.
"Kami mengapresiasi Pak Prabowo telah mencoba mengambil alih lahan sawit seluas 1,2 juta hektar, dan saya mendapat informasi ada 5 juta lahan sawit yang ilegal. Bapak bisa bayangkan dari 15 juta lahan sawit, 5 juta di antaranya ilegal," tegas Didu.
Ia berharap, setelah berupaya mengambil alih 1,2 juta lahan sawit, Prabowo melanjutkan dengan pengambilalihan tambang, karena menurut perhitungannya, jika dalam kasus lahan sawit pelanggarannya sebesar 30%, ia.memperkirakan jumlah tambang bermasalah lebih dari itu.
"Tapi Bapak dan Ibu mungkin sudah tahu mengapa Prabowo belum masuk (untuk menangani kasus tambang), karena para pemain tambang ada di sekitar presiden, dan sebagian besar pemain tambang adalah Geng Solo," tegasnya.
Didu mengaku tidak heran mengapa semakin hari kordinasi Solo semakin meningkat karena semakin banyak menteri, semakin banyak mantan pejabat dan gubernur yang datang ke Solo. Bahkan ada seorang mantan Pangdam diajak seorang gubernur menghadap mantan presiden.
Karena hal ini, Didu meyakini sedang ada "2 Matahari Kembar" di Indonesia, dan ia mencemaskan hal ini.
'Saya tak tahu negara ini mau dibawa kemana dengan adanya Matahari Kembar itu. Karenanya, kalau Pak Prabowo bisa memperlihatkan empat tanda yang saya sebutkan tadi, saya akan berada dibelakang Pak Prabowo, juga saya yakin para prajurit dan mantan.prajurit, serta tokoh masyarakat yang ada di sini," pungkasnya. (rhm)


