Bogor, Harian Umum - Sekitar 100 mahasiswa dari berbagai kampus yang tergabung dalam Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI), Kamis (30/1/2025), bentrok dengan polisi setelah gagal menggelar aksi di depan Istana Bogor, Jawa Barat, karena diblokade polisi dengan pagar kawat di Jalan Sudirman, Kota Bogor, sekitar 100 meter dari Istana.
Mereka mengkritik Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wapres Gibran Rakabuming Raka yang dinilai hanya omon-omon, karena dalam 100 hari kinerjanya pasca dilantik pada tanggal 20 Oktober 2024, banyak persoalan yang ditinggalkan Presiden Joko Widodo alias Jokowi (2014-2024) yang tidak ditangani dan diselesaikan.
Aksi ini bahkan diberi tajuk Catatan Hitam 100 Hari Pemerintahan Prabowo - Gibran.
Mahasiswa ini berasal dari tujuh kampus, di antaranya dari Institut Pertanian Bogor (IPB), UNJ, dan STAI Al Hidayah Bogor.
"Lihatlah teman-teman, kita diblokade di sini, kita tidak diperkenankan mendekati Istana, karena mereka tak ingin orang-orang di Istana mendengar aspirasi kita!" kata seorang mahasiswa berjaket hijau dalam orasinya.
Mahasiswa mengingatkan polisi bahwa mereka adalah aparat penegak hukum, bukan bertugas melindungi pemerintahan yang zalim.
"Satu kata dari kami, Pak, lawan!" tegas mahasiswa.
Di seberang pagar kawat berduri yang memblokade mahasiswa, puluhan polisi membuat lima lapis pagar betis, seolah siap menghalau jika mahasiswa berani merusak pagar kawat itu dan menyerbu ke Istana.
Di awal-awal aksi, terlihat beberapa mahasiswa membungkus pagar kawat dengan spanduk yang dibawa agar dapat menyeberangi pagar kawat itu, akan tetapi polisi segera meminta agar aksinya dihentikan, dan setelah beberapa saat berdebat, mahasiswa terlihat mengalahkan dan meneruskan aksi dengan dibatasi pagar kawat.
Spanduk yang mereka bawa di antaranya bertuliskan "Kabinet Omon-Omon" dan "Negeri Agraris, Petani Miris".
Mahasiswa dari IPB dalam orasinya mengeritik berbagai persoalan yang saat ini sangat menyusahkan rakyat, seperti kenaikan PPN menjadi 12 persen, pemagaran laut di Kabupaten Bogor, dan juga ketidakmampuan pemerintah dalam menjaga lahan-lahan pertanian akibat lebih mengedepankan investasi, sehingga lahan pertanian beralih fungsi menjadi menjadi kawasan perumahan, pusat perbelanjaan dan industri, dan pemerintah impor bahan pangan gila-gilaan, sehingga petani lokal tergerus.
"Lalu untuk apa ada institut pertanian? Untuk apa kita disebut sebagai negara agraris?" tanyanya.
Mahasiswa juga mengeritik kebijakan pemerintah yang mengizinkan kampus mengelola tambang yang dianggap sebagai bentuk intervensi terhadap kampus agar kampus tak lagi bersuara kritis, dan mengeritik eksistensi oligarki yang sepertinya sangat berkuasa di Indonesia, sehingga apapun bisa dilakukan tanpa dapat tersentuh hukum, sementara rakyat menjadi korban sebagaimana yang terjadi di Rempang dan Kabupaten Tangerang.
Di Rempang, rakyat digusur demi pabrik kaca dengan investor dari China, sementara di Kabupaten Tangerang, rakyat terancam dimiskinkan secara sistematis oleh pengembang PIK-2, karena tanahnya dihargai sangat murah, hanya Rp30.000 hingga Rp50.000/meter dan mereka diintimidasi jika menolak melepas tanahnya
"Kalau kita tidak bersuara, kalau kita tidak melawan, siapa lagi?!" teriak mahasiswa.
Dalam aksinya, Aliansi BEM SI juga meneriakkan yel-yel khas mahasiswa, seperti "Hidup Mahasiswa!", "Hidup Perempuan yang melawan!"
Setelah sekitar 3 jam menggelar aksi, tetapi polisi tak juga mengizinkan mereka mendekati Istana, akhirnya mahasiswa menjadi tak sabar. Mereka menerobos kawat berduri dan berusaha mendorong polisi agar bubar dari posisi pagar betisnya, akan tetapi polisi terlalu kuat untuk diterobos, sehingga setelah beberapa menit saling dorong, akhirnya orator meminta mahasiswa mundur dua langkah, dan mereka mundur.
Terjadi negosiasi. Polisi menjelaskan, di Istana Bogor tidak ada siapa-siapa. Prabowo dan Gibran pun tak ada karena semuanya berkantor di Istana Negara di Jakarta.
Perdebatan yang lumayan panjang pun terjadi, dan tak lama kemudian mahasiswa kembali mendorong polisi untuk dapat menerobosnya.
Kali ini bentrok dengan bentuk saling dorong itu lebih keras, tapi lagi-lagi mahasiswa tak berhasil menembus, dan malah terdorong parah sehingga mahasiswa kalang kabut.
"Stop! Stop!" teriak seorang polisi.
Sadar bahwa takkan dapat menerobos blokade polisi dan mendekati Istana Bogor, Aliansi BEM SI memutuskan untuk mundur, tapi berjanji akan kembali lagi dengan massa yang jauh lebih besar. (rhm)


