Jakarta, Harian Umum-Menjadi Sekretaris Daerah DKI Jakarta pada 2014, Saefullah menempati jabatan puncak di lingkungan birokrasi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Presiden Joko Widodo, saat menjabat Gubernur DKI Jakarta pada 2014 lalu mengangkat Saefullah untuk mengendalikan birokrasi yang cukup besar di Jakarta.
Pada Juli 2014 lalu, Saefullah dilantik Basuki Tjahaja Purnama yang saat itu menjadi Pelaksana Tugas (Plt) gubernur menggantikan sementara Gubernur DKI Jokowi yang kala itu cuti karena maju dalam Pilpres 2014. Berganti kepemimpinan, Saefullah tetap dipercaya menjadi Sekda DKI Jakarta hingga menghembuskan nafas terakhirnya, Rabu (16/9) pukul 12.55 WIB di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta Pusat.
Berkali-kali diserang lawan politik sang Gubernur, siapapun itu, Saefullah tak bergeming. Terlebih, saat Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) memimpin kota Jakarta. Sosok Saefullah sangat strategis meredam politik panas antara Ahok dan DPRD DKI Jakarta. Begitupun saat Djarot Syaiful Hidayat menakhodai roda pemerintahan. Saefullah selalu menjembatani komunikasi antara eksekutif dan legislatif.
Saat Pilkada 2017 lalu, Saefullah tidak tertarik mengikuti pesta demokrasi menjadi salah satu peserta pemilihan. Kala itu, birokrasi yang turut bertarung dalam Pilkada 2017 adalah Sylviana Murni yang berpasangan dengan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), namun kandas. Alhasil, terpilihlah Anies Baswedan-Sandiaga Uno sebagai Kepala Daerah.
Gubernur DKI Jakarta terpilih saat itu, Anies Baswedan itu pun masih mempercayakan Saefullah untuk menjadi Sekda DKI Jakarta. Anies menilai bahwa kinerja Saefullah memuaskan, sehingga masa jabatan sebagai Sekda akhirnya diperpanjang.
"Sejauh ini beliau juga menjalankan tugasnya dengan baik. Insya Allah roda pelayanan untuk masyarakat, kegiatan kolaborasi dengan masyarakat bisa berjalan terus dengan baik," kata Anies di Monas, Jakarta Pusat, Minggu (21/7/2019).
Seperti gubernur DKI Jakarta sebelumnya, Anies Baswedan pun menjadi sasaran empuk serangan politisi di Kebon Sirih. Terutama saat pembahasan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) DKI Jakarta, Anies dianggap tidak transparan. Namun, Saefullah kembali pasang badan untuk bosnya. Menurutnya, pembahasan anggaran saat itu selalu sama dengan pemerintahan sebelumnya.
"Jadi dituduh kalau kita sebagai tidak transparan, itu salah besar. Karena yang kita lakukan sekarang ini persis sama dan sebangun dengan apa yang kita lakukan dahulu, tidak ada yang diumpet-umpetin," kata Saefullah, Jakarta, Kamis (7/11).
Cemerlangnya karir pria kelahiran 11 Februari 1964 itu tercium Jokowi saat menjadi Wali Kota Jakarta Pusat. Dia merupakan putra asli Betawi, yang juga memimpin sebagai Ketua PWNU DKI Jakarta. Saefullah menjabat sebagai Walikota Jakarta Pusat sejak tahun 2010 hingga 2014.
Sebelum itu, Saefullah pernah menjadi Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga pada 2009-2010, Wakil Kepala Dinas Pendidikan pada 2008 dan jauh sebelumnya berkarir menjadi guru.
Saat mendaftar sebagai PNS, ia masuk dengan ijazah SMA tahun 1984 dan langsung menjadi guru dengan golongan 2A. Lalu ia menyelesaikan pendidikan SI tahun 1988 di IKIP Muhammadiyah Jakarta. Melanjutkan S2 di Universitas Negeri Jakarta lulus tahun 2000, kemudian menyelesaikan S3 tahun 2009 di Universitas Padjajaran Bandung.
Kini, sosok yang ramah terhadap beragam kalangan itu telah tiada. Semoga, Bang Ipul mendapatkan tempat yang layak di sisiNYa. Ke depan, menjadi pekerjaan rumah bagi Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan untuk memilih pengganti Saefullah sebagai Sekda DKI Jakarta. Pengganti yang bisa menjembatani komunikasi dengan siapa pun. Baik dengan pemerintah pusat, legislatif, organisasi kemasyarakatan, awak media, dan lainnya. (hnk)







