Jenewa, Harian Umum - Organisasi Meteorologi Dunia (WMO), Kamis (3/9/2026), mengeluarkan peringatan mengenai ancaman fenomena iklim El Nino yang diproyeksikan bakal berada pada tingkat sangat kuat, yakni pada tingkatan tertinggi dari empat level klasifikasi WMO, dan berlangsung hingga Februari 2027.
Puncak El Nino sendiri, menurut Badan Iklim PBB itu, bakal terjadi pada penghujung 2026, yang berdampak pada gangguan ekstrem pada pola curah hujan, gelombang panas, kekeringan parah, hingga bencana banjir di berbagai penjuru dunia.
Dikutip dari AFP, Kepala WMO, Celeste Saulo mengatakan, puncak pelepasan panas lautan ke atmosfer akan berdampak panjang hingga 2027, serta merusak tatanan sosial dan stabilitas ekonomi global.
Mengingat rekor tahun terpanas sebelumnya tercipta pada 2024 pasca-gelombang El Nino terdahulu, otoritas manajemen bencana di setiap negara didesak untuk segera mengambil langkah mitigasi cepat.
Sektor-sektor yang sangat bergantung pada kestabilan iklim, seperti pertanian, kesehatan, energi, dan pengelolaan sumber daya air, diminta meningkatkan kewaspadaan penuh guna mengantisipasi kegagalan panen serta kelangkaan pasokan esensial.
"Fenomena El Nino yang luar biasa ini berpotensi memberikan pukulan telak bagi masyarakat dan perekonomian di seluruh dunia. Kita sudah melihat gangguan dan kerusakan akibat kekeringan dan banjir, dan kita memperkirakan dampak ini akan meningkat seiring intensifikasi El Nino. Tidak ada waktu untuk disia-siakan dalam bersiap-siap," kata Saulo.
Penguatan El Nino terdeteksi melalui anomali kenaikan suhu permukaan laut di wilayah Pasifik khatulistiwa bagian tengah dan timur.
Data WMO mencatat, indeks anomali suhu bulanan telah melonjak dari 1,5 derajat Celsius pada periode Mei–Juli 2026 menjadi 2,2 hingga 2,6 derajat Celsius pada pertengahan Agustus. Ini di atas rata-rata normal. Bahkan, suhu bawah permukaan laut di beberapa titik Pasifik tercatat menembus 8 derajat Celsius, juga di atas rata-rata.
Peningkatan suhu laut ini diprediksi akan mengubah pola iklim global secara signifikan antara September hingga November. Ini dapat memicu kekeringan berkepanjangan di kawasan Amazon, Indonesia, dan Australia, mengganggu pergerakan angin monsun di India, serta mendongkrak suhu daratan global ke level ekstrem.
"Mengerikannya" dampak El Nino, membuat Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres juga memberi peringatan kepada penduduk dunia, khususnya bagi penduduk yang negaranya berpotensi terdampak.
"El Nino semakin membesar di depan mata kita. Ilmu pengetahuan tidak menyisakan ruang untuk keraguan, planet ini berada di wilayah yang belum dipetakan, dan wilayah tersebut semakin memanas. Suhu permukaan laut meningkat, suhu terus naik, dan dunia berada di zona bahaya cuaca ekstrem," kata Guterres dikutip dari AFP. (man)





