Depok, Harian Umum - Nusantara Centre meminta Presiden Prabowo Subianto segera melakukan sedikitnya tiga langkah penting dan strategis untuk membenahi kondisi bangsa ini yang jauh dari baik-baik saja.
Bahkan saat ini tengah terjadi amuk massa yang merusak dan menghancurkan fasilitas umum dan fasilitas negara seperti pembakaran halte TransJakarta, pembakaran kantor Polres Jakarta Timur, dan pembakaran gedung DPRD di Kota Surakarta dan Cirebon
Semua ini akibat perilaku anggota DPR/DPRD yang tidak lagi mewakili rakyat dan akibat ulah keolisiann yang tidak lagi menjadi pelindung dan pengayom masyarakat.
Sementara di sisi lain, kehidupan makin susah akibat kebutuhan hidup yang makin mahal, pekerjaan yang susah didapat, dan banyaknya perusahaan yang kolaps, bahkan bangkrut, sehingga terjadi gelombang PHK.
Aspek penegakan hukum pun buruk, karena tumpul ke sirke penguasa, terutama Geng Solo, dan sangat tajam ke rakyat
Amuk massa terjadi karena ada aksi menuntut DPR dibubarkan ada Kamis (288/2025), seorang pengemudi Ojol bernama Affan Kurniawan tewas dilindas Brimob dengan kendaraan taktis Barakuda.
"Situasi politik, ekonomi, dan sosial bangsa hari ini semakin menunjukkan bahwa negara sedang berada di persimpangan sejarah, mulai dari krisis ekonomi, cengkraman agensi neolib, kehancuran hukum, kuasa gelap di kabinet, amoralisme, sampai terbunuhnya rakyat kecil. Kita menyaksikan demokrasi hari ini telah direduksi menjadi sekadar prosedur elektoral tanpa substansi keadilan," kata Ryo Disastro saat membacakan pernyataan sikap Nusantara Centre, Sabtu (30/8/2025), setelah menggelar diskusi di salah satu kafe di Jalan Mergonda Raya, Depok, Jawa Barat.
Ia menyebut, oligarki menguasai ruang ekonomi dan politik, sementara negara yang seharusnya berdiri di atas Pancasila justru tunduk pada logika neoliberalisme.
"Kesenjangan melebar, rakyat ditekan dengan pajak tinggi, harga kebutuhan pokok melambung, sementara kedaulatan bangsa dijual murah kepada kepentingan modal asing. Elite kekuasaan hanya asyik berjoget tanpa empati dan mengabaikan jeritan rakyat kecil," imbuhnya.
Karena hal tersebut, Nusantara Centre menyatakan sikap sebagai berikut:
1. Turut berbelasungkawa atas meninggalnya Affan Kurniawan, salah satu anak bangsa yang menjadi simbol nyata kegagalan negara dalam melindungi warganya. Peristiwa ini bukan sekadar duka, melainkan alarm keras bahwa kekuasaan telah gagal menjalankan amanat konstitusi.
2. Menuntut Presiden Prabowo untuk segera memberantas praktik Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN) yang semakin telanjang terjadi di lingkaran kekuasaan. Rakyat sudah muak melihat elit memperkaya diri sendiri sementara kemiskinan dan pengangguran terus bertambah.
3. Menuntut Presiden mencopot tim ekonomi (Menteri Keuangan, Menko Perekonomian, Menteri BUMN) yang terbukti gagal menghadirkan kesejahteraan rakyat.
"Mereka sibuk menjaga kepentingan investor asing dan konglomerat, menaikkan pajak, merugikan BUMN, sementara harga beras, listrik, dan BBM menghantam dapur rakyat," kata Ryo.
4.;Nusantrra Centre juga meminta Presiden Prabowo mengevaluasi tim keamanan (Menkopolhukam, Panglima TNI, dan Kapolri) dan mencopot mereka karena gagal menciptakan rasa aman dan menjaga ketertiban.
"Ketika rakyat turun ke jalan, aparat justru menjadi alat represi, bukan pelindung rakyat," kata Ryo lagi.
5. Menyerukan tokoh-tokoh Pancasilais di seluruh penjuru tanah air untuk bersatu meminta Presiden keluarkan Dekrit Kembali Ke Pancasila dan Konstitusi Asli. Sudah saatnya suara moral bersatu menjadi satu gelombang, menyuarakan hati nurani rakyat yang hari ini ditindas oleh kebijakan yang timpang dan aparat yang represif.
6. Mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk membentuk Posko-Posko Perjuangan di kampus, desa, kota, dan ruang-ruang publik, guna mendukung gerakan mahasiswa dan rakyat yang kini menjadi lokomotif perlawanan. Perjuangan ini bukan milik segelintir, tetapi milik semua anak bangsa yang mendambakan keadilan sosial dan kedaulatan rakyat.
'Hari ini kita menyaksikan demokrasi telah direduksi menjadi sekadar prosedur elektoral tanpa substansi keadilan. Oligarki menguasai ruang ekonomi dan politik, sementara negara yang seharusnya berdiri di atas Pancasila justru tunduk pada logika neoliberalisme. Rakyat ditekan dengan pajak tinggi, harga kebutuhan pokok melambung, sementara kedaulatan bangsa dijual murah kepada kepentingan modal asing," sambung Ryo.
Nusantara Centre menegaskan, bila Presiden tidak segera mengambil langkah tegas, maka gelombang perlawanan rakyat akan makin besar dan tak terbendung.
"Rakyat tidak lagi membutuhkan janji, rakyat menuntut tindakan nyata," pungkas Ryo
Berikut jajaran Nusantara Centre yang akan terus bersuara hingga Presiden Prabowo melakukan apa yang seharusnya dia lakukan:
- Yudhie Haryono
- Agus Rizal
- Ryo Disastro
- Setiyo Wibowo
- Asy'ari Muchtar
- Yaya Sunaryo
- Irma Syuryani Harahap
- Yeyen Kiram
- Didik Irinto
- Faisal Wibowo
- Adi Sucipto (Rakyat Petani Indonesia Tengah dan Timur)
- Syani N Januar
- Naryana Indra P
(man)







