AMIEN RAIS menuai kritik karena tindakannya mengubah AD/ART Partai Ummat secara sepihak, tanpa melalui mekanisme partai, dan memberhentikan jajaran struktural partai dari tingkat DPP, DPW hingga DPD. ia bahkan terancam digugat oleh para pengurus DPW.
Oleh: Gamari Sutrisno
Salah satu Pendiri Partai Ummat
Di tengah dinamika politik yang kian brutal dan tanpa arah, nama Amien Rais dulu ibarat lentera dalam gelap. Ia adalah ikon reformasi, suara moral yang menggema di lorong-lorong kekuasaan. Namun, waktu dan kekuasaan sebagaimana lazimnya, kerap menggerus kejernihan hati, bahkan pada yang paling keras menyerukan perubahan.
Hari ini, dengan segala kerendahan hati dan keprihatinan mendalam, kita menyaksikan satu demi satu nilai luhur yang dulu diperjuangkan Amien Rais runtuh dalam kontradiksi dan arogansi politik yang ia pertontonkan sendiri.
Dari Reformis ke Otoriter Partai
Amien Rais sebenarnya hanyalah salah satu pendiri Partai Ummat yang dirintis, dibidani, dan dirikan oleh mantan kader PAN.
Partai Ummat didirikan dengan semangat menegakkan amar ma’ruf nahi munkar dengan slogan Melawan Kedzaliman dan Menegakkan Keadilan.
Namun, apa yang terjadi kemudian adalah ironi yang menyakitkan: partai yang digagas atas nama keadilan justru dijalankan dengan tangan besi dan selera kekuasaan yang memalukan. Di balik jubah moralitas, tersimpan ambisi pribadi yang tak lagi malu-malu untuk menyingkirkan para kader PU yang berbeda pandangan, mengkudeta suara akar rumput, dan memonopoli tafsir kebenaran.
Kesombongan yang Membutakan
Di usia senjanya, Amien Rais tampak lebih sibuk mempertahankan nama besarnya daripada menyemai kepemimpinan baru. Ia menutup telinga dari kritik, menolak musyawarah sejati, dan menistakan kader-kader muda yang tulus ingin membenahi. Kesombongan ini bukan sekadar kecacatan karakter; ini adalah bentuk pengkhianatan terhadap semangat reformasi yang dulu ia kobarkan.
Marwah yang Dirusak oleh Ulah Sendiri
Tidak ada kekuasaan yang abadi, tapi kehormatan bisa langgeng bila dijaga dengan kerendahan hati. Sayangnya, Amien Rais justru memilih jalan yang menghapus sendiri marwah yang ia bangun puluhan tahun. Apa artinya sejarah besar jika akhirnya diakhiri dengan pengabaian terhadap suara umat, kepentingan bangsa, dan nilai keadilan?
Kritik ini bukan kebencian. Ini adalah cinta yang menolak bungkam. Para reformis sejati tidak takut mengoreksi idola yang sudah menyeberang batas. Jika Amien Rais masih memiliki sisa kebijaksanaan dan kejujuran intelektual, inilah saatnya ia membuka diri, mundur dengan hormat, dan menyerahkan estafet perjuangan pada generasi yang lebih bersih dari kepentingan pribadi.
Sejarah akan mencatat, apakah ia memilih jalan kenabian yang penuh pengorbanan, atau jalan Firaun kecil yang mati-matian mempertahankan singgasana rapuhnya.
BILLAHI SABILIL HAQ
FASTABIKHUL KHAIRAT


